Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tiga Alasan Sembahyang Hari Raya Kuningan Sebelum Pukul 12 Siang

Tiga Alasan Sembahyang Hari Raya Kuningan Sebelum Pukul 12 Siang
Ilustrasi sembahyang. (IDN Times/Rehuel ​Willy Aditama)
Intinya Sih
5W1H

  • Hari raya Kuningan identik dengan nasi kuning dan gantungan sesajen

  • Persiapan hari raya Kuningan dimulai 10 hari sebelumnya

  • Sembahyang sebelum pukul 12 siang hanyalah saran, bukan keharusan

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Selamat Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu Bali. Hari ini tepat 10 hari setelah perayaan Hari Raya Galungan. Biasanya sesajen Hari Raya Kuningan identik dengan nasi berwarna kuning yang berasal dari kunyit.

Keunikan lainnya, gantungan atau sesajen yang digantung di pura maupun tempat sembahyang di rumah. Saat Kuningan, ada empat macam gantungan.

Keempat macam gantungan ini punya ciri khas bentuk dan fungsinya masing-masing, intinya berfungsi sebagai pelindung secara niskala. Serta simbol perayaan yang meriah dan penuh semangat kemenangan kebaikan.

Selain itu, umat Hindu Bali mengejar waktu sembahyang sebelum pukul 12 siang. Kira-kira kenapa demikian ya? Yuk simak penjelasan selengkapnya.

Jauh hari sebelum Kuningan, ada waktu untuk persiapkan

Ilustrasi canang. (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi canang. (IDN Times/Yuko Utami)

Penjelasan soal sembahyang Hari Raya Kuningan harus lebih awal, sejatinya berkaitan dengan waktu persiapannya yang cukup panjang. Ada rentang waktu 10 hari untuk mempersiapkan sesajen yang akan dipersembahkan.

Sementara itu, sehari sebelum Kuningan atau hari Jumat Wage Kuningan, disebut juga Penampahan Kuningan, telah dijelaskan dalam lontar. Berdasarkan Lontar Sundarigama, sebenarnya tidak menyebutkan upacara yang mesti dilangsungkan pada hari ini, hanya berupa anjuran untuk melakukan kegiatan persembahyangan. Anjuran itu berupa bait kalimat pendek Sapuhakena malaning jnana yang bermakna lenyapkanlah pikiran yang buruk atau kotor. 

Saat Hari Raya Kuningan, para dewa dan dewi kembali ke surga pada siang hari

ilustrasi Dewa Siwa (pixabay.com/spoudel2345)
ilustrasi Dewa Siwa (pixabay.com/spoudel2345)

Lalu, esok hari tepatnya pada Saniscara Kliwon atau disebut Kuningan, Lontar Sundarigama menyebutkan ketentuan sederhana. Yaitu upacara mempersembahkan sesajen pada Hari Raya Kuningan hendaknya dilaksanakan pada pagi hari, serta menghindari upacara lewat tengah hari. 

Alasannya, para Dewata dan Dewa Pitara (dewa-dewi penghuni surga) diceritakan kembali ke surga atau istilahnya Dewa mur mwah maring Swarga. Melalui penjelasan itu, sudah cukup jelas bahwa ketentuan sembahyang sebelum pukul 12 siang saat Kuningan tidaklah wajib, melainkan sebuah saran.

Kamu jangan terburu-buru, tetap utamakan kemampuan dan ketulusan hati

Ilustrasi sembahyang di pura. (IDN Times/Yuko Utami)
Ilustrasi sembahyang di pura. (IDN Times/Yuko Utami)

Kuningan dan segala perayaan Hindu di Bali, kunci utamanya adalah sembahyang dengan hati tulus dan pikiran jernih. Jangan sampai terburu-buru mengejar waktu sembahyang sebelum pukul 12 siang, sehingga jadi lupa makna sejati dari persembahyangan.

Bukannya menenangkan jiwa raga dan bersyukur, nanti kamu malah jadi buru-buru dan enggak fokus.

Dalam penjelasan di Lontar Sundarigama, sembahyang sebelum pukul 12 siang hanyalah saran, bukan keharusan. Jadi, sebelum sembahyang, kamu harus menenangkan isi pikiran dan hati. Sehingga, doamu tersampaikan dengan tulus ikhlas tanpa kehilangan maknanya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
Ita Lismawati F Malau
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani

Latest News Bali

See More