Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pulau Jawa Jadi Tujuan Perdagangan Satwa Liar Terbesar di Indonesia

Pulau Jawa Jadi Tujuan Perdagangan Satwa Liar Terbesar di Indonesia
Burung sitaan di Pelabuhan Gilimanuk (Dok.IDN Times/istimewa)
Intinya Sih
  • Pulau Jawa menjadi pusat utama perdagangan ilegal burung liar di Indonesia dengan lebih dari 11 ribu kios dan 125 pasar burung tersebar di berbagai provinsi.
  • Tingginya permintaan burung kicau dipicu oleh falsafah hidup masyarakat Jawa yang menganggap kukilo atau burung sebagai simbol kesenangan dan kesabaran.
  • Data 2023–2025 mencatat 771 kasus penyitaan satwa liar, dengan 86,32 persen berupa burung hidup dan mayoritas adalah jenis burung kicau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Denpasar, IDN Times - Pulau Jawa disebut menjadi tujuan utama perdagangan ilegal burung liar di Indonesia. Direktur Eksekutif FLIGHT: Protecting Indonesia's Birds, Marison Guciano, mengatakan tingginya permintaan burung kicau, terutama di Pulau Jawa, menjadi salah satu penyebab maraknya perdagangan ilegal tersebut.

Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui metode web scraping dari Google Maps, tercatat terdapat 11.100 kios burung dan 125 pasar burung yang tersebar di Pulau Jawa.

"Jadi, permintaan terhadap burung kicau ini sangat tinggi. Dan cara yang paling murah dan mudah untuk mendapatkan burung-burung kicau ini adalah mengambil secara ilegal di alam liar. Karena kalau untuk penangkaran itu butuh waktu dan butuh biaya untuk pengembangbiakan," terangnya, Senin (15/6/2026).

Data tersebut mencatat terdapat 248 kios burung dan satu pasar burung di Banten, 791 kios burung dan empat pasar burung di DKI Jakarta, serta 2.055 kios burung dan 13 pasar burung di Jawa Barat.

Sementara itu, di Jawa Tengah terdapat 4.002 kios burung dan 48 pasar burung, di Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 566 kios burung dan lima pasar burung, serta di Jawa Timur tercatat 3.438 kios burung dan 54 pasar burung.

Diduga terkait falsafah hidup

Marison mengatakan, tingginya permintaan burung kicau di Pulau Jawa diduga berkaitan dengan salah satu falsafah hidup masyarakat Jawa. Dalam falsafah tersebut terdapat lima unsur kesempurnaan hidup, salah satunya kukilo atau burung yang melambangkan hobi, kesenangan, dan kesabaran.

Menurutnya, burung-burung kicau yang dijual di pasar umumnya ditangkap menggunakan campuran getah karet dan lem tikus. Proses penangkapan itu menyebabkan banyak burung mati, sehingga burung yang dijual di pasar diduga hanya sebagian dari jumlah burung yang berhasil bertahan hidup.

Marison mengungkapkan, burung kicau juga mendominasi jenis satwa liar yang disita dari perdagangan ilegal di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun sepanjang 2023-2025, tercatat terdapat 771 kasus penyitaan dengan total 161.992 individu satwa liar hidup.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 139.827 individu atau 86,32 persen merupakan burung hidup. Sementara itu, 134.515 individu atau 96,20 persen di antaranya merupakan burung kicau.

"Jadi memang perdagangan ilegal burung liar itu begitu mendominasi perdagangan satwa liar di Indonesia. Nah, jadi bisa dibayangkan seberapa masifnya perdagangan ilegal burung kicau di Indonesia," terangnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Bali

See More