- Erika Pena, seorang fashion designer Dominika-Amerika berskala global yang memadukan glamor multikultural dengan siluet dramatis. Koleksinya merayakan feminitas dan warisan budaya lewat busana resort mewah
- Lily Jean by Made de Coney, pelopor slow fashion di Bali dengan lebih dari 20 tahun perjalanan etis. Koleksi terbarunya yang bertajuk Where the Wild Things are menampilkan keindahan alami dengan karya berkelanjutan, handmade, dan timeless untuk perempuan yang mindful
- Dika Saskara, designer kenamaan Bali ini mengangkat warisan tekstil Bali, koleksi karyanya yang bertajuk Bali Dwipa, menginterpretasi ulang Kain Endek menjadi fashion statement modern, yang menggabungkan motif klasik dengan desain kontemporer yang wearable.
Fashion Seseorang Menunjukkan Fleksibilitas Mentalnya

Badung , IDN Times - Kebebasan dalam berekspresi melalui fashion disebut juga memengaruhi kesehatan mental seseorang. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar Periode 2023-2025, dr I Gusti Rai Putra Wiguna, yang hadir sebagai pembicara mengatakan keragaman dan cara berpakaian bisa memperlihatkan bagaimana fleksibilitas mental seseorang untuk menerima apa pun yang menurut dia tidak wajar, namun digunakan oleh orang lain.
Fleksibilitas ini menjadi modal awal yang baik untuk kesehatan mental. Terlebih Bali memiliki ragam culture dari seluruh dunia dengan style pakaian yang berbeda.
"Bali sebagai kampung dunia kan berbagai macam culture, kemudian itu juga berpengaruh terhadap masyarakat Bali untuk fleksibel, menerima hal apa pun, tidak cepat menyalahkan, tidak cepat menghujat untuk hal-hal itu," terangnya.
1. Berekspresi dengan fashion bagian dari mental wellness

Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar, dr I Gusti Rai Putra Wiguna, berekspresi dengan fashion bagian dari mental wellness. Fashion seseorang akan menunjukkan ekspresi diri dan mood seseorang. Penampilan tersebut memiliki hubungan dengan kondisi mood sehingga seseorang merasa nyaman saat berpakaian style tertentu.
"Kalau kita dress-up dengan baik dan nyaman itu juga menunjukkan mood kita, ya kan? Ketika mood kita buruk, kita juga bisa memulai dengan hal-hal yang simpel salah satunya mencoba dengan pakaian yang rasanya nyaman dikenakan sambil bepergian," terangnya.
2. Setiap orang memiliki keanggunan yang berbeda, tidak harus selalu sempurna

Founder M Style, Muthia Ruskandar, mengatakan bahwa ada satu momen paling berkesan dalam kegiatan tersebut di antaranya Bird Release Ceremony. Yakni sebuah simbolisasi penuh keanggunan yang mengajak para tamu untuk melepaskan beban emosional, dan menyambut transformasi diri dengan jiwa yang lebih ringan mampu menciptakan kekuatan diri yang baru.
“Orang tidak selalu harus sempurna. Saat tekanan untuk tampil sempurna terasa membebani, kita kerap melupakan bagian diri yang rapuh dan butuh disembuhkan. Meski setiap orang membawa ceritanya masing-masing, selalu ada ruang untuk mencipta sesuatu yang lebih dari sekadar kesempurnaan, karena sejatinya kualitas diri yang terpancar ditentukan dari dalam,” ujarnya.
Sementara itu, soulful experience lewat Mindfulness Talkshow membedah tema penyembuhan diri, penerimaan diri, dan kejernihan mental.
3. Karya desainer diharapkan menginspirasi keaslian diri setiap orang

Melalui Diversity Beyond Perfection, M Style mengajak semua pihak merayakan keaslian diri, kehadiran emosional, dan keanggunan dalam setiap langkah. Juga individualitas, keanggunan yang berkelas, dan kebebasan dalam berekspresi melalui fashion. Sebagai inspirasi hadir karya-karya tiga fashion designer visioner terpilih yang merepresentasikan esensi Diversity Beyond Perfection dengan latar luxury car terbaru dari Mercedes-Benz, di antaranya:



















