Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dua Lansia Jalani Layanan Kardiologi TAVI Pertama di Bali

Dua Lansia Jalani Layanan Kardiologi TAVI Pertama di Bali
ilustrasi jantung (unsplash.com/jesse orrico)

Denpasar, IDN Times - Dua pasien lansia laki-laki menjalani tindakan Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) di Bali International Hospital (BIH), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Kesejahteraan Sanur pada 7 Maret 2026 lalu. Kedua pasien yang mengalami Trikuspid Valve dan Bicuspid Valve ini sebelumnya akan menjalani pembedahan. Namun, kemudian memutuskan dengan tindakan TAVI.

Dokter Spesialis Jantung Intervensi SCVC, dr I Made Junior Rina Artha, mengatakan pasiennya telah melalui proses screening dan persiapan sejak Desember 2025. Mereka dibius total dan tindakannya hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

"Kami ada dua kasus ya. Tentunya dengan tanpa pembedahan, pasien bisa langsung melakukan aktivitas. Dua-duanya ini memiliki aortic stenosis yang kita bilang penyempitan yang sangat berat. Nah, dengan kita lakukan pemasangan TAVI, pasiennya sekarang keluhannya lebih baik dan aktivitasnya akan kita harapkan lebih baik ke depannya." terangnya, pada Senin (9/3/2026).

1. Kriteria pasien yang bisa menjalani TAVI

ilustrasi operasi sesar (unsplash.com/engin akyurt)
ilustrasi operasi sesar (unsplash.com/engin akyurt)

Dokter Spesialis Jantung Intervensi SCVC, dr I Made Junior Rina Artha, menjelaskan TAVI adalah tindakan transkateter tanpa pembedahan. Tindakan ini dilakukan lewat pembuluh darah di paha dengan memasukkan alat katup buatan di aorta. Metode ini hanya bisa dilakukan untuk kasus dengan katup jantung yang mengecil atau mengerut. Untuk katup jantung yang mengerut, secara otomatis aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta mengalami menurun. Kondisi ini biasanya membuat pasien mengeluhkan sesak, dan nyeri dada.

Bagi pasien dengan stenosis aorta berat, kondisi penyempitan katup jantung berisiko menyebabkan gagal jantung hingga kematian jika tidak segera ditangani. Program ini memberikan harapan baru. Tindakan pertama kardiologi dengan teknologi medis canggih (tanpa pembedahan) ini berkolaborasi dengan Sapporo Cardio Vascular Clinic (SCVC), pusat layanan kardiovaskular yang merupakan bagian dari Hong Kong Asia Medical Group (HKAMG).

"Nah, dulu kasus-kasus TAVI hanya dilakukan pada kasus-kasus yang risiko tinggi pembedahan. Berarti usia tua, pasien-pasien yang tidak mungkin dilakukan operasi. Namun dengan perkembangan teknologi, perkembangan hasil ilmiah, trial-trial yang besar menunjukkan bahwa kasus-kasus TAVI bisa dikerjakan mulai pada usia-usia yang lebih muda lagi," terangnya.

2. Penerapan TAVI di Indonesia masih sangat minim

BIH
Pengenalan teknik TAVI di BIH (IDN Times/Ayu Afria)

Mereka mengklaim ini merupakan kasus dengan tindakan TAVI pertama di Bali. Menurutnya, tindakan TAVI hingga saat ini jarang dilakukan di Indonesia. Dokter Made Junior memperkirakan kasus stenosis aorta di Indonesia juga tidak begitu tinggi. Perkiraan hingga Maret 2026 di angka 50 kasus dengan usia di atas 70 tahuan. Tindakan TAVI ini baru diterapkan di Jakarta, Makassar, dan Bali.

"Kalau di Jakarta  mungkin kasusnya saya tahu maksimal mungkin 10 case setahun, itu sudah maksimal. Sedangkan di Bali, ya tentunya pertama kali," terangnya.

Tindakan TAVI memang memerlukan biaya yang sangat mahal. Ia memperkirakan mencapai dua kali dari tindakan pembedahan. Namun TAVI menawarkan kenyamanan lebih bagi pasiennya.

3. Pariwisata medis di Bali mulai digaungkan

BIH
Bali Internasional Hospital (IDN Times/Ayu Afria)

Sementara itu, CEO Hong Kong Asia Medical Group (HKAMG), Steven Tse, mengatakan bahwa ekspansi SCVC ke Indonesia merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memperkuat akses layanan jantung berkualitas di kawasan Asia. Ia menilai bahwa masih sangat diperlukan kolaborasi keahlian dokter internasional guna memperluas akses layanan jantung bagi pasien di kawasan Asia Tenggara dengan menghadirkan teknologi medis mutakhir.

Kolaborasi ini memungkinkan pasien tidak akan berobat keluar negeri lagi, karena layanan kesehatan tersebut telah bisa diakses di dalam negeri, Bali. “Selama lebih dari dua dekade, HKAMG berkomitmen mengembangkan layanan kardiovaskular melalui integrasi praktik medis, pendidikan, dan penelitian," ungkapnya.

Chief of Commercial & Operations PT Pertamedika Bali Hospital, Dr Noel Yeo, menyampaikan, kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam memperkuat pengembangan layanan kardiovaskular berteknologi tinggi di Indonesia. Salah satunya melalui kemitraan dengan SCVC, BIH juga berupaya terus mengembangkan layanan kardiovaskular yang komprehensif sekaligus memperkuat kapabilitas kardiologi intervensi di Indonesia. Inisiatif ini juga mendukung visi yang lebih luas untuk memposisikan Bali sebagai destinasi layanan kesehatan internasional, di mana pasien dapat mengakses layanan medis kelas dunia lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

“Di BIH, kami berfokus untuk memastikan kesiapan infrastruktur, teknologi medis, serta kolaborasi dengan para dokter spesialis agar prosedur ini dapat dilakukan secara aman dan efektif," ungkapnya.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Klaim BPJS Belum Cair, RSUD Tabanan Tidak Bisa Bayar Utang Obat

10 Mar 2026, 15:40 WIBNews