Ketahanan Energi Bali Diuji Beban Listrik 1300MW

- Beban puncak listrik Bali telah menembus 1.300 MW, sementara daya mampu pembangkit sekitar 1.400 MW, sehingga ketahanan energi menjadi tantangan seiring permintaan tahunan meningkat.
- Pemprov Bali memperluas PLTS Atap dan menyiapkan tambahan pembangkit energi terbarukan; proyek skala besar membutuhkan PLN serta waktu persiapan instalasi sekitar dua hingga tiga tahun.
- Proyek LNG di Denpasar Selatan masih menghimpun aspirasi warga, sementara pengamat menilai potensi PLTS Atap Bali 4.800 MW lebih memadai dan mengurangi ketergantungan energi fosil.
Denpasar, IDN Times - Usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terus bertambah, kini mencapai 81 tahun. Jika diibaratkan manusia, usia ini tidak muda, ada banyak pengalaman dan tantangan.
Provinsi Bali sebagai bagian dari NKRI juga harus menghadapi berbagai tantangan, satu diantaranya ketahanan energi. Dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menunjukkan Bali mengalami beban puncak penggunaan listrik sebesar lebih dari 1.200MW (megawatt). Sementara, daya mampu pembangkit yang tersedia hanya sekitar 1.400MW.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, mengakui beban puncak tersebut sebagai tantangan ketahanan energi di Bali. Untuk menghadapi itu, pihaknya tengah menggencarkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di tatanan institusi hingga rumah pribadi. Ia mengklaim penggunaan PLTS Atap mengurangi ketergantungan Bali terhadap energi listrik dari fosil, seperti batubara.
“Kemudian dari sisi keandalan pengguna itu akan jadi andal, tidak tergantung dengan PLN yang sekarang ini memang akan puncak sudah 1.300-an MW,” papar Setiawan di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Senin lalu, 17 Agustus 2026.
1. Pemprov Bali berencana menambah kapasitas energi terbarukan

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan. (IDN Times/Yuko Utami) Menghadapi beban puncak kelistrikan, Pemprov Bali akan menyiapkan penambahan kapasitas pembangkit listrik dari energi terbarukan. Setiawan mengakui beban puncak ini tidak dapat terhindarkan.
“Memang kalau secara kapasitas beban puncak kita ini kan tiap tahun itu meningkat,” kata dia.
Ia mengklaim rencana penambahan pembangkit listrik tidak hanya dari sisi ketahanan energi, tetapi juga berdampak langsung dan tidak langsung terhadap pariwisata berkelanjutan di Bali.
“Dampak langsung tidak langsung terhadap keseimbangan alam di Bali. Nah, ini sedang berproses artinya pusat, provinsi, dan kabupaten kota,” papar Setiawan.
2. Bali membutuhkan bantuan PLN untuk pembangkit berskala besar

Ilustrasi PLN. (IDN Times/ Ayu Afria) Pengembangan ketahanan energi di Bali dipaparkan Setiawan melalui pembangkit listrik berskala besar dan kecil. Pada pembangkit listrik berskala besar membutuhkan bantuan PLN.
“Kalau energi skala besar sudah sudah pasti PLN yang dikerjakan juga PLN dulu. Ini sedang kita berproses,” imbuhnya.
Ia mengatakan sudah ada sejumlah lokasi yang akan didorong untuk menggunakan energi bersih seperti Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Kawasan tersebut akan ditargetkan sebagai Green Island (Pulau Hijau) pada 2030 mendatang.
Menurut Setiawan, penggunaan energi terbarukan ini akan perlahan menggantikan energi fosil yang menimbulkan polusi seperti batubara, bahan bakar minyak (BBM), dan solar.
Khusus pembangkit listrik berskala besar yang dikembangkan PLN, Setiawan menekankan butuh waktu 2 sampai 3 tahun untuk mempersiapkan instalasinya. Sambil menanti itu, pihaknya telah memperluas jangkauan penggunaan listrik berskala kecil dengan PLTS.
3. Pemprov masih ,elirik potensi LNG, pengamat sebut Bali masih punya banyak potensi energi

Field Organizer 350 Indonesia, Suriadi Darmoko. (IDN Times/Yuko Utami) Saat ditanya soal proyek LNG (Liquefied Natural Gas) atau Gas Alam Cair di Bali, Setiawan menjawab kabar terakhir ada kunjungan dari Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) ke titik lokasi bakal LNG.
“Terakhir bulan kemarin kan Komisi 12 sudah berkunjung ke lokasi, sudah menerima aspirasi,” ujarnya.
Ia mengatakan tahapannya dalam proses penerimaan aspirasi dan saran dari warga. Proyek ini rencananya akan ada di sekitar kawasan pantai Denpasar Selatan.
“Harapan kami di pemerintah ya tentunya bisa sama-sama memahami win-win untuk bisa diimplementasikan di Bali segera,” tegasnya.
Sementara itu, Suriadi Darmoko sebagai Field Organizer 350 Indonesia dalam wawancara dengan IDN Times pada 27 Juli 2026 lalu, mengatakan pembangunan infrastruktur gas dinilai melemahkan potensi energi terbarukan di Bali. Termasuk akan berdampak terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca.
Alih-alih bergantung pada infrastruktur gas, Darmoko menyoroti besarnya potensi energi terbarukan yang dimiliki Bali, baik dari sumber tenaga surya, angin, maupun air. Dokumen RUPTL milik PLN menyebutkan potensi PLTS Atap di Bali mencapai 4.800MW. Ini jauh melampaui beban puncak kelistrikan Bali sekitar 1.200MW.
“Kalau dari potensi dan kebutuhan, dari PLTS Atap saja, itu potensinya ada empat kali lipat dibanding kebutuhan saat ini,” kata Darmoko.



















