Berbeda setelah wabah COVID-19 melanda Pulau Bali. Haris mengaku pendapatan ekonominya merosot drastis. Ia mulai merasakannya pada bulan Januari 2020. Ia mendapatkan pendapatan sebesar Rp2,5 juta per bulan. Keadaan semakin parah ketika memasuki bulan Februari 2020. Orderannya mulai sepi dan ia hanya mengantongi Rp2 juta sebulan. Bulan Maret menjadi yang terparah. Dua minggu awal, Haris hanya memegang uang Rp500 ribu.
“Sangat buruk. Cari orderan gak ada sama sekali. Sehari dapat tiga, dapat besar-besar lumayan. Belum makan, bensin dan cicilan. Paling Rp300 ribu pulang. Sebelumnya bisa Rp500 ribu,” katanya.
Apakah pendapatan itu cukup untuk membiayai kehidupannya selama di Bali? Haris menjawab "Tentu tidak." Sebab pembayaran cicilan kendaraannya telah menunggak sejak lama karena sepinya orderan. Pun yang biasanya menurunkan dan menaikkan penumpang di bandara sekali jalan, kini sudah tidak ada lagi.
“Ya wes dedel duel mbak. Hancur lebur. Belum bayar cicilan mobil, motor. Kosan saja saya belum bayar,” ungkap pria asal Banyuwangi, Jawa Timur ini.
Dengan kondisi seperti ini, ia berencana untuk mencari kerja lain. Serabutan di luar Pulau Bali. Supaya bisa memenuhi tanggungan cicilan dan kosannya.