Praktisi HR di Bali Dituntut Memahami Mental Wellness

Badung, IDN Times – Pelaku pariwisata Sumber Daya Manusia (SDM) di Bali diharapkan dapat memahami potensi generasi muda saat ini dalam dunia kerja, serta dorongan untuk memaksimalkan peran teknologi untuk menunjang performa mereka. Chair Person Human Resourses Assosiation (HRA) Bali, Vira Risnayani, mengatakan sekitar 350 orang, yang merupakan pelaku pariwisata di bidang SDM di Bali, tergabung dalam anggota asosiasi HRA ini.
Mereka telah dibekali berbagai pelatihan, terutama dalam mengelola generasi muda saat ini. Mereka terstandarisasi dan bersertifikat kompetisi dasar sesuai dengan standar kompetensi nasional yang dikeluarkan oleh BNSP.
“Harapan kami, Bali sebagai pusat atau hub dari manajemen talenta sumber daya manusia hospitality di Indonesia, bisa jadi lebih berfungsi sebagai panutan, best practice dan juga future practice dari peningkatan SDM manusia di bidang hospitality,” ungkapnya.
1. Praktisi HR harus memperhatikan mental wellness

Permasalahan kesehatan mental atau mental wellness dalam dunia kerja, menurut Vira Risnayani, sangat berhubungan dengan maturity level atau level kematangan. Dalam hal ini, praktisi HR dituntut mengedepankan mental wellness di tempatnya bekerja. Selain itu perlunya membangun kesadaran, bahwa cara belajar dari generasi muda saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Sehingga praktisi HR harus mampu bersikap proaktif dalam melihat potensi apa yang bisa ditingkatkan dari kondisi mental wellness yang ada di generasi muda saat ini.
"Kami mengimbau dan terus mempromosikan untuk praktisi HR di setiap organisasi mengedepankan mental wellness sebagai program dari engagement dalam setiap perusahaan," ungkapnya.
2. Generasi muda dilengkapi dengan potensi teknologi

Praktisi HR juga harus menyadari, bahwa generasi saat ini dilengkapi dengan potensi teknologi. Mereka memiliki modal wisdom intelegensi yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Sehingga cara yang paling tepat dalam pengelolaannya adalah fokus kepada kebutuhan generasi tersebut, yakni mental wellness.
"Mereka bisa jauh lebih produktif daripada kita karena mereka memiliki modal teknologi. Yang perlu dilakukan adalah kita bisa mengambil dari potensi tersebut," katanya.
3. Pengamat ekonomi sarankan penggunaan AI

Sementara itu Pengamat Ekonomi, Trisno Nugroho, mengatakan di era digitalisasi saat ini teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin canggih. Keberadaan teknologi ini bisa dimanfaatkan oleh industri hospitality dalam hal efisiensi. Ia melihat tahun 2025 juga bukan tahun yang mudah. Namun demikian Indonesia, terutama Bali, ia memastikan ekonominya tetap bertumbuh sebagaimana proyeksi UN Tourism akan banyak orang yang bepergian.
"Jadi AI itu harus menjadi produktif," ungkapnya.



















