VCT Pelangi Tabanan Catat 19 Orang Remaja Rutin Minum Obat HIV

- VCT Pelangi RSUD Tabanan mencatat 19 remaja usia 10-19 tahun rutin menjalani terapi ARV hingga 2026; seluruhnya tertular HIV dari ibu sejak kecil.
- Para remaja tersebut lahir sebelum program pencegahan penularan ibu-ke-bayi tersedia pada 2011. Dalam tiga tahun terakhir, VCT Pelangi tidak mencatat kasus baru remaja terapi ARV.
- Dinkes Tabanan mencatat tiga kasus HIV pada remaja usia 15-19 tahun selama 2025-2026 terkait perilaku seksual, lalu memperkuat edukasi dan kader KSPAN di sekolah.
Tabanan, IDN Times - Penyebaran HIV (human immunodeficiency virus) saat ini hampir merata di semua usia. Hingga tahun 2026, VCT (Voluntary Counseling and Testing) Pelangi di RSUD Tabanan mencatat ada sebanyak 19 orang usia remaja atau 10-19 tahun, rutin meminum obat HIV atau biasa dikenal dengan Antriretroviral (ARV).
Koordinator Layanan VCT Pelangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan, dr Ni Made Yasmi mengatakan adapun para remaja yang rutin meminum ARV ini, semuanya terinfeksi dari sang ibu yang lebih dulu teinfeksi HIV. "Jadi mereka ini mendapatkan virus dari ibunya yang terinfeksi HIV. Kemudian meminum obat sejak masih kecil hingga beranjak remaja," ujar Yasmi, Rabu (29/7/2026).
1. Remaja yang terinfeksi HIV dari ibunya lahir tanpa melewati program PMTCT

Yasmi mengatakan, remaja yang saat ini rutin meminum obat ARV ini lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Para ibu ini tidak menjalani program PMTC atau program pencegahan penularan virus dari ibu ke bayi. Ia melanjutkan layanan PMTCT mulai ada di VCT Pelangi di RSUD Tabanan pada tahun 2011.
"Jadi sebelum waktu itu masih banyak ibu yang terinfeksi HIV belum terpapar informasi mengenai PMTCT dan saat itu sosialisasi juga belum masif seperti saat ini," ujar Yasmi.
Namun saat ini setelah adanya program PMTCT, penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, VCT Pelangi tidak lagi mencatat kasus baru remaja yang harus menjalani terapi ARV.
"Pada dasarnya, para remaja yang kita tangani saat ini, diketahui terinfeksi HIV saat usianya di bawah 10 tahun. Dan semuanya terinfeksi dari ibunya yang positif," jelas Yasmi.
2. Remaja rutin meminum obat ditemani kerabat

Sementara itu, perawat di VCT Pelangi RSUD Tabanan, I Nengah Sukarni, menambahkan para remaja yang berjumlah 19 orang ini rutin mengambil ARV ke VCT Pelangi. Di mana untuk meminum obatnya, mereka diawasi orangtua atau kerabat.
"Tidak semua orangtua dari pasien remaja ini ada. Ada yang sudah jadi anak yatim, piatu atau yatim piatu. Sehingga saat mengambil obat, mereka ditemani kerabat lainnya seperti bibi atau pamannya," jelas Sukarni.
Adapun para orangtua yang sudah meninggal ini dikarenakan komplikasi penyakit akibat HIV. "Rata-rata orangtua yang meninggal ini karena tidak disiplin minum obat, sehingga menimbulkan komplikasi penyakit akibat HIV-nya," papar Sukarni.
3. Dinkes Tabanan mencatat 3 kasus HIV pada remaja di tahun 2025-2026

Sementara itu, DInas Kesehatan Tabanan mencatat tiga kasus penularan HIV pada remaja (usia 15-19 tahun) pada tahun 2025-2026. Adapun rinciannya tahun 2025 sebanyak 2 orang dan tahun 2026 sebanyak 1 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan Anak Agung Ngurah Putra Wiradana mengatakan para remaja yang terpapar HIV ini terinfeksi lewat gaya hidup yaitu prilaku seksual. "Faktor resiko seksual untuk penularan HIV ini sudah ada saat usia remaja," katanya.
Untuk mencegah infeksi HIV pada usia remaja, Dinas Kesehatan bersama Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) gencar melakukan promosi kesehatan mengenai apa itu HIV dan cara penularannya. "Selain itu juga membentuk kader peduli HIV/AIDS dan narkoba (KSPAN) ditingkat sekolah," ujarnya.
KSPAN ini merupakan kelompok siswa terpilih yang dilatih menjadi agen perubahan untuk memberikan edukasi pencegahan, mengurangi stigma, dan mempromosikan pola hidup sehat terkait HIV/AIDS di lingkungan sekolah.




















