Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tradisi Pembuatan Tedung dari Paksebali Bertahan Menembus Zaman
Tedung buatan Suwastika. (Dok. BRI Denpasar)

  • Tradisi pembuatan tedung di Paksebali tetap bertahan berkat konsistensi Anak Agung Gede Anom Suwastika yang meneruskan usaha keluarga setelah pensiun dari sektor perhotelan.
  • Permintaan tedung meningkat tajam menjelang Hari Raya Galungan, namun para perajin menghadapi kendala bahan baku seperti kayu dan bambu, terutama saat musim hujan.
  • Suwastika memanfaatkan fasilitas KUR BRI senilai Rp100 juta dan aplikasi BRImo untuk menjaga kelancaran produksi serta mempermudah transaksi dan pencatatan keuangan usahanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Klungkung, IDN Times Tradisi pembuatan tedung upacara di kawasan Puri Satria Kanginan, Paksebali, Klungkung, masih bertahan di tengah tantangan bahan baku dan tenaga kerja. Salah satu perajin yang konsisten menjaga usaha ini adalah Anak Agung Gede Anom Suwastika. Ia meneruskan usaha warisan keluarganya.

Pasca pensiun dari sekotor perhotelan sekitar empat tahun lalu, Suwastika kembali menekuni usaha tedung yang dirintis keluarganya. Pengalaman melihat sang ibu membuat tedung sejak kecil menjadi bekal utama dalam menjalankan usaha hingga saat ini.

“Dari kecil memang sudah lihat ibu membuat tedung. Jadi basic-nya memang dari keluarga,” ujarnya dalam keterangan yang diterima IDN Times pada Sabtu (20/6/2026).

1. Produksi tedung meningkat saat hari raya

Tedung buatan Suwastika. (Dok. BRI Denpasar)

Di rumah produksinya yang berada di lingkungan Puri, Suwastika kini lebih banyak menangani proses menjarit dan merangkai tedung. Sementara sebagian bahan baku dan rangka, disiapkan pekerja lainnya agar proses produksi berjalan efisien.

Dalam kondisi normal, ia mampu menghasilkan sekitar 20 tedung ukuran satu meter setiap hari. Menjelang Hari Raya Galungan, jumlah produksi meningkat menjadi 40 hingga 50 tedung per hari karena peningkatan permintaan. “Kalau mendekati Galungan biasanya kewalahan karena permintaan naik terus. Kadang terkendala bahan baku,” katanya.

2. Bahan baku menjadi tantangan utama perajin

Tedung buatan Suwastika. (Dok. BRI Denpasar)

Tedung yang diproduksi memiliki beragam ukuran, mulai 90 sentimeter hingga satu seperempat meter dengan harga yang berbeda. Ukuran satu meter dengan kualitas halus menjadi produk yang paling banyak diminati pembeli. Harga jualnya bervariasi, mulai Rp65 ribu untuk ukuran 90 sentimeter, harga Rp85 ribu ukuran satu meter, hingga Rp125 ribu ukuran satu seperempat meter.

Permintaan tedung tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di Denpasar dan sekitarnya, seperti Pasar Sanglah hingga Pasar Kreneng dan Pasar Kumbasari. Dalam kondisi normal, pesanan dapat mencapai sekitar 200 tedung setiap dua hingga tiga minggu. Jumlah itu bisa meningkat dua kali lipat saat musim hari raya.

Meski permintaan pasar terus terjaga, para perajin menghadapi tantangan dalam memperoleh bahan baku, terutama kayu dan bambu untuk rangka tedung. Kondisi tersebut semakin sulit saat musim hujan karena ketersediaan bahan menjadi lebih terbatas.

“Kalau musim hujan lebih susah lagi cari bahan,” ujarnya.

3. KUR BRI dan BRImo dukung pengembangan usaha

Ilustrasi BRImo Bank BRI (Dok. BRI)

Untuk menjaga kelancaran produksi, Suwastika memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI senilai Rp100 juta. Dana tersebut digunakan untuk menambah stok bahan baku sehingga kebutuhan produksi tetap terpenuhi saat permintaan meningkat.

Selain pembiayaan, transaksi usaha kini semakin mudah berkat penggunaan aplikasi BRImo. Sebagian besar pelanggan melakukan pembayaran melalui transfer, termasuk pembayaran uang muka sebelum barang dikirim kepada pembeli.

“Bantuan KUR sangat membantu untuk modal beli bahan dulu sebelum diputar kembali,” katanya.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan BRI terus mendorong usaha berbasis tradisi agar tetap berkembang dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Menurutnya, digitalisasi melalui BRImo juga membantu pelaku usaha dalam transaksi, pembelian bahan baku, hingga pencatatan keuangan yang lebih tertata.

“Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha nantinya juga lebih mudah mengakses kredit perbankan,” katanya.

Editorial Team

Related Article