Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BISA Helpline Tangani Ratusan Pesan Masalah Kesehatan Mental Tiap Hari

BISA Helpline Tangani Ratusan Pesan Masalah Kesehatan Mental Tiap Hari
Ilustrasi Kesehatan Mental Digital (Pexels/Polina Zimmerman)
Intinya Sih
  • BISA HELPLINE lahir dari inisiatif tiga penyintas mental saat pandemi COVID-19 yang awalnya menukar curhat dengan sembako, lalu berkembang menjadi ruang aman Bali Bersama Bisa pada 2020.
  • Sejak rebranding 2023, BISA HELPLINE menerima sekitar 300 pesan harian dari seluruh Indonesia, mayoritas perempuan usia 13–64 tahun, dengan isu utama seputar keluarga dan stigma sosial.
  • Layanan sempat terkendala pendanaan namun mendapat dukungan lembaga Australia untuk beroperasi hingga 2026, kini melayani konseling offline dan online bagi lebih dari seribu klien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

"Saat ini untuk kesehatan mental sendiri benar-benar distigma ya oleh masyarakat di Bali pada khususnya. Karena begitu kita membicarakan kesehatan mental, yang ada di benak pikiran masyarakat adalah itu orang gila."

Badung, IDN Times - Orang-orang yang memiliki isu kesehatan mental saat ini masih distigma atau termarginalkan. Tidak terkecuali di Pulau Bali yang merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Perkembangan layanan digital kesehatan mental tidak berkembang sepesat sektor pariwisatanya. Padahal isu kesehatan mental menjadi permasalahan yang dihadapi hampir semua orang. Kini, para survivor kesehatan mental  yang berada di Bali maupun luar Bali bisa bernapas lega dengan kehadiran BISA HELPLINE (sebelumnya bernama LISA HELPLINE).

Operation Manager Bali Bersama Bisa Foundation, Agus Hendrawan, mengatakan sejak rebranding pada 2023, jumlah pesan yang masuk ke BISA HELPLINE stabil sekitar 300 per hari dari WNI. Sebanyak 70 persen berasal dari luar Bali dan ditangani oleh sekitar 23 relawan.

"Kebanyakan range umurnya itu berada di angka 13 samai 64 tahun. Gender terbanyak 70 persen wanita. Kebanyakan menghubunginya di luar jam kantor, malam hari. Pada saat itu kan memang mereka gak ada rutinitas, koneksi dengan teman-temannya juga tidak ada," ungkapnya.

1. Layanan kesehatan mental diawali curhat yang ditukar dengan sembako saat pandemik

Bali Bersama Bisa
Bali Bersama Bisa Foundation (IDN Times/Ayu Afria)

BISA HELPLINE awalnya bernama LISA HELPLINE. Layanan ini diinisiasi tiga penyintas kesehatan mental, salah satunya warga Selandia Baru, saat pandemi COVID-19. Agus mengatakan awalnya mereka berkeliling Bali membagikan sembako kepada komunitas yang termarginalkan, dengan syarat penerima menyampaikan keluh kesah.

Dari keluhan tersebut, para inisiator menemukan pola persoalan yang sama. Hal itu kemudian mendorong pembentukan Bali Bersama Bisa pada 10 Oktober 2020 sebagai ruang aman bagi masyarakat untuk bercerita dan menyuarakan kondisi kelompok rentan.

"Bagi-bagi sembako dengan syarat untuk mendapatkan sembako ini teman-teman bercerita tentang keluh kesah mereka. Setelah bercerita dan ketemu ternyata mereka memiliki satu masalah yang sama, mereka tidak pernah memiliki tempat yang aman untuk mereka bisa bercerita dan didengarkan," ucapnya.

2. Ribuan pesan keluhan kesehatan mental diterima Bali Bersama Bisa

Bali Bersama Bisa
Bali Bersama Bisa Foundation (IDN Times/Ayu Afria)

Setahun kemudian, Bali Bersama Bisa Foundation resmi berbadan hukum dan meluncurkan layanan publik LISA HELPLINE sebagai saluran pencegahan bunuh diri. Layanan ini awalnya menggunakan dua telepon pintar dengan dukungan bahasa Indonesia dan Inggris, serta dikelola relawan WNI dan WNA.

LISA HELPLINE membuka layanan 24 jam dengan sistem pergantian petugas setiap empat jam. Relawan bertugas merespons pesan dan panggilan dari masyarakat yang membutuhkan dukungan mental.

"Nah, di tahun 2022 viral kan sampai waktu itu kan, sampai saat itu kami menerima sampai 11 ribu pesan masuk dalam waktu sehari. Kami memilih menyelamatkan dulu nih teman-teman volunteer sebelum nanti kacau kan. Karena memang sampai sistem WhatsApp itu restart, restart ulang lagi. Saking banyaknya WhatsApp dan telepon masuk," jelas Agus.

Ia menambahkan, mayoritas keluhan yang masuk berkaitan dengan masalah keluarga, dengan stigma keluarga sebagai pemicu utama.

3. Keberlanjutan sistem layanan kesehatan mental menemui kendala dukungan pendanaan

Bali Bersama Bisa
Bali Bersama Bisa Foundation (IDN Times/Ayu Afria)

Sistem ini kemudian dibangun kembali dengan bantuan beberapa pihak menjadi lebih tangguh dan dibuka pada 2023 dan berganti nama BISA HELPLINE. BISA HELPLINE kemudian kembali diuji, kerja sama sistem pembiayaan tidak diperpanjang oleh rekanan sehingga operasionalnya saat menggunakan sistem manual sejak 2024 hingga Februari 2026.

Kabar baik kemudian datang dari salah satu lembaga rehabilitasi swasta di Australia untuk memberikan dana funding selama 1,5 tahun sejak 2024. Bali Bersama Bisa Foundation kemudian mengembangkan layanan berkaitan mental dan sekaligus rawat jalan hingga saat ini yang buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 Wita (offline), dan layanan BISA HELPLINE pada pukul 09.00 Wita hingga 17.00 Wita.

"Selama dari bulan Februari (2025) sampai saat ini kami memiliki lebih dari 1.000 klien. Yang setiap hari Senin-Jumat ke sini untuk melakukan sesi konseling, untuk melakukan sesi support grup," pungkas Agus.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Bali

See More