Virus Nipah Belum Terdeteksi di Bali, Kewaspadaan Ditingkatkan

Badung, IDN Times - Meningkatnya kasus penularan virus Nipah di luar negeri membuat para pihak terkait di Bali mengencangkan pemeriksaan. Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, mengatakan pihak bandara meningkatkan pengawasan penumpang secara maksimal dan berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya.
Selain itu, bagi penumpang yang akan terbang dari dan menuju Pulau Bali, dimbau untuk terus menjaga kesehatan dan senantiasa memantau perkembangan informasi terkini terkait Virus Nipah demi keamanan dan kenyamanan bersama.
"Kami secara intensif melakukan koordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar dalam hal pengawasan di lingkungan bandara. Seluruh personel di lingkungan bandara berkomitmen untuk melakukan pengawasan secara ketat dan menyeluruh dalam pencegahan penularan Virus Nipah di area kedatangan," terangnya, Kamis (29/1/2026).
1. Bandara mengoptimalkan thermal scanner

Menurut Gede Eka Sandi Asmadi, sebagai upaya pengawasan, terdapat 2 unit thermal scanner di kedatangan internasional, 1 unit di kedatangan domestik, dan 1 unit yang disiagakan di terminal VIP. Jika ditemukan penumpang yang menunjukkan gejala, maka akan ditindaklanjuti langsung oleh pihak Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK), dan merujuk penumpang tersebut ke Rumah Sakit Umum Pusat Prof dr IGNG Ngoerah, Kota Denpasar.
"Bagi penumpang yang merasa kondisi kesehatannya menurun dan terdapat gejala awal Virus Nipah seperti demam, kami imbau untuk segera menghubungi petugas bandara terdekat atau petugas BBKK di bandara," terangnya.
2. Masyarakat dan peternak babi di Bali perlu waspada

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dokter I Gusti Ayu Raka Susanti, saat ditemui di ruangan mengatakan Virus Nipah bersifat zoonosis. Virus ini hidup di air liur kelelawar dan bisa ditularkan ke hewan lainnya hingga manusia.
Inang Virus Nipah ini merupakan kelelawar, sedangkan host-nya adalah babi. Sejumlah upaya pencegahan yang dilakukan adalah mengimbau masyarakat untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat terutama mencuci tangan. Ia juga menyarankan masyarakat agar tidak mengonsumsi makanan setengah matang, dan mencegah mengonsumsi buah sisa gigitan kelewar.
"Tentu kita berkolaborasi atau bekerja sama di pintu masuk karena sejauh ini kita belum mendapatkan datanya ada di Indonesia gitu ya," jelasnya.
Dinas Kesehatan Provinsi Bali juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian terkait isu penyakit ini, mengingat banyak peternak babi di Bali. Kedua belah pihak akan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyakit ini.
"Sementara ini infonya dari penelitian-penelitian sebelumnya itu, bahwa di Indonesia belum ditemukan virus ini pada babi. Itu sudah ada penelitian sebelumnya. Jadi tentu ini yang tetap kita amankan," ungkapnya.
3. Virus Nipah menginfeksi paru-paru

Penyakit ini memiliki gejala yang mirip dengan influenza, dapat menyebabkan komplikasi radang paru-paru dan komplikasi radang otak. Ciri-ciri awalnya adalah infeksi saluran pernapasan, flu, demam, sesak, hingga radang otak. Angka kematiannya cukup tinggi sekitar 47-75 persen. Pada kasus komplikasi radang otak, diungkapnya juga berpotensi menimbulkan gejala sisa meski pasien sembuh.
"Virus Nipah ini kemungkinannya lebih besar (menimbulkan radang otak) dibandingkan virus lainnya," terangnya.
Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan surat edaran terkait Virus Nipah ini sejak 2023 lalu. Sejauh ini negara yang melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Nipah di antaranya Malaysia, Singapura, India, Banglades, dan Tailan.


















