Salah Paham Antartim Voli Picu Ketegangan Warga di Nusa Penida

Klungkung, IDN Times - Kesalahpahaman antartim bola voli menjadi pemicu, erjadinya ketegangan warga di Desa Klumpu, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Persoalan yang semula terjadi di arena olahraga itu berkembang menjadi keresahan warga setelah beredar sebuah rekaman video berisi pernyataan yang dianggap menyinggung satu banjar.
Beruntung aparat kepolisian bersama TNI dan tokoh warga setempat bergerak untuk meredam terjadinya konflik sosial melalui Sipandu Beradat (Sistem Pengamanan Terpadu Berbasis Desa Adat).
"Ketegangan yang sempat mencuat di tengah masyarakat Desa Klumpu berhasil diredam melalui langkah cepat dan humanis Polsek Nusa Penida. Mengedepankan kearifan lokal serta nilai-nilai musyawarah," ujar Kapolsek Nusa Penida, Kompol I Ketut Kesuma Jaya, Selasa (27/1/2025).
1. Ketegangan bermula dari beredarnya video memuat ucapan sensitif

Insiden bermula dari kesalahpahaman antara tim voli Banjar Baledan dan tim voli Banjar Iseh. Situasi semakin sensitif ketika video yang memuat ucapan tidak pantas tersebar luas secara publik. Rekaman tersebut memicu ketersinggungan warga Banjar Iseh dan memunculkan penolakan keras terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik sosial antarwarga apabila tidak segera ditangani.
2. Aparat keamanan segera mediasi dengan sistem Sipandu Beradat

Merespons situasi tersebut, aparat kepolisian dan TNI Nusa Penida bersama unsur desa adat segera mengambil langkah pengamanan dan mediasi. Mediasi dilaksanakan di Balai Desa Adat Panca Mandala Gita, Desa Klumpu, Senin (26/1/2026) malam.
Forum tersebut dipimpin oleh Bhabinkamtibmas Desa Klumpu, Aiptu Agung Suparta, bersama Babinsa Kopka, I Kadek Parta, dengan melibatkan bendesa adat, prajuru adat, klian banjar, tokoh warga, serta unsur pengamanan desa.
"Penanganan dilakukan melalui Sipandu Beradat, mekanisme penyelesaian masalah yang mengedepankan musyawarah dan kearifan lokal," ujar Kesuma Jaya.
3. Hasil mediasi, kedua belah pihak sepakat berdamai

Dalam pertemuan tersebut, akar permasalahan dikupas secara terbuka. Kedua pihak akhirnya mengakui adanya kekeliruan, baik dalam ucapan maupun sikap yang memicu ketersinggungan. Melalui dialog, masing-masing pihak sepakat menahan diri dan mengakhiri persoalan secara damai. Kesepakatan damai kemudian dituangkan dalam surat pernyataan bersama yang disaksikan oleh bendesa adat dan tokoh warga.

















