Cara Menghindari Kejahatan Hipnotis, Hati-Hati Saat Berkomunikasi

- Video viral di Desa Saba, Gianyar, menyoroti dugaan komplotan yang berpura-pura berbelanja dan menukar uang sebelum mengambil uang korban lalu kabur menggunakan mobil.
- Psikolog menjelaskan, kasus yang disebut hipnotis belum tentu hipnosis; pelaku sering memakai komunikasi meyakinkan, pengalihan perhatian, kebingungan, dan tekanan agar korban terburu-buru.
- Hipnosis terapeutik dilakukan profesional dengan persetujuan klien, sedangkan pencegahan penipuan menekankan kewaspadaan saat orang asing meminta bantuan, menukar uang, atau mengajak bicara panjang.
Denpasar, IDN Times - Belum lama ini masyarakat di Bali dihebohkan dengan video viral dugaan penipuan dengan modus hipnotis. Dalam psikologi disebut hipnosis. Kejadian tersebut sempat diunggah d Instagram @ melonputu_ dan menimpa masyarakat di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Nah, apa yang terjadi pada seseorang sehingga terkena hipnosis dari sisi psikologi?
Menurut Psikolog Klinis Bali Bersama Bisa, Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu, bahwa yang sering disebut masyarakat sebagai hipnotis sebenarnya belum tentu merupakan hipnosis. Dalam banyak kasus, pelaku lebih banyak memanfaatkan teknik komunikasi, membangun rasa percaya, mengalihkan perhatian korban, menciptakan kebingungan, atau membuat korban terburu-buru mengambil keputusan.
"Iya, hipnosis memang dipelajari dalam ilmu psikologi. Bahkan di dunia kesehatan. Hipnosis digunakan untuk tujuan yang positif, misalnya membantu mengatasi kecemasan, mengelola nyeri, atau terapi tertentu. Namun, hipnosis terapeutik dilakukan oleh tenaga profesional, dengan persetujuan dari klien, dan bukan untuk mengendalikan seseorang," jelasnya.
1. Diduga hipnosis dilakukan berkelompok di Bali

Akun tersebut menceritakan, saat itu tiga orang yang diduga merupakan satu komplotan datang ke warung sembako. Modusnya pura-pura menukarkan uang dan berbelanja. Saat perhatian korban teralihkan, pelaku diduga mengambil seluruh uang di dalam tas milik korban. Komplotan pelaku langsung meninggalkan lokasi menggunakan mobil Honda Brio berwarna hitam B 2415 KYS.
Dari hasil rekaman closed circuit television (CCTV), yang juga dibagikan dalam akun tersebut, pelaku diketahui terdiri dari dua orang laki-laki mirip dengan orang Timur Tengah, sedangkan satu pelaku lainnya merupakan perempuan yang berpura-pura belanja.
2. Pelaku mengalihkan perhatian korban saat melakukan hipnosis

Menurut Psikolog Klinis Bali Bersama Bisa, Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu, dari sisi psikologi, ketika seseorang mengalami tekanan, kebingungan, atau perhatiannya terus-menerus dialihkan, kemampuan otak untuk fokus dan membuat keputusan bisa menurun. Apalagi jika pelaku berbicara dengan sangat meyakinkan atau membuat situasi terasa mendesak.
"Setelah kejadian, korban sering merasa syok, menyesal, menyalahkan diri sendiri, bahkan bertanya-tanya mengapa mereka bisa begitu mudah percaya. Padahal siapa pun bisa menjadi korban ketika pelaku memang sudah terlatih memanfaatkan kelengahan seseorang yang menjadi targetnya," jelasnya.
3. Hipnosis bisa dicegah dengan meningkatkan kewaspadaan

Namun, yang paling penting adalah menjaga kewaspadaan, terutama saat ada orang yang tidak dikenal datang meminta bantuan, menukar uang, atau mengajak berbicara panjang lebar ketika kita sedang menjaga uang atau barang berharga. Pelaku biasanya memanfaatkan kelengahan, bukan karena korbannya lemah. Jadi meningkatkan kewaspadaan adalah langkah pencegahan yang paling efektif.


















