Waspada Hantavirus, Dinkes Bali Imbau Perhatikan Kebersihan Lingkungan

- Kemenkes RI mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga 2026, dengan tiga pasien meninggal dan sebaran di sembilan provinsi.
- Dinkes Bali mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, kesehatan tubuh, serta mengendalikan populasi tikus untuk mencegah penularan hantavirus.
- Hantavirus ditularkan dari tikus atau celurut melalui urine, kotoran, atau air liur dan dapat menyebabkan penyakit serius seperti HPS dan HFRS.
Denpasar, IDN Times - Temuan kasus hantavirus di Indonesia tercatat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sejak tahun 2024-2026 sebanyak 23 kasus, di mana tiga pasien meninggal dunia. Berdasarkan pemberitaan IDN Times, Kemenkes RI juga mencatat sebaran kasus hantavirus berada di sembilan provinsi. DKI Jakarta dan DI Yogyakarta mencatat jumlah terbanyak masing-masing enam kasus.
Meskipun belum ada temuan kasus hantavirus di Bali, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mengimbau agar masyarakat tetap waspada.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti ,mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Selain kondisi lingkungan, Raka meminta agar masyarakat memperhatikan kesehatan dan daya tahan tubuh.
“Himbauan untuk masyarakat tetap menjaga kesehatan, memperhatikan kesehatan lingkungan dan melakukan pengendalian vektor tikus dan menghindari kontak dengan kotoran tikus,” jelas Raka Susanti pada Minggu (10/5/2026).
Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan dari hewan pengerat ke manusia. Sebaran virus ini dapat menyebabkan penyakit serius, misalnya sindrom paru hantavirus (HPS) serta demam hemoragik dengan sindrom ginjal (HFRS).
Tikus dan celurut adalah hewan yang membawa hantavirus. Sementara itu, manusia yang terpapar urine, kotoran, atau air liur hewan tersebut berisiko tertular. Habitat tikus dan celurut biasanya berada di lahan sawah, kebun, dan peternakan. Sehingga, pekerja pada sektor tersebut memiliki kerentanan terhadap paparan hantavirus. Masyarakat yang berada di lingkungan tidak terawat dengan pertumbuhan pesat tikus dan celurut juga rentan terpapar.
Hingga saat ini Dinkes Provinsi Bali tetap waspada dengan meningkatkan pengamatan sistematis berkelanjutan terhadap penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).
“Tetap waspada dengan meningkatkan peran surveilans untuk melakukan pengamatan penyakit berpotensi KLB di Provinsi Bali,” imbuhnya.





![[OPINI] Memaknai Konsep Lifelong Learning di Bulan Mei](https://image.idntimes.com/post/20260506/whatsapp-image-2026-04-28-at-13_816be105-084e-4a78-8e61-dcf587817549.jpeg)












