Rupiah Melemah, Peternak Ayam Tabanan Was-was Harga Pakan Melambung

- Pelemahan rupiah hingga Rp17.683 per dolar AS bikin peternak ayam Tabanan khawatir harga pakan naik karena bahan baku masih bergantung pada impor.
- Harga jual ayam di tingkat peternak turun ke Rp22.500 per kg, masih di bawah BEP sekitar Rp23.500, membuat peternak merugi di tengah biaya produksi yang meningkat.
- Peternak juga cemas pelemahan rupiah memicu kenaikan harga bibit, vitamin, dan obat ternak, sehingga berharap pemerintah menjaga stabilitas ekonomi serta ketersediaan pakan terjangkau.
Tabanan, IDN Times - Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus Rp17.683 menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak ayam di Kabupaten Tabanan. Peternak khawatir pelemahan rupiah itu berpotensi memicu kenaikan harga pakan ternak.
"Kondisi saat ini membuat peternak dihantui ketidakpastian," kata peternak sekaligus Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Kabupaten Tabanan, I Wayan Sukasana pada Rabu (20/5/2026).
Potensi kenaikan harga bahan baku pakan ayam itu, kata dia, muncul karena sebagian masih bergantung pada impor.
1. Harga jual ayam di peternak dibawah BEP

Di sisi lain, harga jual ayam saat ini masih berada di bawah break even point (BEP). Sukasana mengatakan, harga ayam di tingkat peternak sempat naik, pada awal Mei 2026 dan menyentuh Rp24 ribu per kilogram (kg). Harga tersebut bertahan hingga dua minggu.
Setelah itu, sambungnya, harga kembali turun ke kisaran Rp22.500 per kg. Sementara itu, harga BEP setelah kenaikan harga ayam ada di kisaran Rp23.500.
"Sehingga harga jual saat ini masih di bawah BEP. Dengan harga sekarang peternak masih rugi,” kata Sukasana.
2. Peternak ayam menghadapi tekanan berlapis

Menurut Sukasana, peternak saat ini menghadapi tekanan berlapis. Selain harga jual ayam yang belum stabil, biaya produksi juga mengalami kenaikan. Diantaranya, harga jagung pecah yang menjadi salah satu bahan baku pakan naik dari sekitar Rp6.200 per kg menjadi Rp6.600-Rp6.700 per kg. Sementara harga konsentrat meningkat dari sekitar Rp8.000 menjadi Rp8.500 per kg.
Oleh karena itu, kata dia, pergerakan nilai tukar rupiah sangat mempengaruhi biaya produksi peternak.
Selain persoalan biaya produksi, menurunnya daya beli masyarakat juga disebut ikut mempengaruhi kondisi pasar. Menjelang tahun ajaran baru, masyarakat dinilai lebih memprioritaskan kebutuhan pendidikan anak dibanding kebutuhan konsumsi lainnya.
3. Pelemahan rupiah dikhawatirkan akan mempengaruhi harga bibit

Peternak ayam lainnya, Nyoman Karyana mengatakan hal senada. Ia juga mencemaskan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini. Dia khawatir, pelemahan nilai tukar rupiah itu mempengaruhi harga bibit, vitamin, hingga obat-obatan ternak.
“Jika rupiah terus melemah, kami khawatir keuntungan semakin menipis, terutama di tengah harga jual ayam yang belum stabil,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi serta memastikan ketersediaan bahan pakan dengan harga terjangkau agar usaha peternakan rakyat tetap bertahan. Mereka juga berharap ada langkah konkret untuk melindungi peternak kecil dari gejolak ekonomi global yang berdampak langsung pada sektor pangan.



















