Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sejarah Nasi Jenggo Khas Bali, Menolak Dipatenkan

Sejarah Nasi Jenggo Khas Bali, Menolak Dipatenkan
Anak pertama Men Djenggo, Henry Alexie Bloem. (IDN Times/Yuko Utami)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Nasi Jenggo pertama kali dibuat oleh Men Djenggo pada tahun 1970-an di Denpasar, terinspirasi dari nama kecil anaknya yang dipanggil Jenggo.
  • Hidangan ini awalnya berisi nasi babi guling dengan pilihan lauk sapi atau ayam, dijual seharga Rp50 per bungkus dan dipasarkan ke Pelabuhan Benoa.
  • Henry Alexie Bloem menolak mematenkan Nasi Jenggo karena ingin menjaga rezeki banyak orang, sementara ibunya berhenti berjualan pada 1982 untuk menjadi pemangku.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Denpasar, IDN Times - Anak dan cucu Men Djenggo atau Jro Mangku Ni Ketut Ngasti khidmat mengikuti rangkaian upacara ngaben di Krematorium Santhayana, Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Selasa (12/5/2026). Ada yang menyeka air mata sambil memandikan Men Djenggo, yang meninggal dunia akibat sakit diabetes dan komplikasi pada Sabtu lalu, 9 Mei 2026.

Anak dan cucu tahu lebih dulu siapa pelopor Nasi Jenggo yang sebenarnya. Anak pertama Men Djenggo, Henry Alexie Bloem (58), menuturkan bahwa Nasi Jenggo berasal dari nama kecilnya. Jenggo terinspirasi dari film koboi tahun 1966 berjudul Django, sebelum akhirnya warga dan wisatawan mengenal kuliner tersebut dengan nama Nasi Jinggo. Berikut ini sejarah Nasi Jenggo selengkapnya.

Nama Nasi Jenggo dari nama kecil anak pertama

alm bu djenggo 3.jpeg
Rangkaian upacara ngaben Men Djenggo dihadiri anak, cucu, hingga sahabat di dunia kuliner. (IDN Times/Yuko Utami)

Sekitar tahun 70-an, Ngasti berjualan nasi berbagai lauk pauk yang dibungkus daun pisang. Kala itu, isi lauknya tak seperti Nasi Jinggo sekarang yang berisi ayam suwir, mi, potongan tempe manis, dan sambal.

Kata Bloem–sapaan akrab Henry Alexie Bloem–ibunya justru menjual nasi babi guling dan ada pilihan jenis lauk pauk lainnya, mulai dari sapi hingga ayam. Proses memasak itu berlangsung di rumahnya kawasan Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.

Nasi bungkus daun pisang itu dijajakan ke Pelabuhan Benoa oleh tiga orang distributor (reseller). Orang yang membeli dan mencicipi nasi tersebut mulai bertanya “Siapa yang memasak?” Para distributor menjawab “Men Djenggo (Ibu Djenggo).”

Orang tua di Bali kerap dipanggil dengan nama anak pertamanya. Nasi bungkus daun itu kemudian dikenal dengan Nasi Men Djenggo. Supaya lebih ringkas, orang-orang mulai menyebutnya dengan nama Nasi Jenggo (ejaan baru).

“Kalau cerita tentang Nasi Jenggo, yang namanya Jenggo itu saya di Sesetan. Semua saudara-saudara, teman dekat lama, orangtua memanggil saya Jenggo. Memang panggilan saya Jenggo di rumah,” kata Bloem yang telah menjadi chef profesional selama 35 tahun, pada Selasa (12/5/2026).

Panggilan Jenggo berawal dari sang ayah yang gemar menonton film tahun 1966 tentang koboi berjudul Django. Ayahnya mulai memanggil Bloem kecil dengan nama Djenggo. Orang di sekitarnya ikut memanggil dia dengan nama itu. 

Nasi Jenggo awalnya seharga Rp50

alm bu djenggo 1.jpeg
Rangkaian upacara ngaben Men Djenggo dihadiri anak, cucu, hingga sahabat di dunia kuliner. (IDN Times/Yuko Utami)

Nasi Jenggo pada masa itu berbeda dari Nasi Jinggo sekarang. Fokusnya tidak terletak pada mi atau pedasnya sambal, tapi olahan daging babi guling. Men Djenggo kala itu juga menyediakan lauk selain babi guling, berupa olahan daging sapi dan ayam.

“Aslinya Nasi Jenggo adalah nasi babi guling, tapi ada pilihan lauk juga ayam, ada sapi,” tutur Bloem.

Masih terpatri dalam ingatan Bloem, sang ibu memulai proses pembuatan babi guling sekitar jam satu dini hari. Pukul 07.00 Wita, ia selesai memasak dan menghasilkan Nasi Jenggo 200 hingga 300 bungkus setiap hari. Jika ada pesanan dari kapal pesiar, terkadang Men Djenggo membuat 500 hingga 1000 bungkus. Nasi Jenggo itu kemudian dibawa oleh tiga pengepul yang datang ke rumahnya untuk dijual kembali di Pelabuhan Benoa. Harga sebungkusnya Rp50.

“Zaman itu yang makan sopir-sopir tangki Pertamina. Terus orang-orang yang pergi mau mancing ke sana, kemudian kuli-kuli pelabuhan juga,” imbuhnya.

Kini, pedagang Nasi Jenggo tersebar luas di berbagai daerah Bali. Beberapa rekan sesama chef sempat menyarankan Bloem untuk mematenkan Nasi Jenggo. Namun, Bloem menolak. Alasannya sederhana. Ia tidak ingin ada keributan, karena Nasi Jenggo telah menjadi hajat hidup banyak orang.

“Jadi, ya tanya teman-teman chef, kenapa gak dipatenkan? Gini, saya bilang gak usahlah. Rezeki orang banyak, nanti pada ribut. Ya, kira-kira seperti itu,” kata Bloem.

Men Djenggo berhenti jualan Nasi Jenggo tahun 1982

alm bu djenggo.jpeg
Anak kedua Men Djenggo, Kadek Epy Dwipayani memegang foto sang ibu pada upacara ngaben di Krematorium Santhayana, Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara. (IDN Times/Yuko Utami)

Men Djenggo berhenti jualan Nasi Jenggo pada 1982 karena ngiring (mengabdi) sebagai pemangku. Ia mulai mengurangi kegiatan duniawi dan fokus mendalami agama Hindu. Kadek Epy Dwipayani (55), anak kedua Men Djenggo, masih mengingat masa-masa saat membantu ibunya memasak Nasi Jenggo. 

“Masih ada babi gulingnya, ada sapinya. Kita punya beberapa karyawan untuk masak. Memang sehari bisa 1000 bungkus dan bawanya ke pelabuhan,” kenang Epy.

Epy sendiri berjualan Bubur Bali dan Nasi Lawar di Kelan, Kabupaten Badung. Ia tidak meminta perhatian dari pemerintah untuk melacak jejak sejarah Nasi Jenggo versi Men Djenggo. Meskipun ada pro dan kontra, Epy bersyukur bahwa cerita soal ibunya sebagai pelopor Nasi Jenggo tetap hidup.

Hari ini, Men Djenggo telah beristirahat selamanya. Meninggalkan warisan kuliner yang terus terjaga hingga saat ini. Proses ngelanus hingga ngelinggihang (rangkaian ngaben) Men Djenggo berlangsung sejak pukul 11.00 Wita hingga nanti malam di rumah duka.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More