Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Asuransi Tak Ditanggung Pemerintah, Peternak Sapi Tabanan Ketar Ketir

ilustrasi sapi bali (pexels.com/Angri Astuti)
ilustrasi sapi bali (pexels.com/Angri Astuti)

Tabanan, IDN Times - Untuk memberikan perlindungan bagi ternak sapi, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS). Program ini berupa subsidi premi asuransi, di mana dari total premi Rp200 ribu per ekor per tahun, pemerintah membayarkan Rp160 ribu dan peternak membayar Rp40 ribu.

Namun sejak 2024, program AUTS sudah tidak ada lagi dari Pemerintah Pusat. Sementara itu, serangan penyakit mulut dan kuku (PMK) serta LSD (lumpy skin disease) mengancam ternak sapi di Bali. Peternak sapi di Kabupaten Tabanan mengaku ketar-ketir karena saat ini ternaknya tidak lagi ter-cover AUTS. Mereka berharap, program AUTS bisa diadakan kembali oleh pemerintah sehingga memberikan rasa aman bagi peternak sekaligus mendorong regenerasi peternak sapi yang saat ini mulai ditinggalkan generasi muda.

1. Tidak ada anggaran AUTS dari Pemerintah Pusat

Ilustrasi anggaran
Ilustrasi anggaran (IDN Times/ Aditya Pratama)

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian Tabanan, drh Gede Eka Partha Ariana, mengatakan program AUTS sudah ditiadakan sejak 2024. Program ini terakhir kali diadakan pada 2023.

"Informasinya tidak ada anggaran untuk AUTS dari Kementan," ujarnya, Selasa (27/1/2026).

Pihaknya mendorong agar peternak mengikuti program asuransi bagi ternak sapinya secara mandiri. Dari populasi sapi, menurut Eka Partha terjadi penurunan sejak 2024 hingga 2025. Populasi sapi tahun 2024 tercatat 38 ribu ekor, sementara tahun 2025 tercatat 31 ribu ekor. Penurunan ini menurut Eka Partha karena mulai berkurangnya generasi muda untuk menjadi peternak dan lebih memilih bekerja di sektor jasa.

2. Peternak ketar-ketir ternak sapinya tidak ter-cover asuransi

ilustrasi sapi (pexels.com/Chidi Young)
ilustrasi sapi (pexels.com/Chidi Young)

Peternak sapi dari Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti, I Wayan Doni Ardhita, mengaku ketar-ketir mengingat ancaman PMK dan LSD menghantui ternaknya. Ia merasa belum mampu menanggung biaya premi asuransi secara mandiri. Sehingga program tersebut sangat penting baginya di tengah banyak penyakit yang menghantui sapi.

Selama ini, keuntungan peternak sapi hanya Rp2000 per hari per ekor dalam setahun. Jadi menurutnya berat kalau menanggung premi asuransinya secara penuh.

"Terakhir, ternak sapi saya tertanggung AUTS pada tahun 2022. Saat itu penyakit belum kompleks seperti sekarang. Jadi, saat ini sebenarnya momen yang tepat bagi pemerintah mengeluarkan program asuransi untuk ternak sapi," katanya.

3. Generasi muda mulai enggan beternak

ilustrasi sapi Bali (IDN Times/Ayu Afria)
ilustrasi sapi Bali (IDN Times/Ayu Afria)

Doni melanjutkan, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan keberlangsungkan peternakan Sapi Bali. Generasi muda juga mulai enggan untuk beternak sapi. Alasannya, selain mulai terancam penyakit, juga tidak menjanjikan dari segi pendapatan.

"Peternak tidak semua fokus untuk menjual sapinya saat momen Idul Adha. Ada yang menjual sapinya untuk kebutuhan sehari-hari. Nah, menjualnya ini agak susah sekarang ini. Pasarnya agak sepi," paparnya.

Untuk itu Doni berharap selain asuransi, pemerintah juga memperhatikan pasar untuk penjualan sapi di Bali. Jika kondisinya akan terus seperti ini, maka beberapa waktu ke depan tidak ada lagi generasi muda yang mau beternak Sapi Bali.

"Sapi Bali bisa saja punah karena tidak ada generasi yang mau lagi beternak," katanya.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Salah Paham Antartim Voli Picu Ketegangan Warga di Nusa Penida

27 Jan 2026, 18:16 WIBNews