Menteri Investasi Pastikan Proyek PSEL di Bali Tidak Mangkrak

- Menteri Investasi Rosan Roeslani optimis proyek PSEL Bali tak akan mangkrak, dengan dukungan Danantara dan Weiming China untuk memastikan pembangunan tepat waktu serta berdampak positif bagi pariwisata dan ekonomi.
- Menko Pangan Zulkifli Hasan menyebut PSEL memakai teknologi insinerator berkapasitas 1500–2000 ton per hari dengan klaim nol emisi, serta menjadi bagian dari rencana pembangunan 24 fasilitas serupa di Indonesia.
- Gubernur Bali Wayan Koster menilai PSEL sebagai langkah transformasi pengelolaan sampah menjadi energi bersih listrik, menargetkan penyelesaian akhir 2027 guna atasi masalah sampah Denpasar dan Badung.
Denpasar, IDN Times - Rekam jejak proyek penanganan sampah di Bali sejak zaman PT NOEI hingga masa G20, pengelolaan sampah di Kesiman Kertalangu yang gagal, membuat sejumlah masyarakat khawatir akan adanya PSEL di Bali.
Sebelumnya, masyarakat adat Pesanggaran, Kecamatan Denpasar Selatan, menolak pembangunan PSEL di kawasan ini sebab khawatir terhadap dampak kesehatan dan lingkungan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Republik Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, mengaku optimis bahwa proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) tidak akan mangkrak.
“Jaminannya adalah yang mengerjakan adalah Danantara dan kita tidak pernah mangkrak,” ujar Rosan di area peresmian PSEL, Denpasar, pada Rabu (8/7/2026).
1. Kerja sama dengan mitra untuk kelancaran proyek

Rosan mengatakan, proyek PSEL dengan pelaksana dari Weiming China untuk memastikan pembangunan sesuai rencana, dari segi waktu dan operasional.
“Kalau bisa kita lebih cepat lagi pembangunan dari target-target yang ada, sehingga ini bisa memberikan dampak yang baik, yang positif terhadap Bali,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan PSEL akan berdampak baik bagi Bali sebagai pintu utama pariwisata Indonesia. Termasuk berdampak terhadap kualitas pariwisata dan perekonomian di Indonesia.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi lintas Kementerian RI dan Forkopimda serta Danantara untuk melaksanakan proyek ini. Rosan berharap PSEL akan rampung pada akhir tahun 2027.
“Ini akan berdampak bagus sekali tidak hanya pengelolaan sampah tapi dari segi lingkungan, kesehatan, kebersihan penanganan kebakaran TPA,” imbuh Rosan.
2. PSEL diklaim menghasilkan nol emisi

Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, mengklaim proyek ini menggunakan teknologi insinerator dengan kapasitas 1500-2000 ton per hari.
“Semua nanti hasilnya yang 1000 ton lebih itu tidak ada sisa, menghasilkan zero emisi, bersih,” kata Zulkifli.
Pihaknya sebagai koordinator proyek PSEL di Indonesia telah melakukan penyederhanaan regulasi. Zulkifli juga mengatakan pihaknya akan menerima pengaduan hambatan dari pelaksana proyek maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.
“Kita bagian ngawal, kalau ada hambatan baru rapat. Kalau lancar, ya silakan lanjut,” katanya.
Setelah proyek PSEL di Bali akan ada delapan lagi, menyusul 24 fasilitas PSEL yang akan dibangun dan diresmikan dengan klaim penyelesaian sampah 22 persen. Menurutnya, proyek penanganan sampah ini harus segera terlaksana sebab kondisinya sudah darurat, seperti di Bantar dan Jatiwaringin.
3. Koster sebut PSEL sebagai transformasi pengelolaan sampah

Menurut Gubernur Bali, Wayan Koster, adanya PSEL di Bali sebagai transformasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik.
“Sejarah pada hari baik ini, sejarah transformasi pengelolaan sampah menjadi energi bersih listrik, dimulai dari Bali,” kata Koster.
Gubernur Bali dua periode ini berharap PSEL selesai dibangun sesuai target yaitu akhir 2027. Target utamanya untuk menyelesaikan masalah sampah di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, dengan kapasitas minimum 1200 ton per hari.
“Apa yang kita hadapi selama ini yang ruwet, bikin muka Pak Bupati Badung dan Pak Walikota pucat mukanya karena terus bicara soal sampah mudah-mudahan kita sudah memiliki jalan yang baik menyelesaikan masalah sampah di Bali,” harapnya.


















