Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Semangat Reog Ponorogo di Pulau Dewata Dijaga Tetap pada Pakemnya

Semangat Reog Ponorogo di Pulau Dewata Dijaga Tetap pada Pakemnya
Jeliteng, Reog Ponorogo hitam dan terbesar di Bali saat ini (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya Sih
  • Komunitas Bolo Reog Dewata di Bali menjaga pakem Reog Ponorogo sebagai warisan leluhur, dengan pertunjukan rutin dan suasana kebersamaan para perantau Jawa di Pulau Dewata.
  • Saat ini terdapat lima grup Reog Ponorogo aktif di Bali, termasuk Kridho Manggolo Bali yang telah mendapat pengakuan dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan rutin berlatih untuk pelestarian budaya.
  • Antusiasme generasi muda tinggi dalam melestarikan Reog Ponorogo, menepis stigma mistis lewat latihan intens dan pembinaan komunitas yang juga menjadi wadah kaderisasi seniman tradisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Badung, IDN Times - Bau dupa semerbak di salah satu sudut ruangan bangunan di Jalan Kayu Sugih Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Sabtu (23/5/2026) malam. Beberapa warga perantau berdatangan silih berganti.

Ada yang dari Kabupaten Gianyar, Kabupaten Tabanan dan wilayah Bali lainnya. Mereka kemudian duduk melingkar mengikuti rangkaian acara.

Di tengah-tengah kerumunan tersebut tersuguhkan nasi tumpeng dan beragam jajajan tradisional lainnya seperti kacang rebus, ubi rebus, dan jajanan pasar. Pertemuan Bolo Reog Dewata tersebut dibuka oleh Hartoyo Hardjo Soewito atau Yoyok Harness menggunakan bahasa Jawa halus, dan dilanjutkan lagu Indonesia Raya. Mereka kemudian makan bersama sebelum melanjutkan pertunjukan Reog Ponorogo sekitar pukul 20.40 Wita hingga pukul 22.47 Wita.

"Seni Reog ini lebih diharapkan untuk tetap menjaga pakem karena dari pakem tersebut ada simbol-simbol, filosofi dan syiar-syiar ajaran keleluhuran dari nenek moyang kami yang perlu ditransfer ke generasi berikutnya," ujar Hardjo.

1. Ada 5 grup Reog Ponorogo di Bali saat ini

Reog Ponorogo
Bolo Reog Dewata (IDN Times/Ayu Afria)

Penanggung jawab Kridho Manggolo Bali, Yunus Hari Warsito mengatakan, keberadaan Kridho Manggolo Bali ini sebagai salah satu grup pelestari Reog Ponorogo yang telah mendapatkan persetujuan dari Keraton Surakarta Hadiningrat pada 27 Desember 2025 lalu.

Di Bali saat ini terdapat lima grup Reog Ponorogo dengan jumlah pemain sekitar 25 orang. Mereka rutin melakukan latihan paling tidak dua minggu sekali dalam satu bulan.

Secara umum penggiat seni Reog Ponorogo di Bali melakukan latihan bersama sebulan sekali. "Dalam rangka pelestarian budaya nusantara, pelestarian budaya Jawa spesifik ke Reog Ponorogo," jelas Yunus.

Yunus berharap kepada seluruh penggiat atau pelestari agar tetap melestarikan budaya nusantara, Reog Ponorogo dan juga budaya Jawa.

3. Antusias anak muda mengasah skill dan melestarikan budaya nusantara tinggi

Reog Ponorogo
Jeliteng, Reog Ponorogo hitam dan terbesar di Bali saat ini (IDN Times/Ayu Afria)

Menurut Yunus, antusias untuk melestarikan budaya Reog Ponorogo pada generasi muda yang ada di Bali saat ini sangat tinggi terutama untuk pemain Reog. Antusiasme pemuda yang saat ini sekaligus menepis isu mistis yang semula melekat pada pemain Reog Ponorogo.

Dimana kemampuan pemain dalam menyangga berat Reog yang mencapai puluhan kilogram dianggap hal yang tidak wajar secara umum. Sementara pada kenyataannya para pemuda pemain Reog tersebut memang terbiasa karena kerap mengasah skill-nya, sebagian dari mereka juga menekuni bela diri.

Beban berat Reog ditumpu oleh kekuatan gigi dan leher si pemain, jika tidak berhati-hati bisa menyebabkan cedera fatal pada bagian rahangnya. Pemain Reog akan menggigit bambu yang berada di dalam Barongan untuk mempertahankan keseimbangan Reog yang beratnya bisa mencapai 65-85 kilogram.

"Alhamdulillah antusias, sangat antusias sekali bagi pemuda pemudi sekarang terutama di bagian Reog," beber Yunus.

3. Keberadaan komunitas penting bagi pelatihan kader

Reog Ponorogo
Bolo Reog Dewata (IDN Times/Ayu Afria)

Humas Bolo Reog Dewata, Hartoyo Hardjo Soewito atau Yoyok Harness menyampaikan, pelestarian budaya nusantara bukan hanya tugas pemerintah. Keberadaan komunitas Kridho Manggolo Bali salah satunya juga berperan mengkader seniman-seniman muda untuk meneruskan seni tradisi. Dari pengamatannya peran sanggar dalam pelestarian budaya nusantara ini semakin terlihat geliatnya tidak hanya di Provinsi Bali.

"Beruntungnya, kami di Bali di sanggar ini menjadi sebuah oase atau hub bagi para perantau Ponorogo. Mereka menemukan rumahnya di sini, seperti obat kerinduan bagi mereka di kampung," jelas Yoyok yang juga pemerhati budaya nusantara.

Pelestarian budaya Reog Ponorogo di Provinsi Bali dimulai sekitar tahun 2000. Saat itu anggota Bolo Reog Dewata masih 12 orang.

Pertunjukan Reog ini setidaknya menggunakan delapan intrumens musik yang dimainkan pada pakemnya masing-masing. Jenis alat musik tersebut adalah Kenong, Gong, Kendang, Tipung, Angklung, dan Terompet.

Share Article
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Bali

See More