Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Komika Berdarah Italia Christian Giacobbe Melawak untuk Edukasi WNA

Kab. Badung
Komika Berdarah Italia Christian Giacobbe Melawak untuk Edukasi WNA
Stand-up Comedian berdarah Italia, Christian Giacobbe (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya Sih
  • Komika berdarah Italia Christian Giacobbe memakai pertunjukan Thursday Comedy Jam di Bali untuk mengingatkan WNA agar menghormati budaya dan masyarakat lokal Indonesia.
  • Chris menilai humor efektif membahas isu sensitif tanpa menggurui; ia juga berharap lebih banyak komedian Indonesia tampil berbahasa Inggris di hadapan wisatawan.
  • Setelah hampir sembilan tahun tinggal di Indonesia, Chris menekankan wisatawan perlu membalas keramahan warga dengan sopan santun, empati, serta menghormati adat dan budaya lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Badung, IDN Times - Akhir-akhir ini, masyarakat banyak disuguhkan kejadian wisatawan yang dinilai tidak menghormati budaya dan masyarakat lokal. Berbagai insiden yang terjadi di Bali menyorot perhatian publik dan memicu keresahan.

Situasi tersebut kemudian menjadi alasan seorang komedian Indonesia berdarah Italia, Christian Giacobbe mengambil peran mengingatkan warga negara asing (WNA) yang berkunjung ke Bali atau Indonesia melalui pertunjukan komedi, yang juga digemari oleh kebanyakan orang Indonesia. Salah satunya dilakukan dalam Thursday Comedy Jam, pertunjukan mingguan yang digelar oleh Bali Comedy Club.

Saat kalian menghadiri Thursday Comedy Jam, jangan harap banyak menemukan warga negara Indonesia, WNI yang hadir bisa dihitung jari. Kebanyakan tamunya merupakan WNA, ini bukan rasis atau semacamnya karena tujuan utama komedi ini juga menjadi pengingat kepada WNA yang memilih datang ke Indonesia bukan hanya menikmati keindahan alamnya, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk menghormati rumah yang telah menyambut mereka.

"Menghormati budaya lokal tidak seharusnya muncul hanya ketika terjadi kontroversi atau sorotan publik. Saya sangat mengagumi falsafah Indonesia, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Nilai ini tidak hanya relevan bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga merupakan prinsip universal bagi siapa pun yang tinggal atau berkunjung ke negara lain," jelasnya.

1. Komedian Indonesia dituntut bisa melawak dalam bahasa Inggris

Komedian Bali
Suasana Thursday Comedy Jam di Bali (IDN Times/Ayu Afria)

Christian Giacobbe, menyebutkan aktivitas komedi tersebut terbuka bagi public. Ia berharap menjadi ruang yang tepat untuk menyampaikan pesan tersebut.

Baginya, komedi memiliki kemampuan unik untuk membicarakan isu-isu sensitif tanpa menggurui, sekaligus mengundang orang untuk tertawa dan berpikir pada saat yang bersamaan. Apalagi komedi menjadi ciri khas Indonesia.

Rata-rata komedian yang tampil pun dengan keahlian bahasa Inggris. Hal ini yang juga menjadi kendala harapannya untuk lebih banyak memfasilitasi komedian Indonesia agar bersedia tampil.

Menurut Christian, situasi saat ini banyak komedian Indonesia yang justru lebih luwes melawak dengan menggunakan bahasa Indonesia. Komedi dalam bahasa Inggris bagi komedian Indonesia tentunya menjadi hal yang baru.

Namun ia berharap ke depannya banyak komedian Indonesia yang nantinya bersedia melawak di depan puluhan wisatawan menggunakan bahasa Inggris.

Di atas panggung, Chris memang dikenal lewat komedi observasional yang mengangkat perbedaan budaya antara Indonesia dan Eropa. Namun di balik humornya, ia menyelipkan pesan sederhana tentang rasa hormat, empati, dan pentingnya memahami budaya tempat seseorang berpijak.

Apalagi ia hampir 9 tahun tinggal di Indonesia. Chris mengaku tidak lagi memandang Indonesia sekadar sebagai tempat bekerja namun juga menjadi rumah keduanya.

"According to my passport, I'm still a foreigner. Tapi kalau lihat isi perut saya, saya sudah lebih nasi goreng daripada pasta. Dan setelah hampir sembilan tahun tinggal di Indonesia, saya sadar yang membuat saya bertahan di sini bukan cuma makanannya, tapi orang-orangnya. Indonesia gave me a second home," ujarnya.

2. Komedian harus mampu menerjemahkan kekayaan Indonesia disertai tanggung jawab moral

Komedian Bali
Suasana Thursday Comedy Jam di Bali (IDN Times/Ayu Afria)

Selama tinggal di Indonesia, stand-up comedian berdarah Italia tersebut tidak hanya tinggal di Bali namun juga ke Jakarta, Mojokerto dan lokasi lainnya. Menurut Chris, alasan jutaan wisatawan datang ke Indonesia bukan semata-mata karena pantai-pantai tropis atau matahari terbenam yang indah.

Indonesia menawarkan pengalaman yang jauh lebih kaya mulai dari cita rasa kuliner yang menjadi daya tarik dunia hingga bentang alam yang membentang dari pegunungan, sawah hijau, pantai, dan laut yang menjadi ikon pariwisata dunia.

Kendati demikian baginya kekayaan terbesar Indonesia justru tidak bisa diabadikan hanya melalui foto atau video, yakni keramahan. Keramahan merupakan alasan mengapa banyak wisatawan merasa ingin kembali ke Indonesia.

Orang asing tidak hanya datang sebagai pengunjung, tetapi sering kali diperlakukan layaknya keluarga. Karena itulah ia percaya setiap wisatawan juga memiliki tanggung jawab moral untuk membalas keramahan tersebut dengan sikap yang sama.

"Kalau ke Indonesia jangan cuma cari tempat yang Instagrammable. Cari juga cerita. Cari teman baru. Belajar bilang terima kasih, permisi, atau minimal enak banget. Trust me, itu jauh lebih berguna daripada hafal nama beach club. Don't just consume Indonesia, experience it," tegas Chris.

3. Pesan akan mudah disampaikan melalui humor

Komedian Bali
Suasana Thursday Comedy Jam di Bali (IDN Times/Ayu Afria)

Sebagai seorang komika, Chris memilih menyampaikan pesan tersebut melalui humor. Di berbagai kesempatan, ia kerap menutup materi stand-up-nya dengan satu kalimat yang selalu mengundang tawa penonton.

Chris mengaku hampir selalu menutup pembicaraan tentang Indonesia dengan satu kalimat yang mengundang tawa, tetapi sekaligus menjadi pengingat bagi sesama warga asing.

"Saya selalu bilang, jadilah bule yang baik dan sopan. Jangan jadi bule goblok. People always laugh when I say that. But honestly... I'm not really joking. Menjadi bule yang baik itu gratis. Senyum itu gratis. Bilang tolong dan terima kasih itu gratis. Menghormati adat dan budaya juga gratis. Kalau Indonesia sudah memberi kita begitu banyak kenangan indah, the least we can do is leave behind memories that make Indonesians happy they welcomed us," jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More