Ekspor Salak Bali ke Vietnam Masih Ilegal

Badung, IDN Times - Potensi ekspor salak bali semakin terbuka lebar. Namun, eksportir terkendala dengan adiministrasi perizinan untuk negara tujuan Vietnam. Hal tersebut disampaikan oleh Pendiri Komunitas Petani Muda Keren (PMK) sekaliguas Direktur PT Bali Organik Subak (BOS), Anak Agung Gede Agung Wedhatama atau Agung Wedha.
Permintaan ekspor salak bali ke Vietnam sangat besar. Selama ini protokol G2G antara pemerintah Indonesia dan Vietnam belum terbentuk sehingga menyulitkan eksportir. Banyak eksportir salak bali ke Vietnam yang kemudian mengirim tanpa protokol karantina alias ilegal.
"Sama kayak China, yang kita ekspor kan salak gula pasir. Demand cukup besar dan yang kita suka itu kalau ke China GACC-nya, protokol itu dia gak pakai order. Jadi, berapa yang kita punya, berapa yang kita bisa panen, bisa kita kirim. Sama juga dengan Vietnam, kita harus cari alternatif sebagai antisipasi," jelasnya.
Potensi ekspor salak bali mencapai 5 ton per hari

Menurut Agung Wedha, pihaknya lega telah menyampaikan keluhan tersebut kepada Barantin belum lama ini, dengan harapan agar administrasi protokol karantina ekspor salak bali ke Vietnam segera direalisaikan. Jika hal tersebut terealisasi, maka petani-petani di Bali juga terbantu dalam hal perbaikan ekonomi.
Ekspor salak bali diyakini berdampak pada kesejahteraan petani salak di Karangasem seperti Kecamatan Sibetan, Jungutan, Sidemen, dan Bebandem. Ada juga di Munduk Temu, Kabupaten Tabanan.
"Kalau salak cukup besar ya. Kita ekspor kurang lebih sehari 3 sampai 5 ton average di musim salak. Kalau yang tidak musim mungkin 1 sampai 2 ton per 3 hari. Karena salak berita baiknya kita bisa ekspor sepanjang tahun. Dia tidak kenal musim," jelasnya.
Indonesia harus memiliki antisipasi negara tujuan ekspor salak

Sejak 2022, pihaknya telah menjajaki ekspor salak bali ke Vietnam, namun situasinya saat itu belum bisa melakukan pengiriman karena kendala protokol karantina. Pihaknya juga tidak ingin mengulang sejarah ekspor sarang burung walet dari Indonesia yang di-banned ke China.
Sehingga seandainya terjadi hal buruk pada peluang ekspor salak bali ke China, Indonesia masih memiliki opsi lain untuk tujuan ekspor, Vietnam. Peluang pasar China selama ini selain salak juga buah tropis lainnya diantaranya manggis, pisang, kelengkeng, nanas, durian beku dan buah naga. Buah-buah tropis tersebut diekspor rutin.
"Nah, seandainya terjadi hal buruk, seandainya buah tropis kita tidak bisa diekspor ke China, kita sudah punya antisipasi negara-negara lain yang bisa menerima salak kita. Jadi, sangat besar peluang untuk ekspor kita ke mancanegara," jelasnya.
Ekspor salak bali masih ilegal hingga saat ini

Selama ini, ekspor salak bali ke Vietnam dilakukan melalui bandara tanpa menggunakan Phytosanitary Certificate, yang artinya pengiriman salak ini ilegal sesampai di bandara Vietnam. Pihaknya beberapa kali juga tidak bisa mengirim salak ke Vietnam kendati peluang pasarnya sangat besar, yakni diperkirakan mencapai 10-20 ton per minggu. Sementara itu, harga salak bali saat ini berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilonya.
"Itu kita perjuangkan bagaimana agar protokol G2G Indonesia-Vietnam bisa terjadi sehingga kita bisa mengirim salak, menjual salak misalnya dengan aman dan tenang gitu," jelasnya.

















![[QUIZ] Dari Tokoh Upin Ipin, Kamu Tipe Warga Banjar Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20250530/upin-ipin-1-87f35002d1686dda73e55d82638c9f56-7771c6a2ddf99d5c2b32499897f284cd.jpg)
