Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Jenis Hari Raya Galungan di Bali dan Perbedaannya

3 Jenis Hari Raya Galungan di Bali dan Perbedaannya
Ilustrasi orang akan melakukan upacara Galungan (commons.wikimedia.org/Evan Silver)
Intinya Sih
  • Galungan dirayakan setiap 210 hari pada Rabu Kliwon wuku Dungulan, menandai kemenangan dharma melawan adharma dengan simbol Dewa Indra dan Mayadenawa.
  • Galungan Nadi pertama kali dirayakan tahun 804 saka, bertepatan dengan purnama sasih Kapat, menjadikannya perayaan meriah yang dipercaya diberkahi Sanghyang Ketu.
  • Galungan Nara Mangsa terjadi saat Galungan bertepatan dengan Tilem sasih Kapitu atau Kasanga, di mana umat Hindu mengganti tumpeng dengan caru nasi cacah bercampur keladi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Gianyar, IDN Times - Selamat Hari Raya Galungan untuk kamu yang beragama Hindu ya. Galungan memiliki sebutan Rerahinan Gumi. Artinya, semua umat wajib dalam melaksanakan Galungan.

Ketut Wiana dalam bukunya berjudul Yadnya dan Bhakti dari Sudut Pandang Hindu menuliskan ada berbagai sumber kepustakaan lontar yang menyebutkan keberagaman perayaan Galungan.

Melalui sumber lontar dan tradisi, sebenarnya ada tiga jenis Hari Raya Galungan. Apa saja itu? Berikut penjelasan selengkapnya.

Table of Content

1. Galungan

1. Galungan

Ilustrasi masyrakat Bali sedang sembahyang (unsplash.com/ Wisnu Widjojo)
Ilustrasi masyrakat Bali sedang sembahyang (unsplash.com/ Wisnu Widjojo)

Lontar Sundarigama menuliskan Buda Kliwon Dunguran ngaran Galungan. Kalimat itu artinya bahwa Galungan dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jika dihitung, Galungan dirayakan setiap 210 hari atau sekitar 6 bulan sekali lebih beberapa hari. 

Hari Raya Galungan ini wajib dilaksanakan oleh umat Hindu, sebagai perayaan atas kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan).

Simbol dharma adalah Dewa Indra, sedangkan adharma adalah Mayadenawa. Mayadenawa adalah seorang raja yang dikisahkan tidak percaya agama dan keutamaan upacara agama.

2. Galungan Nadi

ilustrasi bulan purnama (unsplash.com/@Ganapathy Kumar)
ilustrasi bulan purnama (unsplash.com/@Ganapathy Kumar)

Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama yang dirayakan umat Hindu di Bali disebut Galungan Nadi. Hari Raya Galungan Nadi jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) Oktober tahun 804 saka (882 masehi).

Lontar itu juga menuliskan perayaan Galungan Nadi seperti berada di Indra Loka, surga atau tempat berstana Dewa Indra. Perumpamaan itu menandakan bahwa perayaan Galungan Nadi begitu meriah.

Perayaan ini sangat meriah karena bertepatan dengan Purnama, sebagai keyakinan diberkahi oleh Sanghyang Ketu atau Dewa Kecemerlangan. Sehingga Galungan yang bertepatan dengan purnama disebut Galungan Nadi. Ini jarang terjadi, dan kemungkinan datang sekitar 10 tahun sekali.

3. Galungan Nara Mangsa

Potret parade Ogoh-ogoh di Bali (IDN Times/Dewi Suci Rahayu)
Potret parade Ogoh-ogoh di Bali (IDN Times/Dewi Suci Rahayu)

Galungan Nara Mangsa terjadi saat perayaannya bertepatan dengan Tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Lontar Sundarigama menuliskan apabila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem, dan bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, maka disebut Galungan Nara Mangsa.

Jika Galungan bertepatan dengan sasih kapitu maupun kasanga, maka yang turun bukanlah dewa tetapi bhuta kala. Pada Galungan Nara Mangsa, umat Hindu dilarang mempersembahkan tumpeng Galungan. Umat Hindu menggantinya dengan haturan caru berupa nasi cacah bercampur keladi.

Gimana, kamu sudah tahu jenis Hari Raya Galungan di Bali, atau baru tahu? Sekali lagi selamat merayakan Galungan!

FAQ Seputar Jenis Hari Raya Galungan di Bali

Mengapa pada Galungan Nara Mangsa umat Hindu dilarang menggunakan tumpeng dan wajib menggantinya dengan nasi cacah keladi?

Secara filosofis, tumpeng Galungan merupakan simbol persembahan suci (banten) kepada para Dewa-Dewi yang turun membawa berkah kebaikan (dharma). Namun, karena Galungan Nara Mangsa bertepatan dengan Tilem (bulan mati) pada sasih tertentu yang diyakini sebagai waktu turunnya para Bhuta Kala (kekuatan alam negatif/adharma), bentuk persembahannya pun disesuaikan. Haturan caru berupa nasi cacah bercampur keladi berfungsi sebagai ritual nyomia—yaitu menenangkan, menetralisir, dan memberikan "makanan" kepada kekuatan Bhuta Kala tersebut agar tidak mengganggu kedamaian manusia dan alam semesta.

Apakah rangkaian persiapan menjelang Galungan Nadi (seperti Penampahan dan Penyajaan) berbeda dengan Galungan biasa?

Secara esensi ritual, tahapan harinya tetap sama (meliputi Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan). Namun, karena Galungan Nadi dipercaya sebagai hari yang sangat diberkahi oleh Sanghyang Ketu dan auranya digambarkan seindah surga Indra Loka, umat Hindu di Bali biasanya menggelar persiapan dengan jauh lebih meriah, membuat dekorasi penjor yang lebih megah, serta menghaturkan kuantitas atau jenis sarana upakara yang lebih utama dibanding Galungan biasa.

Jika Galungan Nara Mangsa jatuh tepat pada Tilem Sasih Kesanga, bagaimana hubungannya dengan Hari Raya Nyepi?

Tilem Sasih Kesanga merupakan momen krusial karena merupakan hari diadakannya upacara Tawur Agung Kesanga dan pawai Ogoh-ogoh, yang keesokan harinya langsung diikuti oleh Hari Raya Nyepi. Jika siklus kalender Bali menunjukkan terjadinya Galungan Nara Mangsa pada hari tersebut, umat Hindu akan melaksanakan dua esensi besar sekaligus dalam satu waktu: merayakan kemenangan rohani Galungan di pagi hari, sekaligus melaksanakan ritual pembersihan alam (pangerupukan) menjelang Nyepi di sore harinya.

Apakah perayaan Hari Raya Kuningan setelah Galungan Nadi juga disebut sebagai "Kuningan Nadi"?

Tidak ada istilah baku "Kuningan Nadi" dalam teks-teks lontar utama seperti halnya Galungan Nadi. Namun, karena Hari Raya Kuningan jatuh tepat 10 hari setelah Galungan (pada Sabtu Kliwon wuku Kuningan), kemeriahan dan getaran spiritual yang dibawa dari perayaan Galungan Nadi yang super langka tersebut secara otomatis akan ikut berimbas pada pelaksanaan upacara Kuningan yang menyertainya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Ni Komang Yuko Utami
Irma Yudistirani
3+
Ni Komang Yuko Utami
EditorNi Komang Yuko Utami

Latest News Bali

See More