Mengapa di Bali saat Musim Kemarau Terjadi Hujan, Ini Penjelasan BMKG

- Hujan di Bali saat musim kemarau disebabkan oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase tiga dan gelombang atmosfer Rossby Equatorial yang memicu pembentukan awan konvektif.
- Suhu permukaan laut di sekitar perairan Bali yang hangat meningkatkan massa uap air, sehingga hujan lokal masih mungkin terjadi meski wilayah sudah memasuki musim kemarau.
- BMKG mengimbau masyarakat menjaga kesehatan, membawa jas hujan, memakai tabir surya, serta rutin memantau informasi cuaca resmi untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem.
Denpasar, IDN Times - Sejak bulan Maret-Mei 2026, hampir seluruh wilayah di Bali memasuki musim kemarau. Namun, sejak awal Mei, beberapa kali terjadi hujan ringan hingga deras di sejumlah wilayah.
Berdasarkan pengamatan IDN Times, hujan deras terjadi di Gianyar dan Denpasar. Pada Sabtu, 16 Mei 2026 hujan dengan intensitas sedang hingga deras berlangsung cukup lama. Bagaimana penjelasan Balai Besar Meteorologi Klimatologi (BBMKG) Wilayah III Denpasar, berikut informasi selengkapnya.
1. Fenomena Madden Julian Oscillation dan Rossby Equatorial

Prakirawan Balai Besar Meteorologi Klimatologi (BBMKG) Wilayah III Denpasar Luh Eka Arisanti menjelaskan, hujan yang terjadi di wilayah Bali diakibatkan oleh beberapa faktor. Yaitu Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada pada fase tiga dan aktif di sekitar wilayah Bali. MJO merupakan gangguan cuaca dan iklim tropis berskala besar yang bergerak ke arah timur.
Berdasarkan Perpustakaan Digital BMKG, fenomena MJO menjadi pemicu utama fluktuasi curah hujan ekstrem. Hujan disertai badai dan anomali iklim sub-musiman di wilayah Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya.
Eka Arisanti mengatakan, selain MJO terdapat fenomena Rossby Equatorial jadi penyebab hujan saat kemarau. “Serta aktifnya gelombang atmosfer Rossby Equatorial yang turut meningkatkan potensi pembentukan awan konvektif penyebab hujan,” kata Eka Arisanti kepada IDN Times Senin (18/5/2026).
2. BMKG imbau masyarakat jaga kesehatan dan sedia jas hujan

Eka Arisanti menerangkan, suhu permukaan laut di sekitar perairan Bali cukup hangat. Hal ini berpotensi meningkatkan penambahan massa uap air di atmosfer.
"Meski secara umum sebagian wilayah Bali memasuki musim kemarau, potensi hujan masih dapat terjadi secara lokal dan tidak merata," ujar Eka.
BMKG pun mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi dalam peralihan musim ini.
“Minum air cukup dan konsumsi vitamin untuk jaga imunitas, membawa payung atau jas hujan setiap keluar rumah,” jelas Eka Arisanti.
Selain menyiapkan jas hujan dan menjaga kondisi tubuh, masyarakat diminta menggunakan tabir surya untuk melindungi diri dari sinar UV, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. “Serta selalu mengupdate informasi cuaca hanya yang bersumber dari laman resmi BMKG,” imbuhnya.








![[QUIZ] Lagu Bali Nostalgia Favorit, Kami Tebak Kenanganmu di Pulau Dewata](https://image.idntimes.com/post/20220928/fotojet-50-7e800c7366892494d9f75116c06c1cd3.jpg)



![[QUIZ] Dari Tokoh Upin Ipin, Kami Tebak Kepribadianmu saat Menyama Braya](https://image.idntimes.com/post/20260218/upload_4118325748e0456299670c3a4e5457b2_77f81f33-3bc0-40f2-843a-39a82508e19f.png)




