Denpasar, IDN Times - Hari raya atau acara besar keluarga kerap menjadi momok tersendiri bagi seseorang yang masih berstatus single atau belum menikah. Tidak dimungkiri, bayang-bayang pertanyaan seperti 'kapan menikah?', 'mengapa tidak segera menikah?', menciutkan nyali hingga berpotensi memberikan pukulan mental. Banyak perempuan tidak siap mendapatkan pertanyaan tersebut. Apalagi, pertanyaan menukik soal pernikahan justru datang dari keluarga besar dan lingkungan sosial, bukan keluarga inti.
Salah seorang perempuan bernama Sita (28) berupaya bangkit sendiri dari keterpurukannya setelah gagal dalam pertunangannya pada 2022. Padahal, hubungan tersebut telah melibatkan keluarga besar. Kesalahpahaman dalam komunikasi memicu pasangannya untuk menghadirkan pihak ketiga dalam hubungan. Bermaksud mencari pelipur lara dengan menyibukkan diri bekerja, Sita justru berhadapan dengan sindiran halus dari keluarga. Bahkan, pihak keluarga besarnya sampai mengatur perjodohan yang sama sekali tidak ia kehendaki.
"'Kok bisa di usia segini belum menikah? Kenapa belum menikah?' Dan lain sebagainya. Sebenarnya kalau sekedar bertanya kapan nikah itu tidak mengganggu ya. Tapi kalau sudah ditahap bertanya kapan nikah terus mengulik terlalu dalam sampai akhirnya sindiran halus, 'kok umur segini belum nikah, apa sih yang dikejar, mau jadi perawan tua terus'," ungkapnya.
