Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bagiarta Merawat Tradisi Tenun Bali di Tengah Tantangan Produksi

Bagiarta Merawat Tradisi Tenun Bali di Tengah Tantangan Produksi
Kain tenun tradisional Bali. (Dok. BRI Denpasar)
Intinya Sih
  • Usaha tenun Bagiarta berawal dari tradisi keluarga sejak 1989 dan kini berkembang dengan melibatkan banyak penenun lokal yang bekerja menggunakan alat tenun bukan mesin.
  • Permintaan kain tradisional Bali seperti kamen dan sarung mencapai ratusan lembar per bulan, namun proses produksi tetap dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu lama.
  • Kenaikan harga benang membuat kebutuhan modal meningkat, mendorong Bagiarta memanfaatkan dukungan pembiayaan bank untuk memperkuat usaha sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Klungkung, IDN Times - Di tengah arus modernisasi industri tekstil, kain tenun tradisional Bali masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Permintaan yang terus meningkat, membuat usaha tenun ikat milik I Wayan Bagiarta tetap bertahan dan berkembang hingga kini.

Usaha yang dirintis keluarganya sejak 1989 itu berawal dari aktivitas sang ibu yang menenun secara tradisional di rumah. Dari usaha rumahan tersebut, jaringan produksi kemudian berkembang dengan melibatkan para penenun lokal di sejumlah wilayah Bali yang bekerja menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

“Awalnya orangtua yang menenun. Dari tahun 1989 mulai berkembang sampai punya banyak penenun,” ujar Bagiarta dalam keterangan yang diterima IDN Times, Sabtu (20/6/2026).

1. Berawal dari usaha keluarga yang berkembang puluhan tahun

Kain tenun tradisional Bali. (Dok. BRI Denpasar)
Kain tenun tradisional Bali. (Dok. BRI Denpasar)

Perjalanan usaha tenun Bagiarta dimulai dari tradisi menenun yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga. Seiring waktu, permintaan pasar yang terus bertambah membuat usaha tersebut berkembang dan mampu memberdayakan banyak penenun lokal.

Pada masa puncaknya, usaha ini melibatkan hingga 15 penenun yang memproduksi berbagai jenis kain tradisional Bali. Hingga kini, produksi tetap berjalan melalui sistem kemitraan, di mana para penenun bekerja dari rumah masing-masing.

“Awalnya orangtua yang menenun. Dari tahun 1989 mulai berkembang sampai punya banyak penenun,” katanya.

2. Permintaan tinggi, produksi masih mengandalkan cara tradisional

ilustrasi benang jahit
ilustrasi benang jahit (unsplash.com/Bozhin Karaivanov)

Produk tenun yang dihasilkan meliputi kamen, sarung, hingga kain jumputan yang banyak digunakan untuk kebutuhan adat dan seragam organisasi masyarakat. Pemasarannya menjangkau berbagai toko kain dan sentra kebaya di Bali.

Setiap bulan, permintaan mencapai sekitar 500 lembar kamen dan 500 sarung. Namun proses produksi membutuhkan waktu yang cukup panjang karena seluruh pengerjaan masih dilakukan secara tradisional oleh para penenun.

“Permintaan tetap ada dan cukup banyak, cuma pengerjaannya memang tidak bisa cepat karena semuanya masih tradisional,” katanya.

3. Harga benang naik, permodalan menjadi kebutuhan penting

ilustrasi BRI menyiapkan uang tunai (dok. BRI)
ilustrasi BRI menyiapkan uang tunai (dok. BRI)

Di balik tingginya permintaan pasar, para pelaku usaha tenun menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku. Harga benang yang sebelumnya sekitar Rp400 ribu per pak kini meningkat menjadi sekitar Rp900 ribu per pak, sehingga kebutuhan modal usaha semakin besar.

Untuk memperkuat kapasitas produksi, Bagiarta memanfaatkan dukungan pembiayaan untuk pengembangan usaha, termasuk membangun homestore. Langkah tersebut dilakukan agar usaha yang telah berjalan puluhan tahun itu dapat terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“BRI mendukung kegiatan usaha pertenunan Wayan Bagiarta yang telah memberdayakan penenun lokal. Dengan demikian ekonomi masyarakat juga dapat hidup dan bergerak,” ujar Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya.

Menurut Hery, dukungan terhadap UMKM berbasis budaya lokal tidak hanya membantu pelaku usaha bertahan, tetapi juga menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah. Selain itu, sektor ini turut menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak masyarakat.

Ia menambahkan kebutuhan modal akan terus meningkat seiring bertambahnya pelaku usaha dan berkembangnya skala bisnis. Karena itu, sektor perbankan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama pada sektor riil yang berbasis usaha masyarakat.

“Permodalan berupa pinjaman akan selalu dibutuhkan masyarakat untuk pengembangan usaha maupun memperbesar size usahanya. Di sinilah peran bank dalam mendorong pertumbuhan ekonomi terutama sektor riil,” katanya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Bali

See More