Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Warga Tabanan Bingung Lokasi Pembuangan Sampah yang telah Dipilah

Warga Tabanan Bingung Lokasi Pembuangan Sampah yang telah Dipilah
Masyarakat Tabanan membawa sampahnya ke lokasi dropping point (Dok.IDNTimes/Istimewa)
Intinya Sih
  • Masyarakat Tabanan mulai sadar memilah sampah sesuai jenis, namun terkendala pengangkutan karena belum ada sistem angkut khusus untuk sampah organik dan anorganik.
  • Sebagian warga kesulitan menemukan jasa angkut yang tersedia, sementara kekosongan layanan berisiko memicu pembuangan sampah sembarangan dan menimbulkan masalah lingkungan baru.
  • Pemerintah Kabupaten Tabanan berkoordinasi dengan camat untuk identifikasi masalah di tiap wilayah serta mengoptimalkan peran TPS3R dan bank sampah agar penanganan lebih terarah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tabanan, IDNTimes-Dua minggu pasca penerapan Surat Edaran Bupati Tabanan Nomor 7/DLH/2026 tentang percepatan penanganan sampah, mulai menunjukkan dampak positif. Masyarakat Tabanan mulai memilah sampah ke jenis organik, anorganik dan residu. Namun, setelah memilah sampah, ada satu kendala yang dihadapi, yaitu pengangkutan sampah terpilah.

Sejumlah warga Tabanan mengaku kebingungan karena tidak adanya petugas maupun sistem angkut khusus untuk sampah organik dan anorganik yang telah dipisahkan dari rumah tangga. Hal ini ditakutkan menurunkan semangat memilah sampah yang mulai terbentuk.

1. Masyarakat sulit mendapatkan jasa angkut sampah

Masyarakat Tabanan membawa sampahnya ke lokasi dropping point. (Dok,IDNTimes/Istimewa)
Masyarakat Tabanan membawa sampahnya ke lokasi dropping point. (Dok,IDNTimes/Istimewa)

Salah satu warga perumahan di Kecamatan Kerambitan, Agustin mengatakan sejak diterapkan peraturan, ia sudah memilah sampah. "Tetapi setelah dipilah, saya bingung mau dibawa kemana sampahnya. Saya juga sudah sering kontak jasa angkut sampah dari sejumlah wilayah di Tabanan. Mau kok harus bayar bulanan, Cuma ditolak karena sudah overload," katanya, Senin (18/5/2026)

Ia pernah membawa sampah yang sudah dipilah ke drop point yang disiapkan komunitas di Tabanan, pada Sabtu (16/5/2026) di Gedung kesenian I Ketut Maria. Sayangnya acara tersebut hanya berlangsung tiga hari.

"Ada info ada dropping point. Saya bawa ke sana. Tapi info tidak ada kelanjutannya. Habis ini saya juga tidak tahu mau dibawa kemana sampahnya ini. Semoga saja drop poin seperti kemarin bisa rutin digelar oleh pemerintah,"harapnya.

2. Persoalan pengangkutan sampah harus dituntaskan

Masyarakat Tabanan membawa sampahnya ke lokasi dropping point. (Dok,IDNTimes/Istimewa)
Masyarakat Tabanan membawa sampahnya ke lokasi dropping point. (Dok,IDNTimes/Istimewa)

Salah satu warga Tabanan, Gede Yangki mengatakan pihaknya sudah mendapatkan jasa pungut sampah. Namun diakuinya, tidak semua masyarakat mendapatkan layanan tersebut. "Saya dapat jasa pungut sampah sekitar seminggu lalu. Bayarnya Rp50 ribu per bulan dan sampah harus dipilah. Tidak masalah buat saya, asal sampah diangkut sesuai jadwal," katanya.

Menurutnya jika persoalan pengangkutan tidak segera dituntaskan, dikhawatirkan akan memicu munculnya pembuangan sampah sembarangan ke sungai maupun lahan kosong. Kondisi ini berpotensi memunculkan persoalan lingkungan baru, termasuk ancaman banjir saat musim hujan.

3. Pemkab Tabanan melakukan identifikasi masalah di masing-masing daerah

Masyarakat Tabanan membawa sampahnya ke lokasi dropping point. (Dok,IDNTimes/Istimewa)
Masyarakat Tabanan membawa sampahnya ke lokasi dropping point. (Dok,IDNTimes/Istimewa)

Terpisah menanggapi keluhan masyarakat yang masih bingung akan pengangkutan sampah yang sudah terpilah, Ketua Satgas Percepatan Penanganan Sampah kabupaten Tabanan, I Gede Susila mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan para camat untuk melakukan identifikasi terhadap persoalan  yang ada di masing-masing wilayah.

Dia menjelaskan, untuk sampah terpilah akan dihubungkan dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) maupun pihak yang membutuhkan, seperti pengelola sampah plastik. Selain itu, pihaknya akan mengoptimalkan peran bank sampah agar lebih aktif dan terkoordinasi. Selama ini, kebutuhan sampah plastik sebenarnya cukup tinggi, namun belum terhubung dengan baik dengan sumber dari masyarakat.

“Kemarin ada yang mencari sampah plastik, Ini yang akan kami koordinasikan agar lebih terarah. Peran camat penting untuk menjembatani komunikasi, karena tidak semua bank sampah aktif,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Bali

See More