Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bali dalam Pusaran Perdagangan Ilegal Burung Liar di Indonesia

Bali dalam Pusaran Perdagangan Ilegal Burung Liar di Indonesia
Penggagalan penyelundupan satwa di Pelabuhan Gilimanuk (Dok.IDN Times/istimewa)
Intinya Sih
  • Bali menjadi pusat perdagangan ilegal burung liar dengan pengawasan lemah di Pelabuhan Padangbai dan Gilimanuk, menyebabkan kebocoran informasi dalam upaya penyelundupan.
  • Pasar Burung Satria di Denpasar memperlihatkan maraknya penjualan burung tanpa asal-usul jelas, memicu krisis populasi dan fenomena hutan sunyi akibat hilangnya kicauan burung.
  • Hingga Mei 2026, Bali mencatat penyitaan 10.739 burung liar ilegal tertinggi di Indonesia, meningkatkan risiko zoonosis serta ancaman terhadap keseimbangan ekosistem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Denpasar, IDN Times - Provinsi Bali tengah disorot karena termasuk dalam pusaran perdagangan ilegal burung liar di Indonesia. Direktur Eksekutif FLIGHT, Marison Guciano, mengatakan pengawasan di dua pintu masuk dan keluar Bali tengah menghadapi krisis. Menurutnya, informasi terkait penyitaan dalam upaya pembongkaran penyelundupan satwa liar kerap mengalami kebocoran.

Ia menjelaskan, Pelabuhan Padangbai menjadi pintu masuk utama penyelundupan burung liar dari Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, Pelabuhan Gilimanuk menjadi pintu keluar utama penyelundupan burung liar dari Bali menuju Pulau Jawa.

"Perdagangan ilegal burung kicau, mungkin spesies ini sering dianggap sebagai bukan spesies kunci ya. Jadi, sering kali dianggap hal yang biasalah perdagangan ilegal. Jadi juga sering kami temukan, 'Ah itu kan hanya burung', gitu loh. Padahal jaringan perdagangan ini sangat rapi gitu. Sangat rapi dan profesional," ungkapnya.

Bali memiliki permasalahan perdagangan satwa liar di Pasar Burung Satria

Pasar burung
Pasar Burung Satria di Denpasar (IDN Times/Ayu Afria)

Marison menyoroti keberadaan satwa liar di Pasar Burung Satria, Denpasar, terutama burung yang diperjualbelikan tanpa kejelasan asal-usulnya.

Menurutnya, kondisi tersebut memicu krisis populasi burung liar dan menyebabkan fenomena silent forest, yakni hutan yang kehilangan suara kicauan burung. Maraknya perdagangan ilegal burung liar juga membuat banyak spesies terancam punah.

"Ini hutannya ada, tapi suara burung tuh tidak ada. Jadi, burung-burung ini yang dari hutan itu sudah berpindah-pindah ke rumah-rumah penduduk di sangkar," terangnya.

Penyelundupan burung ilegal di Bali tertinggi di Indonesia

Pasar burung
Pasar Burung Satria di Denpasar (IDN Times/Ayu Afria)

Marison mengatakan, dalam lima bulan pertama 2026, Bali menjadi provinsi dengan jumlah penyitaan burung liar ilegal tertinggi di Indonesia. Hingga Mei 2026, jumlah burung liar yang disita di Bali mencapai 10.739 individu.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan Lampung dengan 5.513 individu, Kalimantan Timur 2.865 individu, Nusa Tenggara Timur 2.198 individu, Jambi 1.926 individu, dan Jawa Timur 1.424 individu.

"Ini paling tertinggi di burung liar di Bali," tegasnya.

Menurut Marison, posisi Bali sebagai jalur utama perdagangan ilegal burung liar di Indonesia juga meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis. Kondisi ini membuat masyarakat Bali rentan terhadap ancaman penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Selain menyebabkan hilangnya populasi burung liar, perdagangan ilegal tersebut juga berpotensi menimbulkan kerugian ekologis karena burung merupakan bagian dari rantai makanan dan berperan dalam mengendalikan populasi serangga.

Masyarakat Bali dibawah ancaman risiko zoonosis

BKSDA Bali
Penggagalan penyelundupan satwa di Pelabuhan Gilimanuk (Dok.IDN Times/istimewa)

Marison mengatakan, berdasarkan hasil penelusurannya, Bali juga menjadi daerah asal sejumlah burung yang diperdagangkan secara ilegal. Menurutnya, banyak burung dari Bali juga diperjualbelikan secara daring.

Ia menilai Bali perlu belajar dari kasus atat bali dan jalak bali. Atat bali yang dinyatakan punah di habitat endemiknya justru ditemukan di luar negeri dan kemudian direpatriasi.

Menurut Marison, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting untuk menjaga kelestarian populasi burung yang masih bertahan di Bali.

"Jadi ini bisa jadi pelajaran kita untuk bagaimana melestarikan dan mempertahankan populasi yang memang burung-burung sekarang masih ada di Bali, masih hidup di Bali," jelasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Bali

See More