Hari Raya Galungan, Sampah di TPS Kreneng Menunggu 4 Jam Diangkut

- Setelah Hari Raya Galungan, antrean moci di TPS Kreneng mencapai empat jam karena kemacetan parah hingga 15 kilometer di TPA Suwung.
- Banyak pengangkut sampah terpaksa membawa pulang moci berisi sampah dan menunggu hingga pagi berikutnya untuk kembali ke TPS.
- Johari menyoroti kurangnya kedisiplinan warga dalam memilah sampah, yang membuat proses pembuangan semakin rumit dan sering ditolak di TPA.
Denpasar, IDN Times - Tiga hari setelah perayaan Galungan, antrean motor cikar (moci) pengangkut sampah keliling mengular di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Kreneng, Jalan Cempaka, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Sabtu (20/6/2026).
Seorang pengangkut sampah swakelola, Johari (60), mengaku kesulitan mengangkut sampah secara rutin sesuai jadwal setelah Galungan.
“Jadi semenjak mulai Galungan ini kadang-kadang hampir satu kali baliknya lagi, sudah gak bisa buang,” ujar Johari di TPS Kreneng, pada Sabtu (20/6/2026).
Johari dan pengangkut sampah lainnya berada di TPS Kreneng sejak pukul 09.30 Wita. Ditemui pada pukul 13.00 Wita, sampah plastik di mocinya belum terangkut petugas untuk dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Apa penyebabnya? Berikut informasi selengkapnya.
1. Macet parah di TPA Suwung

Johari biasa mengangkut sampah dari 200 kepala keluarga (KK) di kawasan Banjar Pucak Sari, Desa Dangin Puri Kauh, Kecamatan Denpasar Utara. Pada hari biasa tanpa hari raya, Johari dan pengangkut sampah lainnya bisa beroperasi 3–4 kali dengan waktu tunggu parkir sekitar 30 menit. Tapi saat hari raya, waktu tunggu bisa mencapai 4 jam. Ia hanya mampu mengangkut sampah sekali saja.
“Mengambil lagi sudah gak bisa turun. Ya kayak ini markir, sudah ditinggal pulang semua. Jadi semenjak habis Galungan ini tambah parah, tiga sampai empat jam gak bisa turun,” katanya.
Sambil menunjuk truk sampah besar milik Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, Johari bercerita truk baru tiba di TPS Kreneng pada siang hari sejak berangkat pukul 05.00 Wita. Ia mendapat kabar dari sopir truk sampah Pemkot, terdapat antrean panjang truk di TPA Suwung.
“Ini gak bisa angkut lagi karena di sana (TPA Suwung). Macetnya luar biasa 15 kilometer,” kata Johari.
Tidak hanya Johari, sejumlah moci pengangkut sampah lainnya tampak terparkir rapi di pinggir Jalan Cempaka. Moci tersebut membawa muatan sampah plastik.
2. Bawa pulang moci yang masih terisi sampah

Johari mengendarai moci yang masih terisi sampah plastik. Ia akhirnya membawa pulang ke rumahnya, dan kembali membawanya ke TPS Kreneng besok pagi.
“Bawa pulang sampahnya, ini teman-teman juga. Besok pagi datang ke sini jam 05.30 Wita,” kata Johari sambil bersiap ke mocinya.
Kata Johari, sejumlah moci lainnya juga ada yang dibawa kembali ke banjar masing-masing. Langkah itu untuk memberi tahu warga banjar bahwa sampah belum terangkut.
“Jadi kalau sudah diserahkan di banjar, nanti sudah (pihak) banjar yang ngasih tahu sama warga gitu bahwa sampah belum terangkut,” jelasnya.
3. Kedisiplinan warga dalam pilah sampah

Ada sekitar 30 lebih unit moci pengangkut sampah di TPS Kreneng dengan wilayah operasional di kawasan Kecamatan Denpasar Utara. Johari mematok biaya angkut sampah terpilah setiap bulan sebesar Rp30 ribu untuk penghuni indekos, dan rumah tangga Rp50 ribu.
Selain tantangan hari raya, Johari kerap menemukan warga yang belum memilah sampah secara maksimal. Sementara, sistem pengecekan sampah saat ini semakin ketat.
Ia menyontohkan saat mengangkut sampah khusus sesajen, tidak boleh ada plastik yang tertinggal. Johari telah menjalani pekerjaan sebagai pengangkut sampah selama tiga dekade lebih. Ia mengakui masalah sampah semakin rumit setiap harinya.
“Ya, masalah warga itu ya tetap mau memilah. Cuman kalau tercampur itu kadang-kadang gak bisa turun (ditolak oleh TPA Suwung) dah,” pungkas Johari.


















