Kelapa Tabanan Laris di Jawa, Tapi UMKM Belum Tembus Ekspor

- Potensi kelapa Tabanan belum tergarap maksimal; UMKM masih menjual kelapa butiran dan kopra untuk pasar domestik, meski produk turunan seperti arang dan briket berpeluang ekspor.
- Kelapa Bali diminati Jawa Tengah dan Jawa Timur karena santannya gurih; Desi mengirim 6.000 butir setiap tiga hari, membeli Rp3.000 dan menjual Rp4.000 per butir.
- Kelapa rusak diolah menjadi kopra hingga dua ton per bulan, sementara penebangan pohon untuk pembangunan menjadi perhatian dan UMKM meminta bimbingan pemerintah untuk mengembangkan ekspor.
Tabanan, IDN Times - Selain sektor pertanian dan dikenal sebagai lumbung pangannya Bali, Kabupaten Tabanan juga memiliki potensi di perkebunan. Satu di antaranha kelapa. Namun, potensi kelapa ini masih belum tergarap maskimal. Saat ini pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih sebatas menjual kelapa butiran dan kopra atau kelapa yang dikeringkan. Pasarnya pun masih domestik, terjauh dikirim ke Pulau Jawa.
Pelaku UMKM yang terjun di bidang komoditas kelapa, Komang Desi Purnama Sari, mengatakan seluruh bagian buah kelapa tidak ada yang terbuang jika dikelola dengan baik.
"Sabutnya bisa kita jual ke pengrajin genteng sebagai bahan bakar pembakaran genteng. Batoknya setelah dikeringkan akan menjadi arang. Kreatif sedikit bisa menjadi briket. Produk turunan kelapa ini memiliki potensi ekspor. Nah, di Tabanan belum ada pelaku UMKM yang ekspor," ujarnya, Minggu (16/8/2026).
1. Sebanyak 6000 butir kelapa untuk sekali pengiriman

Buah kelapa (commons.wikimedia/Filo Gen) Desi melanjutkan, Kelapa Bali sangat diminati di pasar luar Bali seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Harganya pun lebih tinggi dibandingkan dengan kelapa produk daerah lain seperti Lombok, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan Kalimantan. Alasannya, Kelapa Bali itu santannya memiliki rasa lebih gurih. Bahkan bisa diperas dua kali dan rasanya tetap gurih.
Dalam satu kali pengiriman, Desi bisa mengirimkan 6.000 butir kelapa yang sudah dikupas ke luar Bali. Kelapa yang dikirim ini berukuran besar seharga Rp3.000 per butir di tingkat petani.
"Kita bisanya melakukan pengiriman itu tiga hari sekali. Harga di petani saat ini Rp3.000 per butir dan kami jual kembali ke pasar Rp4.000 per butir," ujar Desi.
2. Kelapa reject diolah menjadi kopra
Kopra. (Wikimedia Commons) Kelapa yang tidak masuk spesifikasi untuk dijual ke luar Bali seperti dalam kondisi pecah atau rusak, tidak langsung dibuang. Desi mengolah kelapa reject ini menjadi kopra.
"Biasanya kita keringkan memakai oven atau dijempur. Musim kemarau seperti ini bisanya membutuhkan tiga hari untuk kering," kata Desi.
Untuk satu kilogram kopra membutuhkan 4 butir kelapa ukuran besar. Dalam satu bulan, ia bisa saja menghasilkan 2 ton kopra yang biasanya langsung habis terserap.
"Ada pengepul yang membeli. Harga kopra saat ini masih bagus ya. Sekitar Rp8.000 hingga Rp11.000 per kilogramnya," ujar Desi.
3. Pohon kelapa banyak ditebang untuk pembangunan

ilustrasi memanjat pohon kelapa (pexels.com/Justineliza) Kata Desi, kelapa sebenarnya tidak terlalu banyak perawatan. Kelapa biasanya akan berbuah secara konsisten dalam lima tahun. Namun ia mengamati, pohon kelapa di Bali Selatan sudah banyak ditebang untuk pembangunan seperti vila dan hotel.
"Untuk di Tabanan masih banyak tersedia, seperti di daerah Pupuan dan Selemadeg Timur," jelas Desi.
Menurutnya, kelapa memiliki potensi ekspor, tetapi belum ada pelaku UMKM di Tabanan yang sampai ke tahap ini.
"Karena itu kami juga meminta bimbingan pemerintah untuk diarahkan. Kami juga pelaku UMKM bersatu agar komoditas kelapa di Tabanan semakin maju lagi," ujarnya.








![[QUIZ] Tebak Pahlawan Bali dari Potongan Fotonya, Apakah Kamu Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20250403/1000052293-b34def433404c95ad3804d0c8047f6cd.jpg)
![[QUIZ] Uji Pengetahuan Organisasi Perjuangan Pemuda Pertama di Bali](https://image.idntimes.com/post/20210924/81152212-131544244648017-2799460370871087221-n-68b87bb63a44d61ccdc390660d8a4d77.jpg)








