Banten di Bali Terkomodifikasi, Sampahnya Tak Terkendali

Gianyar, IDN Times - Sirkulasi yadnya (persembahan suci kepada Sang Hyang Widi Wasa) dalam beragama Hindu erat kaitannya dengan banten atau sesajen. Banten adalah simbol dan sarana dalam sebuah upakara. Fungsi banten berkaitan dengan penggunaan dan tujuan pembuatannya. Misalnya saat ada upacara Hindu, banten berfungsi sebagai simbol dewa maupun dewi yang dipuja dan rasa syukur terhadap-Nya.
Lontar Sunarigama menyuratkan dua cara perayaan Hindu. Pertama, menghaturkan bebantenan tertentu selayaknya umat kebanyakan. Kedua, melalui tapa brata yoga samadhi untuk orang yang disebut sebagai wruh rin tata jnana. Bagi yang melakukan upakara dengan bebantenan, keyakinan dan keikhlasan akan meningkatkan kesucian semua pihak, termasuk makhluk hidup yang digunakan untuk upacara tersebut.
1. Simbol memuliakan makhluk hidup dan lingkungan

Kitab Manawa Dharmasastra V, 40 menuliskan tumbuh-tumbuhan, pepohonan, ternak, dan burung lainnya yang telah dipakai untuk upacara akan lahir dalam tingkat yang lebih tinggi pada kelahiran yang akan datang.
Kehidupan umat Hindu di Bali pada masa lampau selaras dengan apa yang tersurat dalam kitab. Masa lalu belum mengenal plastik, sehingga pascaupakara, bebantenan dapat terurai kembali ke tanah dan menjadi pupuk alami.
Rumah ke rumah orang Bali di masa lalu memiliki halaman belakang yang luas disebut teba. Teba inilah yang menghimpun sampah upakara dan mengurainya jadi unsur, baik untuk tanah dan tumbuhan.
Seorang ibu rumah tangga di Gianyar, Komang Merta (53), mengungkapkan saat masih anak-anak, Merta kerap membantu ibunya memetik buah di teba untuk banten. Dulu, teba di kampungnya cukup luas sekitar 4 are, dan banyak pohon. Kala itu, Merta memetik buah jambu sotong, jambu air, sawo, langsat, dan masih banyak lagi di teba rumahnya. Keberadaan teba diakui Merta menghemat pengeluaran membuat banten.
"Iya lebih hemat karena semua petik sendiri" ujar Merta, Selasa (8/10/2024).
Namun, pada masa kini rumah dengan teba di Bali sulit ditemui. Dampaknya, sampah organik yang dibawa ke Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) lebih banyak. Pada tahun 2023, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan sampah organik yang dihasilkan di Bali mencapai 70 persen.
2. Banten kini terkomodifikasi

Kehidupan orang Bali semakin individual. Kini sepanjang jalan penjual banten dengan mudah ditemui. Banten sebagai sarana yang tidak dipandang sebagai suatu produk komersial kini menjadi komoditas.
Siklus ini kian subur karena orang Bali modern sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sehingga lebih mudah dan praktis untuk membeli banten daripada membuatnya sendiri.
Isian banten juga tidak seperti dahulu. Kini jajanannya dibalut plastik, dan tumpeng keras yang sulit terurai. Sedangkan di masa kecilnya, Merta bersama sang ibu membuat jajanan sendiri tanpa dibungkus plastik.
"Dulu buat pisang goreng sendiri, dodol, wajik, sirat, uli itu alasnya daun pisang," ucapnya.
Tidak hanya banten, upacara pun terkomodifikasi, badan usaha bersaing menyuguhkan paket banten dan upakara berbagai jenis yadnya. Paket itu menyajikan banten dan upacara dari perkawinan, kelahiran hingga kematian manusia Bali semua lengkap. Biayanya pun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing tingkatan yadnya. Meskipun membeli banten kerap dianggap praktis, Merta tetap membuatnya sendiri.
"Rasanya lebih lega membuat sendiri lebih lengkap dan sesuai sastra, dulu saat kepepet pernah beli isinya tidak lengkap," jelasnya.
3. Makna banten tergerus perkembangan zaman

Banten sebagai sarana menyampaikan rasa syukur dalam lima jenis yadnya atau Panca Yadnya, terkadang belum selaras dengan niat manusia Bali. Penghayatan terhadap ritual dan banten yang tidak utuh menghasilkan buah pikir bahwa banten adalah beban.
Merta menjelaskan harga busung dan kebutuhan banten lainnya meningkat dari tahun ke tahun. Seingatnya, dulu sekitar tahun 2008 harga bunga hanya Rp5-7 ribu per kilogram. Tahun ini per kilogramnya mencapai Rp20 ribu.
Membuat banten kerap dianggap mahal, karena harga kebutuhan untuk membuatnya juga kian meningkat. Banten yang erat dengan pelaksanaan ritual dan seremonial tergerus maknanya.
Sejatinya ada tingkatan banten sesuai kemampuan seperti tingkat nista yaitu banten paling sederhana. Tingkat madya, setingkat lebih tinggi dari nista. Adapun tingkat utama yang setingkat lebih tinggi dari madya. Setiap tingkatan itu dibagi lagi. Masing-masing dari tingkat nistaning, madyaning, dan utamaning.
Sehingga pembagian tingkatan itu semestinya dapat memudahkan umat Hindu untuk menyesuaikan diri. Ini penting agar menghaturkan banten fokus pada ketulusan bakti, bukan karena gengsi dan sensi pribadi.












![[QUIZ] 5 Macam Panca Yama Brata, Ini Tokoh Ghost in the Cell Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_3be2c6dafebc4ec8d3bcfd8e8f762c0d_840b9682-cceb-4a5a-be86-87d10382e4ae.jpg)






