Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ketergantungan Karangasem pada Galian C Disorot DPRD

Ketergantungan Karangasem pada Galian C Disorot DPRD
I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok. istimewa)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • DPRD Karangasem menyoroti ketergantungan daerah pada galian C yang dinilai berisiko terhadap lingkungan dan menghambat pembangunan berkelanjutan.
  • Pemerintah didorong mengalihkan sumber pendapatan ke sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang lebih ramah lingkungan serta sesuai tren wisata alami.
  • Perbaikan sistem perizinan dianggap penting untuk menciptakan kepastian hukum, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing Karangasem di Bali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Karangasem, IDN Times Bali - Ketergantungan Kabupaten Karangasem terhadap aktivitas galian C mulai disorot sebagai potensi titik lemah pembangunan daerah. Sektor yang selama ini jadi andalan ekonomi itu dinilai berisiko menghambat peralihan menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Ketua Pansus III DPRD Karangasem, Wayan Sumatra, menilai praktik pertambangan mineral bukan logam dan batuan (MBLB) terlalu dominan tanpa pengawasan ketat. Menurutnya, orientasi eksploitasi sumber daya alam berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang yang lebih besar dibanding manfaat ekonomi saat ini.

“Kalau terus dibiarkan, kerusakan lingkungan, infrastruktur, hingga dampak sosialnya akan jauh lebih mahal untuk dipulihkan,” ujarnya, Jumat, (24/4/2026).

1. Pemerintah Karangasem harus berani ubah sumber pendapatan dari sumber daya tidak terbarukan

IMG-20260422-WA0198.jpg
I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok.IDN Times/Istimewa)

Sumatra menegaskan, Karangasem perlu segera keluar dari pola pembangunan lama yang bergantung pada eksploitasi sumber daya tak terbarukan. Ia mendorong pemerintah daerah mulai mengarahkan pendapatan melalui sektor yang lebih produktif dan ramah lingkungan.

Ia juga menyoroti praktik penjualan material pasir yang dinilai belum memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah. Selama ini, pendekatan yang digunakan masih berfokus pada volume, bukan kualitas.

“Pasir itu aset, bukan komoditas murah. Harus dikelola dengan bijak supaya manfaatnya optimal tanpa merusak lingkungan,” katanya.

2. Pariwisata dan ekonomi kreatif jadi peluang sumber pendapatan baru

IMG-20260422-WA0201.jpg
I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok.IDN Times/Istimewa)

Di tengah tekanan terhadap sektor tambang, peluang justru terbuka di sektor lain seperti pariwisata dan ekonomi kreatif. Karangasem dinilai punya potensi besar, terutama dengan tren wisata yang mulai bergeser ke destinasi yang lebih tenang dan alami.

Selain itu, meningkatnya tren kerja jarak jauh (remote working) juga bisa menjadi peluang baru bagi daerah. “Sekarang banyak orang mencari tempat tinggal dengan kualitas hidup lebih baik. Karangasem punya itu, tinggal bagaimana disiapkan dengan serius,” imbuhnya.

3. Fokus pada perbaikan sistem perizinan

IMG-20260422-WA0202.jpg
I Wayan Sumatra (topi merah) saat sidak Pansus DPRD Klungkung terkait perizinan. (Dok.IDN Times/Istimewa)

Menurutnya, pemerintah saat ini harusnya lebih fokus pada perbaikan sistem perizinan agar lebih tertib dan memberi kepastian hukum bagi investor. “Kalau perizinan jelas, iklim investasi juga sehat. Investor tidak akan ragu masuk,” tegasnya.

Meski memiliki potensi, Sumatra mengakui realisasi investasi di Karangasem masih tertinggal dibanding daerah lain di Bali. Ia mengingatkan, tanpa pembenahan regulasi dan peningkatan kenyamanan berusaha, daerah ini bisa kalah bersaing dalam menarik investor.

“Kalau tidak ada kepastian dan kesiapan, investor pasti pilih daerah lain. Ini yang harus segera dibenahi,” tandasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Bali

See More