Badung, IDN Times - Ribuan umat Hindu dari 13 Banjar Desa Adat Kuta berjalan beriringan sejauh tiga kilometer saat mengikuti prosesi upacara melasti, Senin (4/3) sore. Iring-iringan tersebut menarik minat para wisatawan, baik asing maupun lokal untuk menyaksikannya. Seperti apa ya prosesinya? Simak ulasannya di bawah ini:
[Foto] Damai dan Indahnya Prosesi Melasti di Pantai Kuta
![[Foto] Damai dan Indahnya Prosesi Melasti di Pantai Kuta](https://image.idntimes.com/post/20190305/img-20190304-wa0013-2a861586d1c7720c0ede6a2a6736b62b.jpg)
1. Mereka menyusuri Jalan Raya Kuta
Dari pantaun IDN Times, sejumlah wisatawan langsung mengabadikan momen sakral tersebut. Ada pula yang serius menyaksikannya dari kursi tempatnya bersantai.
Iring-iringan tersebut dimulai dari menyusuri sepanjang Jalan Raya Kuta. Selanjutnya, menuju ke area pinggiran Pantau Kuta. Setelah sampai, mereka duduk menghadap ke laut dan melakukan prosesi persembahyangan.
2. Prosesi melasti diikuti umat dari 11 pura
Bendesa adat Kuta, I Wayan Wasita, menjelaskan proses pemelastian Desa Adat Kuta dilakukan sebelum pergantian tahun Saka. Artinya, upacara tersebut dilakukan sebelum umat Hindu melakukan tapa brata penyepian.
Pemelastian ini diikuti oleh umat dari 11 pura. Sebelum sembahyang di segara (Laut), masing-masing umat di 11 pura tersebut melakukan upacara terlebih dahulu.
"Nah segara ini, pemelastian Ida Batara itu tujuan dan maknanya untuk penyucian buana agung dan buana alit. Sehingga dalam konteks pergantian tahun baru saka 1941 ini, umat Hindu diharapkan melakuakn konterpeksi diri," jelasnya saat ditemui di lokasi.
3. Ada iringan doa untuk kedamaian bagi alam semesta dan hidup tentram serta damai bagi umatnya
Harapan dan doa yang dipanjatkan dalam upacara ini adalah kedamaian bagi alam semesta. Jagat tempat kita berpijak diharapkan tentram, aman dan bisa saling rukun antar desa adat lainnya.
"Upacara pemelastian ini diikuti oleh ribuan krama desa 13 banjar. Jadi ini tumpah ruah datang ke pantai," ungkapnya.
4. Wisatawan asing juga mengikuti prosesi melasti hingga doa
Ia juga menekankan, kendati Kuta sudah menjadi kunjungan wisata dunia, bukan berarti tak melupakan adat dan budayanya. Ia dan krama desa lainnya akan terus melestarikan tradisi tersebut hingga masa mendatang.
Menariknya, di beberapa sudut nampak wisatawan asing turut mengiikuti proses pemelastian. Mereka juga berpakaian adat layaknya warga setempat. Tak hanya itu, beberapa wisatawan ini juga berbaur dengan warga sekitar duduk menghadap laut saat pemuka adat merapalkan doa.
"Wisatawan yang hadir atau yang mengikuti proses melasti ini hanya menyaksikan bagaiman prosesi daripada pemelastian ini," katanya saat ditanya adanya beberapa wisatawan asing yang mengikuti prosesi pemelastian.
5. Berkah buat para penjual bakso
Tak hanya itu, melasti yang digelar tersebut juga menjadi berkah tersendiri bagi para penjual makanan misalnya.Mmereka menggelar dagangannya di areal pantai Kuta yang sedang dipenuhi krama desa dan wisatawan. Hampir semua pedagang mulai dari bakso, siomay, mi ayam, satai dan lainnya dipenuhi pembeli.
Sutini, penjual bakso asal Banyuwangi mengaku pendapatannya meningkat tiga kali lipat. Ia berjualan dari siang dan menjelang sore sudah hampir habis.
"Lumayan ramai, mas. Dari siang tadi ada terus yang beli," katanya.