Paus Sperma Kerdil Terdampar di Jembrana Tidak Bisa Diselamatkan

Jembrana, IDN Times - Kabar duka datang dari dunia konservasi laut di Bali. Seekor Paus Sperma Kerdil (Kogia breviceps) yang ditemukan terdampar di pesisir Pantai Tembles, Desa Penyaringan, Kabupaten Jembrana Senin lalu, 26 Januari 2026, dinyatakan mati. Meski tim medis telah berupaya melakukan penyelamatan intensif, mamalia laut yang dilindungi ini mati, pada Rabu (28/1/2026) sore.
Tim dokter hewan menemukan adanya busa pada paru-paru yang mengindikasikan bahwa paus tersebut menelan banyak air laut saat terdampar. Hal inilah yang memicu terjadinya kegagalan napas.
1. Sempat dievakuasi ke Buleleng, namun kondisi terus memburuk

Upaya penyelamatan sebenarnya telah dilakukan secara maksimal oleh tim dokter hewan dari Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI)-Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Paus tersebut sempat dievakuasi ke keramba Umah Lumba di Kabupaten Buleleng untuk mendapatkan perawatan medis darurat.
Namun, takdir berkata lain. Dokter hewan JSI, Deny Rahmadani, mengonfirmasi bahwa kondisi mamalia tersebut sudah sangat lemah sejak awal ditemukan.
"Paus tidak selamat. Kondisinya lemas sekali," ungkap Deny, pada Kamis (29/1/2026).
2. Hasil nekropsi menemukan busa di paru-paru, bukan sampah plastik

Setelah dinyatakan mati, tim dokter segera melakukan tindakan nekropsi atau bedah bangkai untuk mencari tahu penyebab pastinya. Hasilnya cukup mengejutkan: organ paru-paru mengalami perubahan warna menjadi kemerahan hingga kehitaman.
Tim juga menemukan adanya busa pada paru-paru yang mengindikasikan bahwa paus tersebut menelan banyak air laut saat terdampar. Hal inilah yang memicu terjadinya kegagalan napas. Dokter tidak menemukan benda asing atau sampah plastik di dalam saluran pencernaan paus tersebut.
3. Diduga kuat akibat disorientasi arah

Mengenai alasan mengapa paus tersebut bisa terdampar, tim ahli menduga kuat adanya faktor disorientasi atau hilang arah. Namun, proses nekropsi hanya mampu mendeteksi penyebab kematian melalui perubahan organ setelah mati, bukan penyebab awal hilangnya navigasi sang paus.
"Perlu pemeriksaan komprehensif menyeluruh untuk mengetahui secara pasti penyebab paus disorientasi," tambah Deny.
Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dan dilaporkan ke pihak Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), bangkai paus tersebut langsung dikuburkan.

















