Efek Samping Vaksinasi HPV, Menyasar Anak Kelas 5 SD di Bali

- Bali menargetkan imunisasi HPV bagi siswa kelas 5 SD atau usia sekitar 11 tahun melalui layanan jemput bola tenaga kesehatan ke sekolah.
- Vaksinasi diberikan kepada anak yang sehat; imunisasi ditunda bila demam tinggi, sakit, atau memiliki riwayat alergi berat sesuai penilaian dokter.
- Efek pascavaksin umumnya ringan: nyeri suntikan 80–90 persen, bengkak sekitar 50 persen, serta demam 10–15 persen yang biasanya hilang dalam satu-dua hari.
Denpasar, IDN Times - Bali akan menyasar anak kelas 5 sekolah dasar (SD) atau setara usia 11 tahun sebagai penerima manfaat imunisasi vaksin HPV. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Nyoman Gede Anom, Minggu (16/8/2026).
Pelaksanaan imunisasi vaksin HPV di Bali dengan sistem jemput bola ke sekolah-sekolah oleh para tenaga kesehatan (nakes). Anom meminta para nakes jeli terhadap kondisi kesehatan siswa sebelum divaksin. Sebab imunisasi ada persyaratan yang harus dipenuhi.
“Imunisasi pasti ada persyaratannya. Misalnya anak yang kondisi sehat itu bisa imunisasi. Kalau anak-anak kita sedang sedang demam tinggi, sakit, ya ditunda dulu imunisasi. Itu sudah pasti,” jelas Anom.
Selain dalam kondisi sehat secara menyeluruh, nakes juga diharapkan memperhatikan riwayat alergi anak-anak. Anak-anak dengan riwayat alergi berat disarankan untuk menunda proses vaksinasi.
“Untuk alergi yang berat mungkin kita juga tunda atau gimana itu nanti dokter yang di sana bisa saja ngomong juga,” imbuhnya.
Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Provinsi Bali, Sugita, mengamati efek pascaimunisasi pada anak didominasi gejala tipe ringan seperti nyeri di tempat suntikan, ada bengkak, dan demam.
Khusus pada gejala demam, mungkin akan sedikit mengganggu aktivitas anak. Meskipun demikian, dari vaksinasi sebelumnya kasus demam hanya 10-15 persen.
“Jadi, itu pun demam yang ringan yang tidak berlangsung lama ya, hampir kurang hanya 1 sampai 2 hari maksimal ya,” imbuhnya.
Sugita yang sehari-hari sebagai dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah Denpasar ini menambahkan, kasus nyeri pada area suntikan secara umum dialami 80 sampai 90 persen anak-anak. Nyerinya tidak berlangsung lama, kurang dari 24 jam sudah hilang. Sementara, kasus bengkak di area suntikan setelah vaksinasi sekitar 50 persen.
“Antigen yang akan muncul satu reaksi dari tubuh ya memunculkan bengkak yang sekitar 50 persen dan itu tidak terlalu lama. Itu kurang lebih mungkin sekitar 1 atau 2 hari sudah hilang,” papar Sugita.





![[QUIZ] Tebak Pahlawan Bali dari Potongan Fotonya, Apakah Kamu Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20250403/1000052293-b34def433404c95ad3804d0c8047f6cd.jpg)
![[QUIZ] Uji Pengetahuan Organisasi Perjuangan Pemuda Pertama di Bali](https://image.idntimes.com/post/20210924/81152212-131544244648017-2799460370871087221-n-68b87bb63a44d61ccdc390660d8a4d77.jpg)












