Men Djenggo, Pelopor Nasi Jenggo Meninggal di Usia 90 Tahun

- Men Djenggo, pelopor Nasi Jenggo asal Bali bernama asli Jro Mangku Ni Ketut Ngasti, meninggal dunia di usia 90 tahun setelah lama berjuang melawan diabetes dan komplikasi jantung serta ginjal.
- Anak pertamanya, Henry Alexie Bloem, seorang chef profesional di Belanda, sempat diminta pulang oleh sang ibu sebelum wafat pada 9 Mei 2026 dan merasakan firasat kepergian ibunya.
- Anak keduanya, Kadek Epy Dwipayani, mengenang ibunya sebagai sosok penuh semangat dan pekerja keras yang menularkan nilai tolong-menolong serta kecintaan pada dunia kuliner kepada keluarganya.
Denpasar, IDN Times - Nasi putih dengan berbagai lauk pauk dan sambal pedas dibungkus daun pisang adalah ciri khas Nasi Jenggo. Fakta sejarah pencipta nasi ikonik ini masih tumpang tindih, tapi nama Men Djenggo mengemuka sebagai pelopor Nasi Jenggo yang berjualan sejak tahun 1970-an.
Perempuan bernama lengkap Jro Mangku Ni Ketut Ngasti meninggal dunia di usia 90 tahun. Ia memiliki dua anak yang menekuni dunia kuliner. Anak pertama adalah Henry Alexie Bloem (58), dan anak kedua Kadek Epy Dwipayani (55).
Nasi Jenggo terinspirasi dari film tema koboi tahun 1966 berjudul Django, tontonan kesukaan ayah mereka. Semasa kecil, anak pertama yang akrab disapa Bloem ini dijuluki Django oleh ibunya, dan beralih penyebutannya menjadi Djenggo.
Nama panggilan kecil Bloem itulah yang menginspirasi Ngasti saat berjualan Nasi Jenggo. Orang-orang jadi terbiasa memanggil sang ibu diikuti dengan nama anak pertamanya: Men Djenggo, yang berarti ibu dari Jenggo. Bagaimana perjalanan legenda kuliner Bali, Men Djenggo hingga meninggal dunia? Berikut kisah selengkapnya.
1. Sakit diabetes dan komplikasi

Bloem menyapa awak media dengan tegar. Ia mengungkapkan sang ibu menderita sakit diabetes sejak tahun 1995. “Beliau sudah lama sakit, komplikasi gula darah, kaki kanan jari-jarinya sudah diamputasi kira-kira sebulan lalu,” tutur Bloem di Krematorium Santhayana, Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Selasa (12/5/2026).
Selama 10 terakhir menjelang tutup usia, dokter memvonis Ngasti mengalami komplikasi jantung dan gagal ginjal. Berbagai pengobatan telah dilalui, tapi rasa sakit menahun membuat Ngasti tak kuat bertahan.
2. Bloem diminta pulang sebelum ibunya tutup usia

Mewarisi darah pegiat kuliner dari sang ibu, Bloem berkarier sebagai chef profesional selama 35 tahun. Ia bekerja di Belanda sejak 2021. Sebelum berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara chef expo sebagai juri dan demonstrasi masak, Bloem sempat mengantar sang ibu ke rumah sakit pada 28 April 2026. Kamis malam, 7 Mei 2026, Epy menelepon Bloem untuk menyampaikan pesan sang ibu.
“Kamis malam itu adik saya (Epy) telepon ditunggu sama Meme (Ibu). Katanya kamu harus pulang,” ujar Bloem.
Ia tidak langsung mendapatkan tiket pesawat pada hari itu. Bloem baru bisa pulang ke Bali pada Jumat, 8 Mei 2026. Sebelum ibunya meninggal, Bloem seolah merasakan kehilangan napas sekitar pukul 07.00 Wita, pada Sabtu (9/5/2026).
“Hari Sabtunya meninggal, yang saya shock jam 07.00 itu saya sempat bangun. Kayak orang orang hilang napas gitu. Saya tidur kaget, ternyata Ibu kasih tanda kalau dia sudah meninggal jam 07.00 pagi,” ujar Presiden Indonesian Chef Association (ICA) tahun 2008-2022.
3. Kenangan manis anak kedua saat mengingat Men Djenggo

Selama Bloem aktif berkarier sebagai chef profesional di Negeri Kincir Angin, Epy memilih berjualan nasi di Kelan, Kabupaten Badung. Ia kerap menemani sang ibu berjuang melawan penyakitnya. Tak ada firasat, tapi Epy mencoba ikhlas saat tahu ibunya tidak dapat sembuh.
“Karena sudah lama juga keluar-masuk ke rumah sakit. Dia merasa kayaknya ini sudah dekat. Sudah gak kuat juga nahan sakitnya.” Epy mencoba menahan tangis saat menceritakan ini.
Epy kerap membantu ibu menyiapkan ratusan porsi Nasi Jenggo sejak remaja. Nilai semangat hidup sang ibu mengalir dalam hidup Epy. “Ibu saya orangnya semangat, semangat untuk hidup, semangat untuk bekerja. Semangat untuk saling tolong-menolong ke orang,” kenangnya.
Sang ibu tidak melanjutkan dagangan Nasi Jenggo karena ngiring (mengabdi) sebagai pemangku pada 1982. Epy berharap anak dan cucu ada yang mewarisi giat dunia kuliner, serta dan semangat tolong-menolong Ni Ketut Ngasti. Selamat jalan Men Djenggo.














![[QUIZ] 5 Macam Panca Yama Brata, Ini Tokoh Ghost in the Cell Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_3be2c6dafebc4ec8d3bcfd8e8f762c0d_840b9682-cceb-4a5a-be86-87d10382e4ae.jpg)



