KUR BRI Bantu Petani Bunga Pacah Jaga Pasokan Sarana Upacara di Bali

- Petani bunga pacah Made Tarji di Badung memanfaatkan KUR BRI untuk modal budidaya, yang membutuhkan sekitar Rp20 juta per siklus untuk lahan, bibit, pupuk, dan perawatan.
- Bunga pacah mulai berbunga tiga minggu setelah tanam dan dapat dipanen harian selama dua hingga tiga bulan, tetapi pendapatan tertekan fluktuasi harga serta cuaca.
- BRI memperluas penyaluran KUR ke pertanian untuk mendukung modal kerja, produktivitas, kesinambungan produksi, dan ketahanan petani dalam menjaga pasokan sarana upacara di Bali.
Badung, IDN Times - Budidaya bunga pacah menjadi salah satu penopang kebutuhan sarana upacara keagamaan masyarakat Bali. Namun, petani harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari biaya produksi yang besar, fluktuasi harga, hingga cuaca yang memengaruhi hasil panen.
Di tengah kondisi tersebut, akses pembiayaan menjadi faktor penting agar petani tetap bisa menjalankan usaha. Modal dibutuhkan sejak awal untuk pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga perawatan tanaman sebelum masa panen tiba.
Salah satu petani yang merasakan manfaat pembiayaan tersebut adalah Made Tarji, petani bunga pacah di Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung. Ia memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai modal kerja untuk menjaga keberlangsungan budidaya bunga pacah.
1. Biaya tanam bunga pacah capai Rp20 juta per siklus

Made Tarji mengatakan biaya produksi bunga pacah dalam satu siklus tanam mencapai sekitar Rp20 juta. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga perawatan tanaman.
Menurutnya, modal harus dikeluarkan jauh sebelum tanaman menghasilkan. Karena itu, ketersediaan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting agar proses budidaya dapat berjalan dengan baik.
Bunga pacah sendiri mulai berbunga sekitar tiga minggu setelah ditanam. Jika pertumbuhannya optimal, tanaman dapat dipanen setiap hari selama dua hingga tiga bulan dengan hasil panen awal mencapai sekitar 35 kilogram per hari sebelum berangsur menurun menjadi sekitar 25 hingga 27 kilogram per hari.
"Bantuan modal sangat membantu petani. Karena sebelum panen, biaya untuk pengolahan lahan, bibit, pupuk sampai perawatan sudah lebih dulu dikeluarkan," ujarnya dalam keterangan yang diterima pada Rabu (29/7/2026).
2. Harga bunga dan cuaca jadi tantangan petani

Meski permintaan bunga untuk kebutuhan upacara adat di Bali relatif stabil, pendapatan petani sangat bergantung pada kondisi pasar. Saat pasokan melimpah, harga bunga pacah bisa turun hingga sekitar Rp10 ribu per kilogram.
Sebaliknya, ketika produksi berkurang, harga dapat melonjak hingga sekitar Rp40 ribu per kilogram. Selain itu, cuaca menjadi tantangan utama karena memengaruhi kualitas bunga maupun jumlah hasil panen.
Tarji juga menjelaskan bunga pacah tidak dapat disimpan dalam waktu lama setelah dipanen. Kondisi tersebut membuat petani harus segera menjual hasil panennya sehingga sering kali mengikuti harga yang ditetapkan pasar maupun pengepul.
"Dengan modal yang tersedia, kami bisa tetap memenuhi kebutuhan produksi sehingga usaha tetap berjalan meski harga dan cuaca sering berubah," kata Tarji.
3. BRI dorong produktivitas petani melalui penyaluran KUR

BRI terus memperkuat penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif, termasuk pertanian. Pembiayaan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memenuhi kebutuhan modal kerja sekaligus meningkatkan produktivitas usaha.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya mengatakan sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah. Karena itu, BRI terus memperluas akses pembiayaan bagi petani yang memiliki usaha produktif dan prospektif.
Melalui dukungan permodalan yang berkelanjutan, BRI berharap sektor pertanian semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan. Upaya tersebut juga diharapkan mampu menjaga kesinambungan produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Kami melihat sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah. Melalui KUR, BRI ingin memastikan para petani memiliki akses pembiayaan yang memadai sehingga dapat mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, serta menjaga kesinambungan produksi," ujar Hery Noercahya.


















