Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Pembersih Rumah yang Tampak Aman, Tapi Bisa Merusak

Kota Denpasar
4 min read
6 Pembersih Rumah yang Tampak Aman, Tapi Bisa Merusak
Ilustrasi perempuan bersih-bersih. (unsplash.com/Dane Deaner)
  • Beberapa pembersih yang tampak praktis tidak cocok untuk semua permukaan; tisu antiseptik dapat meninggalkan bekas pada dinding bercat dan memicu noda atau jamur pada sofa kain.
  • Tisu dapur berpotensi meninggalkan serat, garis, dan goresan pada permukaan halus. Lap mikrofiber menjadi alternatif karena menangkap kotoran tanpa membuat baret serta dapat digunakan ulang.
  • Pemutih, amonia, pembersih kaca, serta jeruk nipis atau cuka harus dipakai sesuai fungsi dan bahan permukaan. Jangan mencampur pembersih, terutama amonia dengan pemutih, karena berbahaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu berada dalam situasi sedang buru-buru bersih-bersih rumah karena ada tamu mau datang? Biasanya kamu langsung ambil botol pembersih yang paling dekat.

Sayangnya, tidak semua produk yang ada di rak pembersih itu aman dan efektif untuk semua permukaan. Beberapa kebiasaan kecil bisa bikin lantai, meja dapur, sampai sofa kesayanganmu jadi kusam atau rusak permanen. Simak 7 produk berikut ini yang bisa merusak peralatan rumah yang dikutip dari The Spruce.


  1. 1. Tisu basah antiseptik untuk semua permukaan

    Ilustrasi tisu basah (unsplash.com/towfiqu999999)
    Ilustrasi tisu basah (unsplash.com/towfiqu999999)

    Tisu basah antiseptik memang praktis banget buat dibawa dan dipakai kapan saja. Tapi tugas utamanya cuma satu, yaitu membasmi kuman. Kalau dipakai untuk membersihkan minyak membandel di sekitar kompor atau noda misterius di dinding, hasilnya kadang tidak maksimal.

    Hindari juga memakai tisu basah antiseptik untuk dinding bercat karena bisa meninggalkan bekas usapan. Bekas usapan ini baru kelihatan jelas saat kena sinar lampu atau matahari.

    Sofa kain pun sebaiknya jangan, karena bekas usapan yang basah dan lembap bisa jadi noda bahkan jamur, apalagi di cuaca lembap Indonesia. Kalau dipakai di meja makan atau talenan, bilas dulu dengan air bersih supaya makananmu nggak ikut beraroma tisu basah.

  2. 2. Tisu dapur untuk mengelap segalanya

    Ilustrasi menggunakan tisu.
    Ilustrasi menggunakan tisu. (Pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Banyak dari kita yang menganggap tisu dapur itu penyelamat saat ada tumpahan. Padahal tisu sering meninggalkan serpihan serat, mudah meninggalkan bekas garis, dan bisa menggores lapisan permukaan yang halus. Akibatnya, kamu justru mengelapnya dua kali, tapi hasilnya tetap kurang bersih atau kinclong.

    Kamu bisa menggantinya dengan lap mikrofiber yang bisa menangkap debu dan kotoran tanpa bikin baret. Kaca jendela dan cermin bisa mengilap hanya dengan sekali usap. Karena bisa dicuci lalu dipakai lagi, kamu jadi lebih hemat dan ikut mengurangi sampah.

  3. 3. Cairan pemutih untuk bersih-bersih sehari-hari

    Ilustrasi cairan pemutih. (Unsplash.com/Kelly Sikkema)
    Ilustrasi cairan pemutih. (Unsplash.com/Kelly Sikkema)

    Cairan pemutih memang ampuh membunuh kuman, jadi wajar kalau banyak rumah tangga menjadikannya andalan. Tapi dia bukan pengangkat kotoran, jadi daki dan noda bandel tetap butuh dibersihkan dengan cara lain. Penggunaan yang sembarangan juga bisa merusak perabot rumah tangga.

    Risikonya juga nyata. Satu percikan saja sudah cukup bikin baju atau handuk favoritmu bernoda permanen. Sebaiknya simpan pemutih untuk keperluan khusus, misalnya membasmi jamur di sela keramik kamar mandi. Sedangkan untuk kotoran sehari-hari, kamu tidak membutuhkannya.

  4. 4. Pembersih kaca untuk selain kaca

    Ilustrasi dapur. (unsplash.com/Collov Home Design)
    Ilustrasi dapur. (unsplash.com/Collov Home Design)

    Cairan pembersih kaca terlihat seperti produk serbaguna. Padahal, dia spesialis untuk permukaan mengilap dan tidak berpori seperti jendela dan cermin. Banyak produknya mengandung amonia yang bisa terlalu keras kalau dipakai di permukaan lain. Jadi jangan asal semprot ke meja atau lemari.

    Satu hal lagi yang sering terlewat, wangi segar bukan berarti kuman hilang. Kalau dipakai di meja dapur, kotorannya cuma berpindah tempat dan kuman tetap ada. Untuk meja makan atau dapur, pakai pembersih yang memang dirancang untuk itu.

  5. 5. Pembersih berbahan amonia

    Ilustrasi meja dari marmer. (Unsplash.com/Inside Weather)
    Ilustrasi meja dari marmer. (Unsplash.com/Inside Weather)

    Dulu amonia sempat jadi primadona lemari pembersih. Tetapi bukan berarti cocok untuk rumah masa kini. Bahan ini bisa merusak permukaan yang lebih halus seperti kayu dan granit, serta baunya yang menyengat tidak cocok untuk ruangan yang ventilasinya terbatas.

    Yang paling bahaya, amonia bisa berubah jadi gas berbahaya kalau dicampur dengan pembersih lain, terutama pemutih. Memang dia jago melarutkan lemak, kecuali untuk pekerjaan berat seperti membersihkan oven, lebih baik tidak mencari risiko. Apa pun produk yang kamu pakai, jangan pernah mencampur pembersih satu dengan yang lain.

  6. 6. Jeruk nipis dan cuka di atas batu alam

    Buah lemon yang bisa digunakan untuk bersih-bersih.
    Buah lemon yang bisa digunakan untuk bersih-bersih. (Pixabay.com/varintorn)

    Karena alami dan gak beracun, banyak orang mengira jeruk nipis maupun cuka aman dipakai di mana saja. Ternyata gak sesederhana itu. Sifat asamnya bisa pelan-pelan menggerus permukaan batu alam seperti marmer, dan membuat lantai atau meja menjadi kusam, belang, dan kehilangan kilap.

    Bukan berarti kamu harus membuang jeruk nipis dari daftar belanja pembersih. Dia tetap berguna di tempat yang tepat, misalnya untuk membersihkan microwave. Cukup pastikan permukaan yang kamu bersihkan memang cocok dengan bahan asam.

    Bersih-bersih itu bukan soal seberapa kuat produknya, tapi seberapa cocok dengan permukaan yang dibersihkan. Sebelum menyemprot atau mengepel, cek dulu bahan yang mau dibersihkan dan baca petunjuk pemakaian di kemasan. Hasilnya, rumah jadi bersih, barang awet, dan pengeluaran pun lebih hemat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More