Tulamben Jadi Contoh Desa Wisata Tangguh Bencana di Karangasem

- Desa Tulamben di Karangasem ditetapkan sebagai proyek percontohan Desa Wisata Tangguh Bencana (DEWATA-TANA) untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat fenomena El Nino dan kondisi geografis rawan.
- Program ini merupakan kolaborasi BPBD Karangasem, Kementerian Luar Negeri Jepang melalui A-PAD Indonesia, serta pemerintah desa, dengan fokus pada penguatan kapasitas penanggulangan bencana di sektor pariwisata sejak 2022.
- A-PAD Indonesia mendorong sertifikasi kesiapsiagaan bencana bagi pelaku wisata dan pembentukan tim verifikator agar standar kesiapsiagaan diterapkan konsisten di hotel serta akomodasi pariwisata.
Karangasem, IDN Times - Fenomena El Nino memasuki wilayah Bali pada April 2026 akan berpotensi kemarau. Menghadapi situasi ini, langkah penanganan bencana mulai dari pra, saat dan, pasca bencana menjadi krusial.
Kompleksitas bencana di tengah tantangan situasi iklim, membuat penanggulangan bencana membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri (MOFA) Jepang melalui A-PAD Indonesia untuk penanganan bencana multisektoral.
Tahun 2026, A-PAD Indonesia kembali melanjutkan upaya kesiapsiagaan bencana yang diawali dengan kegiatan Diseminasi Program Penguatan Ketangguhan Sektor Pariwisata dan Masyarakat di Kawasan Destinasi Wisata di Wilayah Karangasem.
Karangasem sebagai daerah rawan bencana

Program penguatan tangguh bencana untuk sektor pariwisata di Bali telah berlangsung sejak tahun 2022. Khususnya di Kabupaten Karangasem, program ini secara teknis dikerjakan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem dan Pemerintah Desa Tulamben. Inisiatif inovasi ini juga menggabungkan Desa Wisata dan Desa Tangguh Bencana menjadi Desa Wisata Tangguh Bencana (DEWATA-TANA).
Sekretaris Daerah Kabupaten Karangasem, I Ketut Sedana Merta, mengatakan kerjasama ini merupakan implementasi dari Undang-undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Penanggulangan bencana merupakan urusan bersama dengan melibatkan semua unsur (helix) yang ada.
“Contohnya pandemik COVID-19, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), flu burung, flu babi dan tahun 2017 saat peningkatan aktivitas Gunung Api Agung. Saat itu Gunung Api Agung belum sepenuhnya erupsi, tapi kerugian negara sudah sampai 11 triliun akibat menurunnya aktivitas pariwisata di Bali,” ujar Sedana pada Senin lalu, 13 April 2026.
Tulamben menjadi percontohan desa wsiata tangguh bencana

Pengalaman bencana tersebut menjadi landasan untuk melakukan penguatan kapasitas penanggulangan bencana yang dibangun dari tingkat lokal maupun desa. Sedana menyebutkan DEWATA-TANA Desa Tulamben merupakan proyek percontohan di Indonesia. Ia berharap inisiatif ini mampu berkembang di setiap desa yang memiliki potensi wisata, sehingga wisata tak hanya indah tapi juga tangguh dari bencana.
Wilayah Karangasem berada di dalam kawasan jalur cincin api. Terapit di area dekat dengan aktivitas vulkanik gunung api, gempa bumi dan tsunami. Inisiatif ini hadir sebagai rangkaian panjang dari program yang telah dimulai sejak tahun 2016. Fokus awalnya pada penguatan forum pengurangan risiko bencana di tingkat Provinsi di Bali dan Nusa Tenggara Barat.
Mendorong penyusunan siap siaga bencana akomodasi wisata

Project Leader A-PAD Indonesia, Anton R Purnama, menjelaskan pada 2020, program berkembang dengan memberikan perhatian khusus pada sektor pariwisata dengan skema sertifikasi kesiapsiagaan bencana kepada pengusaha di dunia pariwisata. Penentuan lokasi program dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Pariwisata RI dan Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
“Pendekatan ini sejalan dengan visi A-PAD Indonesia sebagai multisectoral hub, yaitu membangun platform kolaborasi lintas sektor melalui berbagai inisiatif program,” kata Anton.
Integrasi sejumlah aspek krusial penanggulangan bencana turut disertakan dengan BPBD sebagai pemimpin. Mulai dari sistem peringatan dini, perlindungan tenaga kerja, serta kesiapsiagaan operasional di sektor pariwisata. Pihaknya mendorong penyusunan standar kesiapsiagaan bencana bagi hotel dan akomodasi pariwisata, dengan memastikan keselarasan dan menghindari tumpang tindih regulasi yang telah ada.
“Salah satu hasil penting dari inisiatif ini adalah terbentuknya tim verifikator kesiapsiagaan bencana, yang berfungsi untuk memastikan bahwa standar yang telah disusun dapat diterapkan secara konsisten di lapangan,” imbuhnya.
![[OPINI] Krisis Kepercayaan Publik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia](https://image.idntimes.com/post/20240622/edwin-andrade-4v1dc-eocwg-unsplash-1-6863b62c2bfc9a4c0bdfe6caacd76b0e-69d807e48394b00a0b6fd2ee33358cf8.jpg)

![[QUIZ] Uji Pengetahuanmu Tentang Tumpek Landep](https://image.idntimes.com/post/20220406/tumpeklandep1-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-ff673c524528ecaca01bb11466faf4f1.jpg)














