Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Duh, Puluhan Lontar Warisan di Desa Pupuan Tabanan Rusak Dimakan Rayap
Lontar milik warga di Desa Pupuan Tabanan (Dok. Istimewa)
  • Penyuluh Bahasa Bali Tabanan melakukan konservasi massal lontar di Desa Pupuan setelah banyak naskah warisan warga ditemukan rusak akibat rayap, tikus, dan penyimpanan lembab.
  • Dari hasil konservasi, isi lontar mencakup berbagai topik seperti usada atau pengobatan tradisional, babad sejarah, hingga kakawin yang sebagian masih sulit dibaca karena kondisi rapuh.
  • Lontar-lontar tersebut merupakan warisan keluarga dengan latar belakang pengobatan dan sastra Bali; tim konservasi juga memberi edukasi tentang perawatan fisik lontar agar lebih terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDN Times - Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Tabanan menggelar konservasi lontar massal di Desa Pupuan, Kecamatan Pupuan, Selasa (10/3/2026) lalu. Puluhan lontar yang dikonservasi merupakan milik tujuh orang warga dari desa tersebut.

Koordinator Konservasi Naskah Kabupaten Tabanan I Putu Darma Susila mengatakan, kegiatan konservasi ini dilakukan setelah adanya permintaan dari pemerintah desa setempat karena banyak lontar milik warga ditemukan dalam kondisi rusak. "Seluruh lontar tersebut dikumpulkan di kantor desa untuk memudahkan proses perawatan," ujarnya, Rabu (11/3/2026).

1. Lontar kebanyakan dalam kondisi rusak

Tim Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Tabanan saat melakukan konservasi lontar di Desa Pupuan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Darma Susila melanjutkan sebanyak puluhan cakep lontar yang dikonservasi, kondisinya cukup memprihatinkan. Bahkan ada satu lontar yang kondisinya terlalu rapuh hingga tidak berani dibuka. Jika dipaksa dibuka, lontar bisa hancur seperti kayu lapuk. "Lontar ini sebagian besar rusak karena dimakan tikus dan rayap, serta lembab karena lama disimpan,” ujarnya.

Ia melanjutkan kerusakan pada lontar biasanya dikarenakan cara penyimpanan yang kurang tepat. "Sebagian besar lontar disimpan terlalu lama di dalam keropak sehingga menjadi lembab dan kotor. Apalagi kondisi wilayah Pupuan yang relatif dingin juga membuat lontar mudah rusak," katanya.

2. Isi lontar beragam dari pengobatan tradisional hingga kakawin

Tim Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Tabanan saat melakukan konservasi lontar di Desa Pupuan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Dari konservasi yang dilakukukan, pihaknya menemukan isi lontar cukup beragam. Ada lontar yang berisi mengenai usada atau pengobatan tradisonal, ada yang soal babad hingga kakawin.

 "Dari pendataan sementara ada yang isinya usada, babad hingga kakawin. Sebagian masih berusaha kami identidikasikan karena kondisinya rapuh. Banyak yang harus ditangani dulu sebelum bisa dibaca,” jelas Darma Susila.

3. Lontar yang dimiliki warga merupakan warisan keluarga

Tim Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Tabanan saat melakukan konservasi lontar di Desa Pupuan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Darma Susila menambahkan, lontar yang dimiliki warga adalah lontar warisan keluarga yang dahulu memiliki keturunan yang berkecimpung di bidang pengobatan tradisional maupun kesusastraan Bali.

Ia melanjutkan, pihaknya di lapangan selain melakukan konservasi, tim juga memberikan edukasi kepada para pemilik lontar mengenai cara merawat dan menyimpan lontar dengan benar. "Selama ini pemilik hanya melakukan perawatan secara niskala melalui upacara, namun dari sisi sekala atau perawatan fisik masih kurang," katanya.

Editorial Team