Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Akan Dibangun Fasilitas LNG, Pesisir Serangan Masuk Zona Merah Tsunami

ilustrasi perairan serangan.jpeg
Ilustrasi Perairan Serangan. (IDN Times/Yuko Utami)
Intinya sih...
  • Pesisir Serangan adalah zona merah tsunami dan gempa bumi
  • Kawasan rentan bencana dengan indeks bahaya tinggi menurut inaRISK
  • Pembangunan fasilitas LNG akan berdampak pada perekonomian nelayan dan pariwisata di Serangan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Kawasan Pesisir Serangan adalah satu dari lima desa/kelurahan di Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar yang menjadi titik proyek pembangunan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Liquefied Natural Gas (LNG). Meskipun menuai penolakan dari Warga Desa Adat Serangan, Pemerintah Pusat melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI Hanif Faisol Nurofiq tetap menerbitkan Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKL).

Prajuru (Pengurus) Desa Adat Serangan Bidang Baga Palemahan (Lingkungan dan Tanah), I Wayan Patut mengingatkan bahwa Serangan termasuk dalam zona merah tsunami dan gempa bumi. “Karena di Bali Selatan, Serangan termasuk salah satu wilayah yang sudah menjadi zona merah rentan bencana baik tsunami dan gempa bumi,” ujar Patut kepada IDN Times pada Kamis (22/1/2026) di Kantor Desa Adat Serangan.

Serangan dan wilayah Bali Selatan lainnya rentan tsunami

wayan patut.jpeg
Prajuru (Pengurus) Desa Adat Serangan Bidang Baga Palemahan (Lingkungan dan Tanah), I Wayan Patut. (IDN Times/Yuko Utami)

Patut menjelaskan, Serangan adalah kawasan di Kota Denpasar yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Kerentanan yang dimiliki Denpasar, bagi Patut semestinya jadi pertimbangan untuk menentukan kawasan Serangan cocok atau tidak sebagai titik pembangunan fasilitas LNG. Ia menegaskan, agar Pemerintah Daerah melindungi peruntukan kawasan berdasarkan regulasi tata ruang yang berlaku. 

Sebab, jika pembangunan berlanjut di kawasan Pesisir Serangan dan sekitarnya, makan perubahan bentang alam tak dapat terelakkan. “Karena itu akan terjadi pasti ada perubahan bentang alam. Siap-siap saja, Denpasar akan terdampak bencana tsunami,” imbuhnya.

Hasil pengecekan inaRISK, kawasan Serangan termasuk indeks bahaya tinggi

cek inarisk.jpeg
Kawasan Pulau Serangan berwarna kemerahan saat pengecekan potensi tsunami dengan inaRISK. (Dok. BNPB/inaRISK)

Hasil pengecekan melalui portal inaRISK dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terlihat bahwa kawasan Pulau Serangan berwarna mendekati merah. Portal inaRISK yang menyajikan data risiko bencana tersebut menunjukkan arti warna kemerahan, bahwa Serangan termasuk dalam indeks bahaya tinggi bencana tsunami.

Sebelumnya, IDN Times telah merangkum beberapa kawasan yang rentan bencana tsunami, berada di area Bali Selatan yang meliputi Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Kawasan rentan tersebut yakni Sanur, Serangan, Seminyak, Tanjung Benoa, Kuta, Kedonganan, Nusa Dua, Tanah Lot dan Seririt. 

Secara tektonik, kerentanan Denpasar terhadap gempa bumi dan tsunami disebabkan keberadaan Denpasar dan sekitarnya berada di zona aktif seismik. Jika berada pada zona tersebut, maka kawasan Denpasar terdapat dua sumber gempa utama, yaitu zona subduksi selatan Bali dan sumber gempa sesar aktif darat. Kondisi ini, berpotensi gempa dengan magnitudo kuat dapat melebihi 7.

Kerentanan bencana dan potensi dampak pembangunan LNG

kapal_serangan.jpeg
Kondisi Perairan di Serangan pada Kamis, 22 Januari 2026, terdapat perahu milik nelayan setempat dengan bersandar. (IDN Times/Yuko Utami)

Patut mengungkapkan, ada sekitar 450 orang warga di Serangan yang menggantungkan hidup di sektor perikanan. Pembangunan LNG di Pesisir Serangan akan berdampak pada perekonomian nelayan. Hasil tangkapan nelayan akan berkurang, sementara wilayah perairan untuk melaut jadi kawasan pembangunan proyek LNG.

Selain lumpuhnya mata pencaharian nelayan, Patut juga menyoroti potensi lumpuhnya pariwisata sebagai tumpuan ekonomi warga Serangan lainnya. “Sisi lain, ada pemanfaatan lain jalur dermaga. Kalau jalur dermaga ini lumpuh, pedagang acung, jasa transportasi, guide (pemandu wisata), ada usaha-usaha kecil gitu. Itu akan lumpuh semua,” kata Patut.

Tidak hanya aspek ekonomi, Patut menekankan adanya perkembangan penyu di kawasan Serangan yang dapat terganggu jika ada getaran gelombang yang keras. Patut yang juga merupakan pegiat terumbu karang dan penyu, menegaskan gelombang kapal dan pipa berpotensi merusak siklus kehidupan penyu dan laut di Serangan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Bali

See More

Akan Dibangun Fasilitas LNG, Pesisir Serangan Masuk Zona Merah Tsunami

24 Jan 2026, 21:38 WIBNews