Pendaki Hilang 2 Minggu di Gunung Batukaru Ditemukan Meninggal

- Made Dibya, pendaki berusia 84 tahun yang hilang di Gunung Batukaru sejak 25 April 2026, ditemukan meninggal dunia pada Sabtu, 9 Mei 2026 di jurang berkedalaman sekitar 1.700 mdpl.
- Tim SAR Gabungan mengevakuasi jenazah dengan penuh kehati-hatian karena medan licin, berbatu, dan berkabut; kondisi jenazah sudah membengkak serta mengalami pembusukan organ.
- Evakuasi selesai pada Minggu siang pukul 13.40 Wita dan jenazah diserahkan kepada keluarga; operasi melibatkan berbagai unsur SAR, kepolisian, relawan, serta masyarakat setempat.
Tabanan, IDN Times - Made Dibya (84) pendaki yang tersesat dan hilang di Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, ditemukan meninggal dunia, pada Sabtu (9/5/2026). Sebelumnya Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar (Basarnas Bali) telah menghentikan pencarian laki-laki lanjut usia tersebut pada Sabtu (2/5/2026), karena operasi SAR telah berlangsung selama tujuh hari.
Meskipun demikian, Basarnas Bali tetap menginstruksikan pencarian terhadap korban. Tim SAR Gabungan kembali menyisir area hutan Gunung Batukaru yang lebat dan berkabut. Hingga Sabtu itu, mereka menemukan jenazah di jurang dengan kedalaman sekitatr 1.700mdpl (meter di atas permukaan laut) pukul 16.20 Wita.
Jenazah korban dievakuasi hari ini

Ketika Tim SAR Gabungan menemukan jenazah di jurang kemarin, Tim SAR Gabungan mencurigai itu adalah Made Dibya. Sebelumnya, korban dilaporkan hilang di kawasan Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Sabtu lalu, 25 April 2026.
Operasi SAR kembali berlanjut. Menindaklanjuti laporan Tim SAR Gabungan, Operator Komunikasi Basarnas Bali segera melaksanakan koordinasi dengan SAR Samapta Polda Bali, serta pemandu lokal Gunung Batukaru.
Jenazah membengkak dan mengalami pembusukan organ

Pukul 16.40 Wita, lima personel berangkat dari Kantor Basarnas Bali di Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung menuju Posko Pendakian Gunung Batukaru. Kondisi larut malam dan pencahayaan minim, Tim SAR Gabungan menyepakati upaya evakuasi jenazah korban dilakukan pagi tadi, Minggu (10/5/2026).
Pada pukul 08.00 Wita, tim bergerak dari ketinggian 1.197mdpl menuju titik lokasi penemuan korban. Tim SAR Gabungan menempuh perjalanan melalui medan yang cukup berat pada pukul 10.20 Wita. Mereka mampu menjangkau posisi jenazah korban di ketinggian 1.808mdpl, tepatnya pada jurang dengan kedalaman sekitar 90m (meter).
Proses evakuasi berlangsung penuh kehati-hatian karena medan licin, bebatuan labil, serta kondisi cuaca lembap berkabut sehingga jarak pandang terbatas. Kepala Seksi Operasi Basarnas Bali, I Wayan Juni Antara, menjelaskan kondisi jenazah korban membengkak dan membusuk.
“Kondisi jenazah telah mengalami pembengkakan dan pembusukan organ tubuh turut menjadi tantangan dalam proses evakuasi,” kata Juni Antara, pada Minggu (10/5/2026).
Evakuasi jenazah korban dengan metode estafet

Evakuasi jenazah korban dari dasar jurang selesai dilakukan pada pukul 11.45 Wita. Jenazah ditandu secara estafet menuruni Gunung Batukaru menuju Posko SAR Gabungan Jatiluwih. Seluruh proses evakuasi selesai pada pukul 13.40 Wita. Jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa menuju rumah duka menggunakan ambulans Bhuana Bali Rescue.
Operasi SAR ini melibatkan unsur gabungan dari Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Ditsamapta Sabhara Polda Bali, Ditsamapta Sabhara Polres Tabanan, Polsek Selemadeg, Polairud Polres Tabanan, Babinsa Desa Jegu, BPBD Kabupaten Tabanan, Bhuana Bali Rescue, RAPI Tabanan, PMI Kabupaten Tabanan, komunitas pendaki gunung, ORARI Bali, IOF Bali, serta keluarga korban dan masyarakat setempat.






![[OPINI] Memaknai Konsep Lifelong Learning di Bulan Mei](https://image.idntimes.com/post/20260506/whatsapp-image-2026-04-28-at-13_816be105-084e-4a78-8e61-dcf587817549.jpeg)











