Pengamat Sebut Proyek LNG di Bali sebagai Ilusi Mandiri Energi

- Pengamat 350 Indonesia Suriadi Darmoko menilai target Bali Mandiri Energi Bersih 2045 sebagai ilusi jika pasokan energi, termasuk gas, tetap diimpor dari luar daerah.
- RUPTL mencantumkan pembangunan infrastruktur gas sekitar 1.550 MW di Buleleng, Pesanggaran, serta pesisir Denpasar-Gianyar yang direncanakan memiliki Terminal FSRU LNG.
- Darmoko menyebut infrastruktur gas berpotensi meningkatkan emisi dan melemahkan energi terbarukan; potensi PLTS atap Bali 4.800 MW, sekitar empat kali beban puncak 1.200 MW.
Denpasar, IDN Times - Field Organizer 350 Indonesia, Suriadi Darmoko, menyebutkan wacana Bali Mandiri Energi Bersih tahun 2045 adalah sebuah ilusi. Ia menilai, semasih Bali mengimpor pasokan energi dari luar, target kemandirian itu tentu buyar.
Darmoko memaparkan impor pasokan energi itu seperti rencana proyek Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Liquefied Natural Gas (LNG) di Bali, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
1. Sebesar 1.550 Megawatt infrastruktur gas masuk dalam RUPTL

Menurut Darmoko, rencana pembangunan infrastruktur gas di Bali tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dengan total kapasitas sekitar 1.550 megawatt (MW).
Proyek-proyek tersebut rencananya akan tersebar di beberapa titik. Ada dua lokasi di Kabupaten Buleleng dengan kapasitas gabungan 900 MW, masing-masing Buleleng Barat dan Pemaron.
Ada juga pengembangan di PLTG Pesanggaran, serta satu lokasi lagi di kawasan pesisir antara Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar dengan infrastruktur Terminal FSRU (Floating Storage and Regasification Unit) untuk gas.
2. Menyoal kemandirian dan kedaulatan energi di Bali

Apabila mengaitkan dengan rencana Bali mandiri energi, sementara sumber energi gas masih berasal dari luar, Darmoko menyatakan klaim kemandirian energi Bali hanyalah ilusi. Selama sumber energinya masih diimpor dari luar daerah.
“Bali mandiri energi itu hanya ilusi. Kalau sumber energinya masih mengimpor ya, masih didatangkan dari luar Bali artinya Bali tidak punya potensi energi itu sendiri ya,” jelas Darmoko kepada IDN Times, Senin (27/7/2026).
Ia menekankan kemandirian energi baru bisa terwujud apabila pembangkit listrik dibangun berbasis potensi energi tersedia langsung di Bali. Ia menyebut bahwa pemanfaatan energi lokal ini bahkan bisa membawa Bali melampaui sekadar kemandirian, menuju kedaulatan energi.
3. Potensi energi terbarukan di Bali

Pembangunan infrastruktur gas selain melemahkan potensi energi terbarukan di Bali, juga akan berdampak terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Alih-alih bergantung pada infrastruktur gas, Darmoko menyoroti besarnya potensi energi terbarukan yang dimiliki Bali, baik dari sumber tenaga surya, angin, maupun air.
Ia merujuk pada dokumen RUPTL milik PLN yang turut mencatat potensi tersebut, termasuk sebuah studi yang menyebutkan potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Bali mencapai 4.800 MW. Ini jauh melampaui beban puncak kelistrikan Bali yang hanya sekitar 1.200 MW.
“Kalau dari potensi dan kebutuhan, dari PLTS Atap saja, itu potensinya ada empat kali lipat dibanding kebutuhan saat ini,” kata dia.





















