Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Peternak Ayam di Tabanan Tertekan, Harga Jual Turun Tapi Pakan Naik

Peternak Ayam di Tabanan Tertekan, Harga Jual Turun Tapi Pakan Naik
ilustrasi ternak ayam (magnific.com/tawatchai07)
Intinya Sih
  • Harga ayam hidup di Tabanan turun dari Rp22 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram akibat pasokan melimpah dan daya serap pasar yang rendah.
  • Kenaikan harga pakan hingga mendekati Rp500 ribu per sak membuat biaya produksi meningkat, menekan margin keuntungan peternak hingga sebagian mulai merugi.
  • Harga daging ayam di pasar tradisional tetap stabil sekitar Rp40 ribu per kilogram, memunculkan harapan agar pemerintah turun tangan menstabilkan harga di tingkat peternak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tabanan, IDN Times - Peternak ayam di Kabupaten Tabanan tengah menghadapi tekanan dari dua arah yaitu biaya produksi dan penghasilan. Adapun tekanan penghasilan berupa menurunnya harga jual ayam hidup dari Rp22 ribu per kilogram menjadi Rp15 ribu per kilogram. Sementara tekanan dari biaya produksi datang dari harga pakan yang naik dari Rp470 ribu per sak menjadi mendekati Rp500 ribu per sak.

Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kabupaten Tabanan, I Wayan Sukasana, mengatakan penurunan harga ayam terjadi dalam dua pekan terakhir. "Penurunan harga jual ini di bawah harga ideal untuk menutupi biaya produksi," ujarnya, Jumat (12/6/2026)

1. Anjloknya harga ayam karena pasokan di pasaran melimpah

ilustrasi kandang ternak ayam modern
ilustrasi kandang ternak ayam modern (pexels.com/Mark Stebnicki)

Sukasana menjelaskan, anjloknya harga jual ayam ini diduga karena melimpahnya pasokan ayam di pasaran. Produksi yang tinggi tidak diimbangi dengan daya serap pasar, sehingga harga di tingkat peternak terus tertekan.

"Situasi semakin sulit karena pada saat harga jual menurun, harga pakan pabrikan justru mengalami kenaikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 470 ribu per sak, harga pakan naik menjadi sekitar Rp495 ribu per sak pada Mei dan kini mendekati Rp500 ribu per sak," ujarnya.

2. Margin keuntungan peternak semakin menipis

ilustrasi hewan ternak ayam (pexels.com/magda-ehlers)
ilustrasi hewan ternak ayam (pexels.com/magda-ehlers)

Tertekannya peternak dari dua arah ini menyebabkan margin keuntungan semakin menipis. Menurutnya harga jual ayam saat ini berada di bawah harga yang ideal untuk menutupi biaya produksi. Disisi lain kenaikan pakan yang menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi menyebabkan peternak harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk memelihara ayam.

"Dengan kondisi harga jual yang rendah, peternak harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan usaha. Margin keuntungan semakin menipis. Bahkan ada peternak yang mulai merugi," ujar Sukasana.

3. Harga daging ayam di pasaran masih stabil

ternak ayam broiler(instagram.com/urbanina.id)
ternak ayam broiler(instagram.com/urbanina.id)

Turunnya harga jual ayam hidup ditingkat peternak ternyata belum mempengaruhi harga jual ayam potong di tingkat konsumen. Berdasarkan hasil monitoring harga yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tabanan, pada minggu kedua bulan Juni, harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional masih bertahan dikisaran Rp40 ribu per kilogram.

Perbedaan yang cukup lebar antara harga jual di kandang dan harga jual di pasar ini menimbulkan pertanyaan di kalangan peternak. Mereka berharap pemerintah dapat melakukan intervensi dan mencari solusi untuk menstabilkan harga, sehingga usaha peternakan rakyat tetap bisa bertahan di tengah tingginya biaya produksi.

Apabila kondisi ini terus berlangsung, peternak khawatir banyak usaha peternakan skala rakyat yang kesulitan mempertahankan operasionalnya, yang pada akhirnya dapat berdampak pada pasokan daging ayam di masa mendatang.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Bali

See More