Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ketergantungan Karangasem pada Galian C Disorot DPRD
I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok. istimewa)
  • DPRD Karangasem menyoroti ketergantungan daerah pada galian C yang dinilai berisiko terhadap lingkungan dan menghambat pembangunan berkelanjutan.
  • Pemerintah didorong mengalihkan sumber pendapatan ke sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang lebih ramah lingkungan serta sesuai tren wisata alami.
  • Perbaikan sistem perizinan dianggap penting untuk menciptakan kepastian hukum, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing Karangasem di Bali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
24 April 2026

Ketua Pansus III DPRD Karangasem, Wayan Sumatra, menyoroti dominasi aktivitas galian C di Karangasem dan memperingatkan risiko kerusakan lingkungan serta dampak sosial jika dibiarkan.

kini

Pemerintah daerah didorong untuk mengalihkan sumber pendapatan dari sektor tambang ke pariwisata dan ekonomi kreatif, serta memperbaiki sistem perizinan guna menarik investasi yang lebih berkelanjutan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    DPRD Karangasem menyoroti ketergantungan daerah terhadap aktivitas galian C yang dinilai terlalu dominan dan berisiko menghambat pembangunan berkelanjutan.
  • Who?
    Ketua Pansus III DPRD Karangasem, Wayan Sumatra, bersama anggota dewan lainnya yang membahas arah kebijakan ekonomi daerah.
  • Where?
    Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, dengan fokus pada wilayah-wilayah yang memiliki aktivitas pertambangan mineral bukan logam dan batuan.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Jumat, 24 April 2026, saat pembahasan mengenai arah pembangunan ekonomi daerah berlangsung.
  • Why?
    Kekhawatiran muncul karena eksploitasi sumber daya alam dianggap dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan sosial yang lebih besar dibanding manfaat ekonominya.
  • How?
    DPRD mendorong pemerintah daerah memperbaiki sistem perizinan, mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai alternatif pendapatan yang lebih ramah lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Karangasem banyak orang ambil pasir dan batu buat uang, tapi bapak di DPRD namanya Wayan Sumatra bilang itu bisa bikin alam rusak. Katanya pemerintah harus cari cara lain biar dapat uang, seperti dari wisata dan kerja kreatif. Sekarang mereka mau betulin izin supaya orang mau investasi dengan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sorotan DPRD terhadap ketergantungan Karangasem pada galian C menunjukkan kesadaran baru untuk memperkuat fondasi pembangunan yang lebih berkelanjutan. Dorongan agar pemerintah mengembangkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan perbaikan sistem perizinan mencerminkan tekad membangun ekonomi yang lebih beragam, ramah lingkungan, serta menarik bagi investor dengan kepastian hukum yang lebih baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Karangasem, IDN Times Bali - Ketergantungan Kabupaten Karangasem terhadap aktivitas galian C mulai disorot sebagai potensi titik lemah pembangunan daerah. Sektor yang selama ini jadi andalan ekonomi itu dinilai berisiko menghambat peralihan menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Ketua Pansus III DPRD Karangasem, Wayan Sumatra, menilai praktik pertambangan mineral bukan logam dan batuan (MBLB) terlalu dominan tanpa pengawasan ketat. Menurutnya, orientasi eksploitasi sumber daya alam berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang yang lebih besar dibanding manfaat ekonomi saat ini.

“Kalau terus dibiarkan, kerusakan lingkungan, infrastruktur, hingga dampak sosialnya akan jauh lebih mahal untuk dipulihkan,” ujarnya, Jumat, (24/4/2026).

1. Pemerintah Karangasem harus berani ubah sumber pendapatan dari sumber daya tidak terbarukan

I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok.IDN Times/Istimewa)

Sumatra menegaskan, Karangasem perlu segera keluar dari pola pembangunan lama yang bergantung pada eksploitasi sumber daya tak terbarukan. Ia mendorong pemerintah daerah mulai mengarahkan pendapatan melalui sektor yang lebih produktif dan ramah lingkungan.

Ia juga menyoroti praktik penjualan material pasir yang dinilai belum memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah. Selama ini, pendekatan yang digunakan masih berfokus pada volume, bukan kualitas.

“Pasir itu aset, bukan komoditas murah. Harus dikelola dengan bijak supaya manfaatnya optimal tanpa merusak lingkungan,” katanya.

2. Pariwisata dan ekonomi kreatif jadi peluang sumber pendapatan baru

I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok.IDN Times/Istimewa)

Di tengah tekanan terhadap sektor tambang, peluang justru terbuka di sektor lain seperti pariwisata dan ekonomi kreatif. Karangasem dinilai punya potensi besar, terutama dengan tren wisata yang mulai bergeser ke destinasi yang lebih tenang dan alami.

Selain itu, meningkatnya tren kerja jarak jauh (remote working) juga bisa menjadi peluang baru bagi daerah. “Sekarang banyak orang mencari tempat tinggal dengan kualitas hidup lebih baik. Karangasem punya itu, tinggal bagaimana disiapkan dengan serius,” imbuhnya.

3. Fokus pada perbaikan sistem perizinan

I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok.IDN Times/Istimewa)

Menurutnya, pemerintah saat ini harusnya lebih fokus pada perbaikan sistem perizinan agar lebih tertib dan memberi kepastian hukum bagi investor. “Kalau perizinan jelas, iklim investasi juga sehat. Investor tidak akan ragu masuk,” tegasnya.

Meski memiliki potensi, Sumatra mengakui realisasi investasi di Karangasem masih tertinggal dibanding daerah lain di Bali. Ia mengingatkan, tanpa pembenahan regulasi dan peningkatan kenyamanan berusaha, daerah ini bisa kalah bersaing dalam menarik investor.

“Kalau tidak ada kepastian dan kesiapan, investor pasti pilih daerah lain. Ini yang harus segera dibenahi,” tandasnya.

Editorial Team