Peralatan MRI Rusak, RSUD Tabanan Terkendala Anggaran Pengadaan Alat

- Alat MRI RSUD Tabanan rusak berat sejak 1,5 tahun lalu, membuat seluruh pasien yang butuh pemeriksaan harus dirujuk ke rumah sakit lain setiap harinya.
- Pihak RSUD Tabanan telah berulang kali mengajukan pengadaan alat MRI baru melalui berbagai sumber pendanaan, namun hingga kini belum terealisasi karena keterbatasan status dan regulasi.
- Pengadaan alat MRI baru diperkirakan menelan biaya sekitar Rp40 miliar, sehingga RSUD Tabanan mempertimbangkan skema kerja sama operasional dengan pihak ketiga sebagai solusi realistis.
Tabanan, IDNTimes-Alat pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang dimiliki RSUD Tabanan mengalami kerusakan sejak 1,5 tahun lalu. Kerusakan ini menyebabkan pasien yang memerlukan pemeriksaan MRI dirujuk ke RS lain.
Direktur Utama RSUD Tabanan, dr I Gede Sudiarta menjelaskan alat MRI yang dimiliki ini merupakan bantuan Kementerian Kesehatan pada 2009 saat wabah flu burung. Setelah digunakan lebih dari satu dekade, alat ini rusak beberapa kali dan diperbaiki. Namun saat ini tidak dapat difungsikan lagi.
"Saat ini alatnya sudah rusak berat, sehingga terpaksa komponennya dibongkar dan dilelang," ujarnya, Selasa (9/10/2026).
1. Rata-rata 2 hingga 3 pasien membutuhkan pemeriksaan MRI setiap harinya di RSUD Tabanan
Sudiarta melanjutkan kerusakan rusaknya menyebabkan RSUD Tabanan tidak lagi memiliki layanan pemeriksaan MRI. Hal ini berdampak pada pelayanan pasien.
"Seluruh pasien yang membutuhkan pemeriksaan MRI kini harus menjalani rujukan parsial ke rumah sakit lain," ujarnya.
Ia melanjutkan, saat alat masih beroperasi, rata-rata pasien yang membutuhkan layanan ini sebanyak 2-3 pasien per hari. Jumlah ini belum termasuk rujukan dari fasilitas kesehatan lain.
2. RSUD Tabanan ajukan peralatan baru
Agar layanan MRI ini bisa diadakan, RSUD Tabanan berupaya melakukan pengadaan alat baru dengan memasukkan usulan di berbagai sumber pendanaan termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK). "Pihak manajemen sudah melakukan pengajuan berulang kali, namun belum terealisasi," ujarnya.
RSUD Tabanan juga sempat mengupayakan pengadaan melalui program Strengthening Indonesia's Healthcare Referral Network (SIHREN) dari Kementerian Kesehatan. Namun, peluang tersebut tertutup karena RSUD Tabanan berstatus rumah sakit strata madya. Sementara bantuan MRI dalam program itu hanya diperuntukkan bagi rumah sakit strata utama.
3. Perlu anggaran besar untuk pengadaan MRI

Selain keterbatasan regulasi, kendala terbesar yang dihadapi RSUD Tabanan untuk pengadaan alat MRI adalah adalah anggaran. Untuk memiliki alat MRI dengan spesifikasi lebih memadai, RSUD Tabanan membutuhkan alat minimal berkekuatan 1,2 Tesla, jauh di atas alat lama yang hanya 0,5 Tesla.
"Estimasi biaya pengadaan mencapai sekitar Rp40 Miliar, jadi anggaran sangat besar," tegasnya.
Menurut Sudiarta, nilai tersebut cukup berat jika harus mengandalkan APBD, mengingat masih banyak kebutuhan operasional rumah sakit yang harus dipenuhi, termasuk pengadaan obat-obatan.
Solusinya, RSUD Tabanan kini membuka peluang pengadaan MRI melalui skema kerja sama operasional (KSO) dengan pihak ketiga. Skema ini dinilai lebih realistis untuk pengadaan alat kesehatan berteknologi tinggi yang membutuhkan biaya perawatan besar. “Dengan KSO, perawatan menjadi tanggung jawab rekanan. Model ini cukup efektif untuk alat canggih seperti MRI, CT Scan, hingga cathlab,” katanya.
1















![[QUIZ] 3 Sifat Triguna, Kamu Mirip Tokoh Ini di Drakor Teach You A Lesson](https://image.idntimes.com/post/20260607/hhrbvyexcaaattt_7db46706-d928-4378-a4a1-24654cab8dda.jpg)


