Paparkan Foto Gunungan Sampah Bali, Koster: Ini Perlu Kesadaran Kita

- TPA Suwung berhenti menerima sampah organik sejak 1 April 2026, membuat warga Denpasar dan Badung wajib mengelola sampah organik secara mandiri meski masih terkendala fasilitas dan sosialisasi.
- Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup telah menertibkan aksi pembakaran sampah yang viral di media sosial sebagai respons atas penumpukan sampah di berbagai titik.
- Dalam rapat DPRD Bali, Koster menunjukkan foto gunungan sampah dan menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan agar ekonomi pariwisata, infrastruktur, serta sistem transportasi dapat berkembang berkelanjutan.
Denpasar, IDN Times - Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung tidak menerima sampah organik sejak 1 April 2026 lalu. Masyarakat di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung harus mengelola sampah organik secara mandiri. Namun, ada sejumlah kendala seperti keluhan tidak ada sosialisasi, hingga fasilitas pengelolaan sampah organik yang tidak memadai.
Beredar juga tumpukan sampah di sejumlah titik Kota Denpasar. Video pembakaran sampah juga muncul di berbagai media sosial. Menanggapi hal itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali telah melakukan penertiban.
“Sudah ditertibkan oleh Kadis LH (Kepala Dinas Lingkungan Hidup),” ujar Koster di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali, pada Senin (6/4/2026).
Koster mengakui masalah sampah di Bali

Sebelumnya, Koster mengakui Bali menghadapi menghadapi masalah sampah dan persoalan lainnya sebagai imbas dari perkembangan pariwisata di Bali.
“Kemudian sampah juga semakin banyak, kerusakan ekosistem lingkungan, ancaman ketersediaan energi bersih,” kata Koster.
Selain masalah lingkungan, Koster tidak menampik Bali menghadapi masalah kriminalitas, hingga kesenjangan ekonomi antara wilayah pariwisata dan di luar pariwisata.
Tunjukkan gunungan sampah di Bali

Melalui pemaparannya di Ruang Sidang Utama Gedung DPRD Bali, Koster menunjukkan foto gunungan sampah di Bali. Mulai dari kawasan perkotaan, hingga di area pantai yang merupakan tempat wisata.
“Kayak gini nih kondisinya. Ini waktu Minggu lalu. Sudah kelihatan buruknya ini. Ini sengaja supaya ini menjadi kesadaran bagi kita semua betapa sampah harus kita kelola baik dengan ketegasan dan kebersamaan,” paparnya.
Koster singgung ekonomi membaik berdampak ke hal lain

Gubernur Bali dua periode ini mengatakan bahwa dengan menjaga ekonomi Bali, khususnya lokasi wisata secara maksimal, maka akan berdampak baik juga ke hal lainnya.
“Kalau saja kita menjaga ekonomi tempat wisata ini dengan baik, sampah berkurang dengan baik, infrastruktur bisa dibangun, transportasi bisa dibangun, dan sistemnya di luar negeri baik, saya kira harus maka inilah yang terus berkembang secara berkelanjutan ke depan,” paparnya.


















