Orangtua: Wisuda Anak Meningkatkan Kepercayaan Diri Dalam Belajar

- Tradisi wisuda di jenjang pendidikan dasar dan menengah menuai pro dan kontra.
- Wisuda bisa menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan anak, namun juga menimbulkan beban finansial bagi orangtua.
- Pentingnya edukasi agar wisuda tidak hanya dipandang sebagai hasil semata, tetapi juga proses belajar yang berkelanjutan.
Denpasar, IDN Times - Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi wisuda dan acara perpisahan tidak lagi terbatas pada jenjang pendidikan tinggi. Dalam beberapa waktu terakhir, wisuda di jenjang pendidikan lebih rendah, menulai pro dan kontra.
Salah seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Denpasar Barat yang bernama Tri Widianti (42) mengatakan, momen wisuda dijenjang pendidikan dasar dan menengah memiliki sisi positif dan negatif. Jika memang hal tersebut dirasa perlu untuk mendukung kepercayaan diri anak dalam belajar, Tri menilai, wisuda di pendidikan dasar dan menengah bisa dilaksanakan.
"Secara emosional, tentu acara itu menyentuh dan berkesan. Tapi dari sisi finansial, kadang terasa jadi beban juga, terutama kalau biayanya cukup besar atau terlalu mewah," kata dia, Jumat (9/5/2025).
1. Wisuda sebagai penghargaan usaha anak dalam belajar

Sebagai orangtua, Tri menilai wisuda di jenjang pendidikan dasar dan menengah bisa juga menjadi bentuk apresiasi sebagai penghargaan atas keberhasilan anak-anak. Perasaannya berkecamuk antara bangga karena sang anak sudah menyelesaikan satu tahap pendidikan, dan juga haru karena terasa anak-anaknya bertumbuh dengan cepat.
"Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Tiba-tiba sudah waktunya dia melangkah ke jenjang berikutnya," ungkapnya.
Tri mengakui, dia memang tidak terlibat langsung dalam memutuskan agenda wisuda tersebut, karena biasanya sekolah anak-anaknya yang langsung menginformasikan bahwa akan ada wisuda.
"Kami sebagai orangtua hanya mengikuti saja. Kadang tidak benar-benar diajak berdiskusi, terutama soal biaya atau konsep acaranya," terangnya.
2. Wisuda meningkatkan kepercayaan diri anak

Tri juga menilai, wisuda dijenjang pendidikan dasar dan menengah akan memberikan pengalaman emosional yang positif buat anak tersebut, dan juga bisa meningkatkan kepercayaan diri si anak. Si anak akan merasakan momen usahanya dalam pendidikan dihargai.
Di sisi lain jika wisuda ini dibesar-besarkan, menurutu dia, malah kurang bagus karena bisa membuat si anak memiliki pola pikir bahwa hasil adalah segalanya. Mereka tidak akan berpikir bahwa belajar adalah proses yang berkelanjutan.
3. Orangtua berharap, sekolah tidak menjadikan wisuda sebagai ekspektasi

Lebih lanjut Tri mengatakan agar pihak sekolah juga mengedukasi siswanya bahwa wisuda tersebut bukanlah semata-mata hasil. Pihak sekolah juga agar mengajak diskusi orangtua sebelum perayaan kelulusan tersebut.
Oleh sebab dari sisi sosiologi, wisuda ini mencerminkan harapan masyarakat, sebagai simbol sejak dini. Tri mengungkapkan penghargaan kelulusan tersebut kemungkinan muncul dari orangtua siswa atau malah instansi pendidikan sendiri yang ingin menunjukkan pencapaian prestasi tertentu tanpa mempertimbangkan kondisi orangtua siswa lainnya.
"Jangan sampai momen wisuda itu untuk malah menjadi tekanan terselubung. Apalagi disertai tuntutan biaya besar dan ekspektasi tinggi dari sekolah tersebut," ungkapnya.



















