Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara Desa Bengkel Tabanan Ubah Mindset Masyarakat Soal Pilah Sampah
Pengolahan sampah di Desa Bengkel Tabanan (Dok.IDNTimes/Humas Desa Bengkel)
  • Desa Bengkel butuh enam tahun membangun kesadaran warga memilah sampah dari sumber, melalui sosialisasi, edukasi, insentif, hingga sanksi sesuai SE Bupati Tabanan tentang pengelolaan sampah berbasis sumber.
  • Setelah layanan angkut ke TPA Mandung dihentikan, desa membentuk bank sampah di tiap banjar dan melibatkan ibu-ibu adat untuk mengedukasi warga agar memilah serta menabung hasil sampah plastik.
  • Pemberian insentif kesehatan dan pendidikan meningkatkan partisipasi warga hingga 80 persen rumah tangga sadar pilah sampah, sementara TPS3R desa menghasilkan pendapatan sekitar Rp22 juta per tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDN Times - Salah satu desa di Tabanan yang benar-benar siap menerapkan pengolahan sampah dari sumber adalah Desa Bengkel di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Sehingga, saat Tabanan menerapkan Surat Edaran (SE) Bupati Tabanan Nomor 07/DLH/2026 tentang Percepatan Pelaksanaan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, Desa Bengkel tidak merasa kesulitan dalam mengolah sampahnya.

Namun, usaha ini tidaklah instan. Pemerintah desa Bengkel menghabiskan setidaknya enam tahun sehingga masyarakatnya sadar mengolah sampah dari sumber. Berbagai cara dilakukan desa dari sosialisasi, edukasi, memberikan insentif sampai akhirnya sanksi. Saat ini Desa Bengkel selain sukses mengelola sampahnya, juga mendapatkan pemasukan dari pengolahan sampah.

"Hanya saja diakui belum 100 persen masyarakat kami yang sadar mengolah sampah dari sumber. Saat ini sekitar 80 persen sudah sadar," ujar Perbekel Desa Bengkel, Nyoman Wahya Biantara, Senin (25/6/2026).

1. Desa Bengkel awalnya membuka layanan pungut sampah

Pengolahan sampah di Desa Bengkel Tabanan (Dok. Humas Desa Bengkel)

Pada tahun 2019, Desa Bengkel membuka layanan pungut sampah ke TPA Mandung. Kala itu ada tiga desa yang dilayani yaitu Desa Bengkel, Desa Pangkung Tibah, dan Desa Sudimara. Tetapi dalam pelaksanaannya, banyak kendala mulai dari TPA Mandung yang kadang tidak beroperasi karena terbakar dan alat berat rusak hingga kekurangan tenaga.

"Saat TPA Mandung berhenti beroperasi sementara, pelanggan banyak yang protes. Sebab, sampahnya tidak diangkat padahal mereka sudah bayar," ujar Wahya Biantara.

Wahya Biantara kemudian turun ke lokasi untuk melihat bagaimana sistem pengolahan sampah angkut beroperasi. Dari sini ia menilai, langkah ini tidak efektif dalam menangani sampah.

"Setiap bulan itu ada 90 ton sampah di 3 desa yang diangkut ke TPA Mandung. Selain itu tenaga kami terbatas. Satu saja ijin, layanan bisa tidak jalan. Jadi, desa memutuskan untuk menghentikan layanan ini pada tahun 2020," ujarnya.

Tidak lama atau di tahun yang sama setelah menghentikan layanan angkut sampah, Desa Bengkel langsung mengadakan pelatihan pengolahan sampah organik. Ada 50 kader yang dilatih dan diberikan tong komposter gratis untuk diterapkan di masing-masing dapur rumah tangga.

"Namun ketika dicek penerapannya, ternyata tidak efektif. Kader yang kami latih memang sadar memilah sampah, tetapi tidak dengan keluarganya. Tong komposter yang harusnya untuk sampah organik malah jadi tempat sampah campur," jelas Wahya Biantara.

2. Desa Bengkel mendirikan bank sampah sambil sosialisasi

Sosialisasi pengolahan sampah dari sumber di Desa Bengkel (Dok.IDNTimes/Humas Desa Bengkel)

Wahya Biantara kemudian kembali memikirkan solusi agar menemukan solusi tepat menangani sampah di Desa Bengkel. Pada satu kesempatan ia melihat pembentukan Bank Sampah di Desa Pejaten. "Saya melihat cara pengolahan sampah di Bank Sampah adalah solusi yang tepat. Sehingga Desa Bengkel juga langsung membuat bank sampah," katanya.

Pembentukan bank sampah diiringi dengan edukasi kepada masyarakat. Desa Bengkel bekerja sama dengan Desa Adat mengumpulkan ibu-ibu adat dan memberikan sosialisasi mengenai pemilahan sampah. Sampah-sampah plastik yang dikumpulkan akan ditimbang dan dibeli Bank Sampah dan uangnya dimasukkan ke dalam tabungan. "Di setiap banjar itu ada bank sampah yang mengambil sampah terpilah yang kemudian dibawa ke TPS3R," kata Wahya Biantara.

Diakui, awal pelaksanaannya hanya 10 orang datang untuk menghadiri edukasi dan sosialisasi. Lama kelamaan karena melihat ada manfaat dari sampah ini, langganan bank sampah mencapai 190 dapur rumah tangga.

3. Desa Bengkel memberikan insentif kepada masyarakatnya

Sosialisasi pengolahan sampah dari sumber di Desa Bengkel (Dok.IDNTimes/Humas Desa Bengkel)

Dalam dua tahun penerapan pemilahan sampah dari sumber di Desa Bengkel, angka langganan di bank sampah stagnan diangka 195 dapur rumah tangga. Padahal di Desa Bengkel ada 495 dapur rumah tangga. Desa Bengkel kemudian mencari cara untuk meningkatkan partisipasi ini. Salah satunya dengan memberikan intensif pendidikan dan kesehatan di masyarakat.

Wahya Biantara menjelaskan warga yang mengikuti layanan bank sampah mendapat fasilitas berobat gratis lima kali dalam setahun dengan subsidi Rp50 ribu per orang. Selain itu, anak usia SD hingga SMP juga diberikan subsidi pendidikan Rp25 ribu per anak. “Kami berkoordinasi dokter di desa hingga sekolah dasar dan SMP,” katanya.

Hasilnya, tingkat partisipasi melonjak dari 195 dapur rumah tangga menjadi 320 dapur rumah tangga.

4. Desa Bengkel terapkan sanksi

Pengolahan sampah di Desa Bengkel Tabanan (Dok.IDNTimes/Humas Desa Bengkel)

Selama tiga tahun pelaksanaanya, ternyata partisipasi masyarakat mentok di 320 an dapur rumah tangga. Padahal di Desa Bengkel ada 495 dapur rumah tangga. Sementara edukasi, sosialisasi dan insentif sudah diterapkan. Sehingga Desa Bengkel kemudian mengambil langkah penerapan sanksi. Adapun sanksinya adalah tidak bisa mengurus keperluan administrasi di desa jika tidak melampirkan kartu langganan sampah dari desa.

"Sanksi ini kemudian meningkatkan jumlah langganan dari 320 menjadi 360," kata Wahya Biantara.

Adapun biaya langganan yang diterapkan oleh Desa Bengkel bervariasi mulai dari Rp15 ribu hingga Rp500 ribu. Dari pengolahan sampah ini baik organik hingga anorganik, TPS3R di Desa Bengkel bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. "Total pemasukan TPS 3R saat ini kurang lebih Rp22 juta di mana 20 persennya dikembalikan ke APBDes," ujar Wahya Biantara.

Saat ini dari 495 dapur rumah tangga di Desa Bengkel sekitar 80 persennya atau 360 dapur rumah tangga sudah sadar memilah sampah. Diakui Wahya Biantara, masih ada masyarakat yang memilih layanan buang sampah campuran ke TPA Mandung.

"Secara bertahap untuk menyadarkan masyatakat. Tidak bisa instan. Desa kami saja perlu waktu 6 tahun," paparnya.

Editorial Team