Seperti halnya di berbagai daerah Indonesia, masyarakat Bali juga ada mitos secara turun-menurun. Mitos ini diyakini oleh masyarakat Bali sampai sekarang. Hampir mirip seperti di Jawa, berikut ini mitos masyarakat Bali:
5 Mitos Masyarakat Bali yang Diyakini Sampai Sekarang, Mirip di Jawa

1. Jangan potong kuku ketika senja atau malam hari
Masyarakat Bali mempercayai kalau potong kuku ketika senja atau malam hari akan menjauhi orangtua. Namun beberapa orang juga percaya, bahwa mitos itu dulunya diungkapkan untuk menghindari anak-anak terluka ketika potong kuku pada malam hari. Mengingat pada zaman dulu penerangannya masih sangat minim. Apalagi potong kukunya masih menggunakan pisau.
2. Jangan pernah menduduki bantal
Masyarakat Bali juga percaya kalau orang duduk di atas bantal dapat menyebabkan bisul. Padahal maksud dari mitos itu baik, yang mana secara estetika kurang baik jika menduduki bantal yang seharusnya digunakan di kepala.
3. Jangan menyisakan makanan, nanti ayam peliharaan mati
Mitos ini juga sangat populer di tengah masyarakat Bali dan kerap diutarakan ke anak-anak. Tujuannya tentu agar kamu tidak pernah menyisakan dan mensyukuri makanan.
4. Jangan melintas di bawah jemuran. Dipercaya akan mengurangi kewibawaan dan kepercayaan orang lain
Mitos ini juga sebenarnya erat kaitannya dengan estetika. Masyarakat Bali secara umum sangat mengedepankan estetika. Misalnya pakaian seperti celana, atau dalaman kurang pantas jika dijemur di tempat yang terlihat orang lain.
Orang yang melintas jemuran tersebut dipercaya akan mengurangi kewibawaan dan kepercayaan seseorang. Secara estika kurang baik jika berbagai pakaian yang dijemur itu mengenai kepala. Masyarakat Bali mengenal filosofi yang saling mengikat sebagai landasan dalam melihat ruang atau spasial. Badan manusia ada kaitannya dengan Tri Angga. Tri berarti tiga dan angga berarti badan.
5. Jangan menangisi orang meninggal karena dipercaya arwah mengalami halangan menuju alamnya
Mitos ini juga dipercaya sampai sekarang. Padahal maksud dari mitos ini agar orang yang ditinggalkan bisa ikhlas dan tabah menerima kenyataan bahwa keluarga atau kerabatnya pergi.
Itulah kumpulan mitos masyarakat Bali. Mirip banget kayak di Jawa ya. Apapun itu bentuk mitosnya, semua ada kaitan dengan estetika dan kebaikan.