Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Food Waste Bali Menggunung, Sisa MBG dan Pariwisata Jadi Sorotan

Denpasar
3 min read
Food Waste Bali Menggunung, Sisa MBG dan Pariwisata Jadi Sorotan
Ilustrasi food waste. (Freepik.com/@freepik)
  • Sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis disebut menambah food waste di Bali; seorang mantan petugas SPPG Denpasar mencatat sisa menu masak sekitar 40–60 kilogram per hari.
  • PPLH Bali menilai pemborosan pangan dari rumah tangga serta sektor pariwisata memperbesar sampah organik, sehingga pemerintah didorong memperkuat gerakan makan secukupnya.
  • Sampah organik mencapai 70 persen karakter sampah Bali dan menghasilkan lindi tinggi; pengelolaannya dinilai perlu TPST khusus, pengolahan maggot, serta tidak lagi bergantung pada TPA.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Denpasar, IDN Times - Penanganan sampah organik di Bali hingga kini belum optimal. Jenis sampah ini didominasi sisa makanan atau food waste yang disebut meningkat sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan.

Direktur Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yuda Hariani, mengatakan sisa makanan dari program MBG menambah volume food waste di Bali. Menurutnya, penanganan sisa makanan tersebut saat ini dilakukan melalui kerja sama dengan pihak swakelola.

PPLH Bali juga meminta pemerintah mendorong gerakan tidak boros pangan untuk mengurangi sampah makanan. Menurut Catur, pemborosan pangan masih banyak terjadi di Indonesia dan menempatkan negara ini sebagai salah satu penghasil sampah pangan terbesar di dunia.

"Nambah. Nambah banget itu (sisa makanan MBG). Karena sisa MBG cukup banyak," jelasnya.

  1. 1. Makanan sisa di SPPG mencapai 60 kilogram per hari

    IMG_20250722_133510.jpg
    Ilustrasi sisa ompreng MBG. (IDN Times/Putra F. D. Bali Mula)

    Seorang mantan petugas di salah satu SPPG di Denpasar yang enggan disebutkan namanya mengatakan sisa makanan dari keseluruhan menu yang dimasak mencapai sekitar 60 kilogram per hari. Jumlah tersebut belum termasuk makanan dalam ompreng yang tidak dihabiskan anak-anak sekolah dan kemudian disantap para relawan.

    Menu yang disiapkan terdiri dari makanan pokok, protein hewani, protein nabati, sayuran, dan buah-buahan. Menu tersebut juga kerap dilengkapi susu. Menurutnya, makanan dimasak oleh koki bersertifikat dan didistribusikan sesuai jadwal penerima manfaat dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas.

    "Selalu sesuai dan tidak pernah kurang. Kalau tersisa pasti tersisa karena kesukaan anak-anak berbeda-beda. Kalaupun tersisih sehari bisa jumlah makanan tersisa keseluruhan menu bisa mencapai 40-60 kg per hari," jelasnya.

  2. 2. Permasalahan sampah organik di Bali dipicu boros pangan

    Ilustrasi sampah sisa makanan (commons.wikimedia.org/)
    Ilustrasi sampah sisa makanan (commons.wikimedia.org/)

    Direktur Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yuda Hariani, mengatakan pemerintah perlu memperkuat gerakan tidak boros pangan di masyarakat. Menurutnya, perilaku tersebut turut menyumbang sampah organik yang didominasi food waste, selain sampah organik dari kegiatan upacara.

    Menurut Catur, pemborosan pangan berlawanan dengan upaya menjaga ketahanan pangan. Selain dari rumah tangga, sampah pangan juga banyak dihasilkan sektor pariwisata, seperti hotel, restoran, dan kafe.

    "Masyarakat diajak makan secukupnya ya. Gerakan itu yang harus dimulai," jelasnya.

    Menurutnya, kondisi tersebut belum diimbangi sistem penanganan sampah organik yang tepat. Bali, terutama Kota Denpasar, dinilai perlu memiliki TPST khusus sampah organik agar tidak seluruhnya dibuang ke TPA. Sampah pangan juga dapat diolah menggunakan maggot, sementara pengelolaan sampah organik perlu diterapkan mulai dari tingkat rumah tangga.

  3. 3. Penanganan sampah organik tidak bisa lagi ke TPA

    air lindi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung Kota Bandar Lampung mencemari pemukiman warga Kelurahan Keteguhan Kecamatan Telukbetung Timur Kota Bandar Lampung. (Dok. WALHI Lampung).
    air lindi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung Kota Bandar Lampung mencemari pemukiman warga Kelurahan Keteguhan Kecamatan Telukbetung Timur Kota Bandar Lampung. (Dok. WALHI Lampung).

    Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, mengatakan Bali memiliki karakteristik sampah yang berbeda dengan daerah lain. Sekitar 70 persen sampah di Bali merupakan sampah organik yang menghasilkan lindi dalam jumlah cukup tinggi.

    Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pengelolaan sampah di Bali. Berdasarkan data terakhir, terdapat sekitar 33 ribu hotel, restoran, dan kafe di Badung sehingga penanganan sampah organik berupa sisa makanan tidak bisa lagi hanya mengandalkan TPA.

    "Karena organik itu diurai menghasilkan lindi. Ini PR yang harus kita tangani. Kalau kita lihat lagi 35% dari mana sisa makanan? Jadi karena banyaknya hotel, restoran yang ada di wilayah Bali," jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More